PT Bank Maspion Indonesia Tbk. (BMAS) baru saja mengantongi pinjaman bilateral senilai US$285 juta atau sekitar Rp4,84 triliun dari Kasikornbank (KBank). Pinjaman ini dianggap sebagai langkah strategis untuk memperkuat likuiditas jangka panjang sekaligus mendukung ekspansi bisnis di tengah persaingan industri perbankan yang kian ketat.
Fasilitas pinjaman ini memiliki tenor hingga dua tahun sejak tanggal penarikan. Bunga yang dikenakan mengacu pada SOFR (Secured Overnight Financing Rate) ditambah margin yang disesuaikan dengan kondisi pasar saat ini. Pada 17 Maret 2026, BMAS telah menarik dana tahap awal sebesar US$100 juta atau setara Rp1,69 triliun.
Rincian Pinjaman BMAS dari KBank
Pinjaman bilateral ini bukan hanya soal angka besar. Ada beberapa poin penting yang perlu dicermati terkait skema dan manfaatnya bagi Bank Maspion ke depan.
1. Besaran dan Kurs Pinjaman
Total plafon pinjaman yang disetujui adalah US$285 juta. Nilai tukar yang digunakan adalah Jisdor Rp16.990 per dolar AS. Artinya, total pinjaman dalam rupiah mencapai sekitar Rp4,84 triliun.
2. Tenor dan Suku Bunga
Pinjaman ini memiliki jangka waktu atau tenor hingga dua tahun sejak tanggal penarikan. Bunga yang dikenakan mengacu pada SOFR ditambah margin tertentu yang ditentukan berdasarkan kondisi pasar.
3. Tujuan Penggunaan Dana
Dana hasil pinjaman akan digunakan untuk memperkuat likuiditas jangka panjang dan mendukung penyaluran kredit kepada nasabah. Ini menjadi salah satu upaya BMAS dalam meningkatkan kapasitas layanan perbankannya.
4. Penarikan Dana Bertahap
Penarikan dana tidak dilakukan sekaligus. BMAS telah menarik dana tahap awal sebesar US$100 juta. Sisanya akan disalurkan secara bertahap sesuai kebutuhan likuiditas dan rencana bisnis perseroan.
Kepemilikan Saham dan Hubungan Afiliasi
KBank bukan pihak asing bagi BMAS. KBank merupakan ultimate shareholder melalui anak usahanya, Kasikorn Vision Financial Company Pte. Ltd. (KVF), yang menguasai 86,03% saham BMAS atau setara 89,48% kepemilikan dalam grup KBank.
Pada November 2025 lalu, KBank resmi menambah kepemilikan sahamnya di Bank Maspion menjadi 89,48%. Langkah ini menunjukkan komitmen KBank dalam memperluas jaringan bisnis regional, khususnya di Asia Tenggara.
Direktur Utama Bank Maspion, Kasemsri Charoensiddhi, menyatakan bahwa peningkatan kepemilikan saham ini mencerminkan visi strategis KBank untuk memasuki pasar dengan potensi ekonomi tinggi.
Transparansi dan Kepatuhan Regulasi
Manajemen BMAS menegaskan bahwa transaksi pinjaman ini tidak mengandung benturan kepentingan. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam POJK Nomor 42/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Transaksi Benturan Kepentingan.
Transparansi menjadi poin penting dalam pelaksanaan pinjaman ini. Seluruh proses dilakukan dengan memperhatikan aspek kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku di Indonesia.
Dampak Jangka Panjang bagi BMAS
Pinjaman ini bukan hanya soal penyuntikan dana. Ini adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi BMAS di industri perbankan nasional dan regional.
Dengan dukungan likuiditas yang lebih besar, BMAS diharapkan bisa lebih agresif dalam menyalurkan kredit, terutama kepada UMKM dan segmen ritel yang menjadi fokus utama perseroan.
Selain itu, kolaborasi erat dengan KBank juga membuka peluang bagi BMAS untuk mengadopsi teknologi perbankan terkini dan memperluas jaringan bisnis di kawasan Asia Tenggara.
Tabel Rincian Pinjaman BMAS dari KBank
| Parameter | Detail |
|---|---|
| Jumlah Pinjaman | US$285 juta (Rp4,84 triliun) |
| Kurs Jisdor | Rp16.990 per USD |
| Tenor Pinjaman | 2 tahun sejak tanggal penarikan |
| Suku Bunga | SOFR + margin pasar |
| Penarikan Tahap Awal | US$100 juta (Rp1,69 triliun) |
| Tujuan Penggunaan Dana | Memperkuat likuiditas dan penyaluran kredit |
| Hubungan dengan KBank | Afiliasi melalui KVF |
| Kepemilikan Saham KBank | 89,48% |
Strategi Ke Depan
Langkah pengambilan pinjaman ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang BMAS dalam memperkuat modal dan likuiditas. Dengan dukungan dari KBank, BMAS punya ruang untuk tumbuh lebih cepat dan kompetitif.
Peningkatan kapasitas penyaluran kredit juga diharapkan bisa mendorong pertumbuhan laba perseroan di masa mendatang. Terlebih di tengah dorongan ekonomi digital dan inklusi keuangan yang semakin masif.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersumber dari keterbukaan informasi resmi di Bursa Efek Indonesia serta rilis pers perusahaan terkait. Nilai tukar dan besaran pinjaman bisa berubah tergantung pada kurs dan kebijakan pasar. Informasi ini disajikan berdasarkan data hingga Maret 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













