Industri perbankan Tanah Air menutup tahun 2025 dengan catatan kinerja yang beragam. Meski sebagian besar bank besar masih mampu mencetak laba, tidak sedikit yang mengalami perlambatan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat laba bersih bank umum secara konsolidasi mencapai Rp262,18 triliun pada kuartal IV/2025, naik 2,74% secara tahunan dari Rp255,19 triliun di periode yang sama tahun 2024.
Pendapatan bunga bersih menjadi salah satu pendorong utama kenaikan laba tersebut. Nilainya tumbuh 4,09% YoY, dari Rp549,75 triliun menjadi Rp572,21 triliun. Di sisi lain, penyaluran kredit juga terus meningkat, mencatatkan angka Rp707,46 triliun atau naik 5,01% dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp263,64 triliun, tumbuh 6,62% YoY dari Rp247,27 triliun.
10 Bank dengan Laba Terbesar di Indonesia Tahun 2025
Pertumbuhan laba dan kinerja sektor perbankan di tahun 2025 menunjukkan bahwa beberapa bank besar masih mampu mempertahankan posisinya meski di tengah tekanan makroekonomi global. Berikut adalah 10 bank dengan laba terbesar di Indonesia berdasarkan laporan keuangan 2025.
1. Bank Central Asia (BCA)
Bank swasta terbesar di Indonesia ini kembali memimpin daftar dengan laba konsolidasi mencapai Rp57,56 triliun, naik 4,94% dibanding tahun sebelumnya. BCA juga mencatat pertumbuhan DPK sebesar 10,18% YoY, dari Rp1.133,61 triliun menjadi Rp1.249,04 triliun. Penyaluran kreditnya mencapai Rp979,69 triliun, tumbuh 7,53% dibanding 2024.
2. Bank Rakyat Indonesia (BRI)
BRI menempati posisi kedua dengan laba konsolidasi sebesar Rp57,13 triliun, meski mengalami penurunan 5,26% dibanding tahun lalu. Meski begitu, bank ini tetap menjaga likuiditasnya dengan baik, terbukti dari rasio LDR yang berada di level 91,4%. Pendekatan yang diambil BRI fokus pada pertumbuhan berkelanjutan dan manajemen risiko yang ketat.
3. Bank Mandiri
Bank pelat merah ini mencatatkan laba sebesar Rp56,3 triliun, naik tipis 0,93% dibanding tahun sebelumnya. Mandiri menunjukkan performa yang solid dengan pertumbuhan kredit 13,4% YoY dan DPK yang naik 23,9% YoY. Rasio NPL-nya tetap terjaga di level 0,96%, sementara CAR mencapai 20,4%.
4. Bank Negara Indonesia (BNI)
BNI berada di posisi keempat dengan laba konsolidasi sebesar Rp20,11 triliun, meski turun 7,19% dibanding tahun lalu. Meski menghadapi tekanan eksternal, BNI mampu menjaga pertumbuhan kredit sebesar 15,94% YoY dan DPK yang naik hingga 29,21% YoY. Fokus pada sektor produktif dan disiplin risiko menjadi kunci dari kinerjanya.
5. Bank Syariah Indonesia (BSI)
BSI menempati posisi kelima dengan laba bersih sebesar Rp7,56 triliun, naik 8,02% dibanding tahun sebelumnya. Bank ini menunjukkan kinerja solid dengan dukungan pendanaan yang kuat dan penyaluran pembiayaan yang tepat sasaran. BSI juga aktif mendukung program pemerintah melalui berbagai pembiayaan produktif.
6. CIMB Niaga
Bank swasta asal Singapura ini mencatatkan laba konsolidasi sebesar Rp6,93 triliun, naik tipis 0,53% dibanding tahun lalu. CIMB Niaga tetap menjaga kesehatan fundamental bisnisnya dengan fokus pada pertumbuhan kredit yang prudent dan pengelolaan biaya yang disiplin.
7. OCBC NISP
OCBC NISP menempati posisi ketujuh dengan laba bersih sebesar Rp5,05 triliun, naik 3,92% dibanding tahun sebelumnya. Bank ini tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan pengelolaan risiko yang prudent. Penguatan DPK dan kualitas aset menjadi fokus utama dalam menjaga keberlanjutan kinerjanya.
8. Permata Bank
Permata Bank mencatatkan laba bersih sebesar Rp3,58 triliun, naik tipis 0,59% dibanding tahun sebelumnya. Bank ini terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap disiplin dan konsisten menempatkan nasabah sebagai prioritas utama. Kinerjanya mencerminkan fundamental yang resilien dan komitmen terhadap kepercayaan nasabah.
