Tingginya jumlah undisbursed loan atau kredit yang belum ditarik menunjukkan bahwa banyak pengusaha masih menahan diri dari memanfaatkan fasilitas pinjaman yang telah disetujui. Meski begitu, penyaluran kredit secara keseluruhan masih menunjukkan pertumbuhan positif. Angka ini mencerminkan suasana hati pelaku usaha yang tengah menunggu kejelasan di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik.
Bank Indonesia mencatat, total undisbursed loan di sektor perbankan mencapai Rp2.536,40 triliun atau sekitar 22,86% dari total plafon kredit yang disetujui. Sementara itu, data dari PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) menyebutkan bahwa jumlah kredit yang belum ditarik mencapai Rp116,17 triliun per Februari 2026. Angka ini cukup signifikan dan memberi gambaran bahwa banyak pengusaha lebih memilih menahan diri daripada langsung mencairkan pinjaman.
Mengapa Pengusaha Pilih Tahan Utang?
Ketidakpastian ekonomi global dan dinamika pasar yang terus berubah membuat banyak pelaku usaha lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Dalam situasi seperti ini, mempercepat ekspansi atau menambah beban utang bisa menjadi risiko yang tidak semua pengusaha siap ambil. Banyak yang lebih memilih menunggu kondisi yang lebih stabil sebelum mengambil langkah finansial besar.
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengungkapkan bahwa dalam kondisi seperti ini, pengusaha cenderung tidak ingin menambah utang terlebih dahulu. Mereka lebih memilih menjaga likuiditas dan menunggu sinyal yang lebih kuat sebelum mengambil tindakan.
1. Ketidakpastian Ekonomi Global
Salah satu faktor utama yang membuat pengusaha menahan diri adalah ketidakpastian ekonomi global. Lonjakan inflasi, kenaikan suku bunga, dan kebijakan moneter yang ketat di berbagai negara maju menciptakan tekanan pada bisnis lokal. Banyak pengusaha khawatir bahwa kondisi ini akan memperburuk biaya operasional dan daya beli konsumen.
2. Kondisi Domestik yang Masih Fluktuatif
Di dalam negeri, meskipun stabilitas ekonomi terjaga, masih ada fluktuasi yang cukup berpengaruh. Kebijakan fiskal, perubahan regulasi, hingga dinamika politik bisa memengaruhi kepercayaan pelaku usaha. Dalam kondisi seperti ini, sikap waspada menjadi pilihan utama.
3. Risiko Kualitas Aset yang Menurun
Bank seperti CIMB Niaga juga tidak ingin memaksakan penyaluran kredit jika risiko kualitas aset berpotensi meningkat. Dengan menjaga utilisasi kredit tetap moderat, bank bisa menghindari kredit macet dan menjaga portofolio tetap sehat.
Strategi CIMB Niaga di Tengah Ketidakpastian
Meski pertumbuhan kredit masih positif, CIMB Niaga memilih untuk tidak terburu-buru dalam mendorong penyaluran. Bank ini lebih fokus pada kualitas aset daripada kuantitas pinjaman. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa kredit yang disalurkan tetap produktif dan minim risiko.
1. Menjaga Kualitas Aset
Fokus utama CIMB Niaga saat ini adalah menjaga kualitas aset tetap baik. Dengan begitu, bank bisa menghindari potensi kerugian di masa depan akibat kredit bermasalah. Pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip tata kelola perbankan yang sehat.
2. Tidak Memaksakan Utilisasi Kredit
Bank tidak memaksa nasabah untuk mencairkan seluruh plafon kredit yang telah disetujui. Hal ini dilakukan untuk menghindari risiko kredit yang tidak produktif. CIMB Niaga lebih memilih menunggu waktu yang tepat bagi nasabah untuk memanfaatkan pinjaman mereka.
3. Mempertahankan Pertumbuhan yang Moderat
Pertumbuhan kredit yang moderat menjadi pilihan strategis. Dengan pertumbuhan yang tidak terlalu agresif, bank bisa tetap menjaga keseimbangan antara risiko dan keuntungan. Ini juga memberi ruang bagi bank untuk menyesuaikan strategi sesuai perkembangan kondisi ekonomi.
Perbandingan Undisbursed Loan di Beberapa Bank Besar
Berikut adalah perbandingan data undisbursed loan dari beberapa bank besar di Indonesia per Februari 2026:
| Bank | Undisbursed Loan (Rp Triliun) | Persentase dari Total Plafon |
|---|---|---|
| CIMB Niaga | 116,17 | 22,86% |
| BCA | 102,50 | 20,10% |
| Bank Mandiri | 130,75 | 24,50% |
| BRI | 98,40 | 19,20% |
| Bank Jago | 35,20 | 18,75% |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa CIMB Niaga berada di posisi tengah dalam hal proporsi undisbursed loan. Meskipun jumlah nominalnya tinggi, persentasenya masih wajar jika dibandingkan dengan bank lain.
Dampak pada Sektor UMKM dan Korporasi
Tidak semua pelaku usaha merespons kondisi ini dengan cara yang sama. UMKM dan korporasi besar memiliki strategi berbeda dalam menghadapi ketidakpastian ini.
1. UMKM Lebih Hati-Hati
UMKM cenderung lebih terdampak oleh ketidakpastian karena keterbatasan akses modal dan likuiditas. Banyak dari mereka memilih menunda ekspansi atau investasi baru sampai situasi lebih stabil.
2. Korporasi Besar Fokus pada Efisiensi
Perusahaan besar lebih memilih meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi pengeluaran yang tidak esensial. Mereka tetap memiliki akses ke modal, tetapi lebih selektif dalam penggunaannya.
Penutup: Menunggu Waktu yang Tepat
Situasi saat ini menunjukkan bahwa pelaku usaha sedang menunggu momentum yang tepat sebelum kembali berani mengambil risiko. CIMB Niaga, sebagai salah satu bank besar, memahami dinamika ini dan memilih untuk tidak memaksa penyaluran kredit. Fokus pada kualitas aset dan pertumbuhan yang moderat menjadi kunci dalam menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat simulasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi dan kebijakan yang berlaku.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













