Empat bank pelat merah se-Indonesia mencatatkan pertumbuhan total aset yang solid sepanjang 2025. Dinamika persaingan di antara PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) semakin menarik, dengan salah satu bank BUMN masih mempertahankan posisi sebagai pemilik aset terbesar.
Bank Mandiri unggul dengan total aset konsolidasi mencapai Rp2.829,9 triliun di akhir tahun lalu, naik 16,5% dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp2.427,2 triliun. Pencapaian ini menjadikannya sebagai bank dengan aset terbesar di antara keempat bank besar tersebut.
Kinerja Keuangan Empat Bank Jumbo Nasional
Pertumbuhan aset yang tinggi tidak serta merta menjamin laba yang melonjak. Namun, BMRI berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp56,3 triliun pada 2025, naik tipis 0,93% dibandingkan Rp55,78 triliun di tahun sebelumnya. Meski begitu, angka ini tetap menunjukkan konsistensi kinerja perusahaan dalam menjaga profitabilitas.
Penyaluran kredit BMRI juga mengalami peningkatan yang sehat. Total kredit yang disalurkan mencapai Rp1.895 triliun atau naik 13,4% secara tahunan. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) mencatatkan pertumbuhan lebih agresif, yaitu 23,9% YoY menjadi Rp2.106 triliun. Dana murah yang terkumpul mencapai Rp1.431 triliun, naik 12,6% dibandingkan tahun sebelumnya.
1. Strategi Pembiayaan Mandiri yang Terukur
Salah satu kunci pertumbuhan kredit BMRI adalah penguatan ekosistem pembiayaan yang selektif dan terukur. Kredit UMKM Mandiri tumbuh 4,88% YoY di tengah perlambatan pertumbuhan industri secara keseluruhan.
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan menyatakan bahwa strategi ini mencerminkan efektivitas pendekatan yang diambil perseroan dalam mendorong pembiayaan di segmen produktif. Fokus pada sektor yang mendorong ekonomi kerakyatan dan menciptakan lapangan kerja menjadi pilar utama dalam menjaga momentum pertumbuhan kredit sekaligus menjaga kualitas aset.
2. Pendapatan Bunga dan Non-Bunga Mandiri
Pendapatan bunga bersih Bank Mandiri mencapai Rp106 triliun, naik 4,38% YoY. Sementara itu, pendapatan non-bunga mencatatkan kenaikan lebih signifikan, yaitu 14,5% menjadi Rp48,5 triliun. Kenaikan ini menunjukkan diversifikasi pendapatan yang semakin baik dan pengelolaan biaya yang efisien.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Posisi Kedua
Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menempati posisi kedua dengan total aset konsolidasi sebesar Rp2.135,3 triliun pada akhir 2025, naik 7,1% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat Rp1.992,1 triliun.
1. Laba Bersih dan Pendapatan Bunga BRI
BRI mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp57,13 triliun sepanjang 2025. Meski lebih rendah dibandingkan laba bersih tahun 2024 sebesar Rp60,3 triliun, angka ini masih menunjukkan kinerja yang solid.
Pendapatan bunga BRI mencapai Rp207,78 triliun, naik 4,27% dibandingkan Rp199,27 triliun pada tahun sebelumnya. Beban bunga juga naik, yaitu dari Rp56,61 triliun menjadi Rp57,28 triliun. Namun, pendapatan bunga bersih (NII) tetap naik 5,52% menjadi Rp150,50 triliun.
2. Kualitas Aset dan Risiko Kredit
Dari sisi kualitas aset, beban kerugian penurunan nilai (impairment) meningkat 20,8% menjadi Rp46,09 triliun dibandingkan Rp38,14 triliun pada 2024. Meski demikian, BRI tetap menjaga ekspansi fungsi intermediasinya dengan kredit yang disalurkan dan pembiayaan syariah mencapai Rp1.517,07 triliun, naik 12,67% dibandingkan tahun sebelumnya.