9. Bank Danamon
Danamon berada di posisi kesembilan dengan laba konsolidasi sebesar Rp3,58 triliun, naik 0,59% dibanding tahun sebelumnya. Bank ini terus mengimplementasikan strategi bisnisnya dengan baik, menghasilkan pertumbuhan intermediasi dan profitabilitas yang sehat, tanpa mengorbankan kualitas aset.
10. Bank Tabungan Negara (BTN)
BTN menutup daftar ini dengan laba bersih konsolidasi sebesar Rp3,50 triliun, naik 16,42% dibanding tahun lalu. Pertumbuhan bisnis BTN didorong oleh penguatan profitabilitas dan efisiensi proses bisnis yang dihasilkan dari transformasi yang konsisten di berbagai lini.
Perbandingan Laba Bersih 10 Bank Terbesar RI Tahun 2025
| No | Nama Bank | Laba Bersih (Rp Triliun) | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|---|
| 1 | BCA | 57,56 | +4,94% |
| 2 | BRI | 57,13 | -5,26% |
| 3 | Mandiri | 56,30 | +0,93% |
| 4 | BNI | 20,11 | -7,19% |
| 5 | BSI | 7,56 | +8,02% |
| 6 | CIMB Niaga | 6,93 | +0,53% |
| 7 | OCBC NISP | 5,05 | +3,92% |
| 8 | Permata Bank | 3,58 | +0,59% |
| 9 | Danamon | 3,58 | +0,59% |
| 10 | BTN | 3,50 | +16,42% |
Faktor Pendorong dan Tantangan Kinerja Bank-Bank Terbesar
1. Peningkatan Pendapatan Bunga
Salah satu faktor utama yang mendorong laba bank adalah peningkatan pendapatan bunga bersih. Hal ini terjadi karena bank berhasil menjaga spread bunga yang menguntungkan di tengah fluktuasi suku bunga makro.
2. Pertumbuhan Dana Murah
Pertumbuhan simpanan giro dan tabungan yang tinggi memberikan tekanan positif pada margin bunga bersih bank. Dana murah ini memungkinkan bank untuk menyalurkan kredit dengan biaya dana yang rendah.
3. Disiplin Manajemen Risiko
Bank-bank besar umumnya menunjukkan ketahanan yang baik dalam mengelola risiko kredit. Rasio NPL yang rendah dan CAR yang tinggi menjadi indikator bahwa bank tetap menjaga kualitas asetnya.
4. Tekanan Makroekonomi Global
Meski kinerja sebagian besar bank tetap solid, tekanan dari volatilitas makroekonomi global dan penyesuaian kebijakan moneter tetap menjadi tantangan. Bank harus terus adaptif dalam merespons dinamika ini.
5. Persaingan di Sektor Perbankan
Semakin ketatnya persaingan di sektor perbankan membuat bank harus terus inovatif dalam menawarkan produk dan layanan. Fokus pada digitalisasi dan layanan nasabah menjadi kunci untuk tetap relevan.
Strategi Jangka Panjang Bank-Bank Besar
1. Fokus pada Digitalisasi
Bank-bank besar terus mengembangkan layanan digital untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperluas jangkauan nasabah. Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan user experience, tetapi juga menekan biaya operasional.
2. Penguatan Segmen UMKM
Banyak bank yang menempatkan segmen UMKM sebagai fokus utama penyaluran kredit. Tidak hanya mendukung ekonomi nasional, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap laba bank.
3. Efisiensi Biaya dan Proses
Transformasi internal menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga profitabilitas. Bank-bank besar terus melakukan efisiensi biaya dan proses bisnis untuk meningkatkan efektivitas operasional.
4. Diversifikasi Pendapatan
Selain pendapatan bunga, bank juga terus mengembangkan pendapatan non-bunga melalui layanan jasa keuangan, wealth management, dan digital banking. Diversifikasi ini membantu mengurangi ketergantungan pada pendapatan bunga saja.
Disclaimer
Data dalam artikel ini bersumber dari laporan keuangan tahunan bank-bank yang telah terbit hingga kuartal IV/2025. Angka dan informasi dapat berubah seiring dengan pelaporan resmi dari masing-masing bank dan Otoritas Jasa Keuangan. Perubahan kebijakan makroekonomi, regulasi, dan kondisi pasar juga dapat memengaruhi kinerja keuangan bank di masa mendatang.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