3. Kinerja BCA yang Stabil
Bank Central Asia (BCA) mencatatkan total aset konsolidasi sebesar Rp1.586,8 triliun pada akhir 2025, naik 9,4% dibandingkan Rp1.449,3 triliun di akhir 2024. Laba bersih BBCA tumbuh 4,9% menjadi Rp57,5 triliun sepanjang tahun yang sama.
Pertumbuhan kredit BCA secara tahunan mencapai 7,7%, dengan rata-rata pertumbuhan sepanjang 2025 sebesar 10,8%. Penyaluran kredit terdistribusi ke berbagai sektor produktif seperti manufaktur, perdagangan, restoran, hotel, dan rumah tangga.
Simpanan giro dan CASA BCA juga naik 13,1% YoY menjadi Rp1.045 triliun. Ini menunjukkan bahwa BCA berhasil menarik dana murah yang menjadi pilar penting dalam menjaga spread bunga.
4. BNI dengan Pertumbuhan DPK Tinggi
Bank Negara Indonesia (BNI) membukukan total aset konsolidasi sebesar Rp1.362 triliun di akhir 2025, naik 20,5% dibandingkan Rp1.130,1 triliun pada akhir 2024. Meski laba bersihnya menyusut 7,19% menjadi Rp20,11 triliun, BNI menunjukkan performa positif di sisi penghimpunan dana.
DPK BNI tumbuh 29,21% YoY menjadi Rp1.040,83 triliun. Pertumbuhan ini didorong terutama oleh simpanan giro yang naik 43,75% YoY menjadi Rp439,49 triliun.
Penyaluran kredit BNI juga mengalami peningkatan sebesar 15,94% YoY, dari Rp775,87 triliun menjadi Rp899,53 triliun. Meski begitu, beban operasional dan impairment meningkat cukup signifikan, masing-masing naik 13,68% dan 27,52%.
Perbandingan Kinerja Empat Bank Terbesar di 2025
| Bank | Total Aset (Rp triliun) | Laba Bersih (Rp triliun) | Pertumbuhan Aset YoY |
|---|---|---|---|
| Bank Mandiri (BMRI) | 2.829,9 | 56,3 | 16,5% |
| BRI (BBRI) | 2.135,3 | 57,13 | 7,1% |
| BCA (BBCA) | 1.586,8 | 57,5 | 9,4% |
| BNI (BBNI) | 1.362 | 20,11 | 20,5% |
Faktor Pendorong Pertumbuhan Aset
1. Peningkatan Kredit Bermutu
Empat bank pelat merah berhasil menjaga kualitas penyaluran kreditnya. Meskipun ada peningkatan beban impairment, bank-bank ini tetap fokus pada sektor produktif dan mengelola risiko secara ketat.
2. Ekspansi Dana Murah
Penghimpunan dana murah, terutama dari segmen giro dan CASA, menjadi salah satu faktor utama pertumbuhan aset. Dana murah memberikan margin bunga yang lebih tinggi dan mengurangi biaya dana.
3. Strategi Digital dan Inklusi Keuangan
Pemanfaatan teknologi digital dan ekspansi inklusi keuangan juga menjadi pendorong pertumbuhan. Bank-bank ini terus mengembangkan layanan digital yang ramah pengguna dan menjangkau lebih banyak nasabah.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meskipun pertumbuhan aset terus berlanjut, ada beberapa tantangan yang perlu diwaspadai. Salah satunya adalah tekanan terhadap spread bunga akibat kebijakan moneter dan persaingan di sektor perbankan. Selain itu, risiko makroekonomi global juga bisa berdampak pada kualitas aset.
Kesimpulan
Bank Mandiri tetap menjadi yang terdepan dalam hal total aset di tahun 2025. Namun, kinerja ketiga bank lainnya juga menunjukkan tren positif, terutama dalam hal penghimpunan dana dan penyaluran kredit yang sehat. Dengan strategi yang tepat, keempat bank besar ini berpotensi terus tumbuh di tengah dinamika ekonomi yang berubah.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan dapat berubah sewaktu-waktu. Keputusan investasi merupakan tanggung jawab pembaca sepenuhnya.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













