PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) mencatatkan pencapaian finansial yang solid sepanjang tahun 2025. Laba bersih bank digital yang merupakan bagian dari ekosistem CT Corp ini mencapai Rp574,2 miliar, naik sekitar 23% dibandingkan laba tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp467,1 miliar.
Pertumbuhan ini terjadi meski di tengah tekanan makroekonomi yang masih terasa. Ari Yanuanto Asah, Plt. Direktur Utama Allo Bank, menyebut bahwa bank tetap mampu menjaga momentum pertumbuhan yang kuat. Basis pelanggan bank ini bahkan sudah melampaui angka 14 juta di akhir tahun lalu.
Kinerja Keuangan Allo Bank Sepanjang 2025
Salah satu pendorong utama kenaikan laba adalah peningkatan pendapatan bunga. Di tahun 2025, pendapatan bunga mencapai Rp1,86 triliun, naik dari Rp1,49 triliun pada 2024. Meski beban bunga juga naik dari Rp369,42 miliar menjadi Rp423,27 miliar, pendapatan bunga bersih tetap tumbuh signifikan, yaitu dari Rp1,12 triliun menjadi Rp1,44 triliun.
1. Laba Bersih Naik 23% Menjadi Rp574,2 Miliar
Laba bersih Allo Bank tahun 2025 mencapai Rp574,2 miliar, naik 23% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp467,1 miliar. Kenaikan ini menunjukkan bahwa bank mampu mengelola pendapatan dan biaya dengan efisien meski menghadapi tantangan makroekonomi.
2. Pendapatan Bunga Tembus Rp1,86 Triliun
Pendapatan bunga menjadi salah satu tulang punggung pendapatan bank. Di tahun 2025, pendapatan ini mencapai Rp1,86 triliun, naik dari Rp1,49 triliun di tahun sebelumnya. Peningkatan ini didukung oleh ekspansi kredit dan peningkatan suku bunga yang menguntungkan.
3. Beban Bunga Naik, Namun Pendapatan Bersih Tetap Meningkat
Meski beban bunga naik menjadi Rp423,27 miliar dari Rp369,42 miliar, pendapatan bunga bersih tetap tumbuh menjadi Rp1,44 triliun. Ini menunjukkan bahwa bank mampu mengelola selisih bunga dengan baik untuk tetap menguntungkan.
Efisiensi Operasional dan Margin
Efisiensi operasional menjadi salah satu kunci keberhasilan Allo Bank dalam menjaga profitabilitas. Di tahun 2025, beberapa indikator penting menunjukkan kinerja yang positif.
4. Net Interest Margin (NIM) Naik Jadi 10,11%
NIM Allo Bank mencatatkan angka 10,11% di tahun 2025, naik dari 8,88% pada tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa bank mampu memperoleh margin yang lebih besar dari selisih antara pendapatan dan beban bunga.
5. ROA dan ROE Meningkat
Return on Asset (ROA) naik dari 4,48% menjadi 4,91%, sedangkan Return on Equity (ROE) meningkat dari 6,78% menjadi 7,93%. Kenaikan kedua rasio ini menunjukkan bahwa bank semakin efisien dalam memanfaatkan aset dan modalnya untuk menghasilkan laba.
Pertumbuhan Kredit dan Risiko Kredit Bermasalah
Salah satu indikator penting dalam bisnis perbankan adalah penyaluran kredit. Di tahun 2025, Allo Bank mencatatkan pertumbuhan kredit yang cukup signifikan.
6. Penyaluran Kredit Naik 22,2% Menjadi Rp9,14 Triliun
Total penyaluran kredit Allo Bank hingga akhir Desember 2025 mencapai Rp9,14 triliun, naik 22,2% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp7,47 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan kredit di segmen ritel dan wholesale.
7. NPL Gross dan Net Masih Terjaga
Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross berada di level 1,64%, sedangkan NPL net sebesar 0,60%. Angka ini masih dalam batas wajar, menunjukkan bahwa kualitas portofolio kredit bank terjaga dengan baik.
8. Beban Impairment Naik Jadi Rp413,36 Miliar
Meski NPL terjaga, beban kerugian penurunan nilai (impairment) meningkat dari Rp114,04 miliar menjadi Rp413,36 miliar. Ini menunjukkan bahwa bank lebih proaktif dalam mengakui risiko kredit yang ada.
Dana Pihak Ketiga (DPK) dan Struktur Dana
Pertumbuhan DPK menjadi salah satu indikator penting dalam menilai daya tarik bank terhadap nasabah. Di tahun 2025, DPK Allo Bank mencatatkan pertumbuhan yang sangat signifikan.
9. DPK Naik 56,1% Menjadi Rp9,51 Triliun
Total DPK Allo Bank hingga akhir Desember 2025 mencapai Rp9,51 triliun, naik 56,1% dibandingkan Rp6,1 triliun pada 2024. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa bank semakin dipercaya oleh nasabah dalam menyimpan dana mereka.
10. Giro Naik 533,5% Menjadi Rp540,59 Miliar
Giro yang merupakan bagian dari dana murah meningkat tajam menjadi Rp540,59 miliar dari Rp85,34 miliar, atau naik 533,5% secara tahunan. Ini menunjukkan bahwa bank berhasil menarik lebih banyak dana transaksional dari nasabah.
11. Tabungan Naik 35,3% Menjadi Rp938,26 Miliar
Tabungan nasabah juga mengalami peningkatan menjadi Rp938,26 miliar dari Rp693,27 miliar, naik sekitar 35,3%. Ini menunjukkan bahwa produk tabungan bank tetap diminati oleh masyarakat.
12. Deposito Naik 51,2% Menjadi Rp8,04 Triliun
Deposito yang merupakan sumber dana berbiaya tinggi juga mengalami pertumbuhan menjadi Rp8,04 triliun dari Rp5,32 triliun, naik sekitar 51,2%. Ini menunjukkan bahwa bank berhasil menarik lebih banyak dana berjangka dari nasabah.
Struktur Dana Murah (CASA)
CASA atau Current Account Saving Account merupakan indikator penting dalam efisiensi penghimpunan dana. Semakin tinggi rasio CASA, semakin rendah biaya dana bank.
13. CASA Naik 90,4% Menjadi Rp1,48 Triliun
Total CASA Allo Bank mencapai Rp1,48 triliun, naik sekitar 90,4% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp778,61 miliar. Ini menunjukkan bahwa bank berhasil meningkatkan proporsi dana murah dalam struktur dana mereka.
Permodalan dan Stabilitas
Modal yang kuat menjadi fondasi penting bagi stabilitas dan pertumbuhan bank. Allo Bank menjaga permodalannya tetap kuat sepanjang tahun 2025.
14. Rasio Modal Terhadap ATMR Tetap Terjaga
Bank mempertahankan rasio modal terhadap Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) yang kuat. Meskipun detail angka tidak disebutkan, bank tetap menjaga posisi permodalan yang sehat untuk mendukung pertumbuhan bisnisnya.
Disclaimer
Data yang disajikan dalam artikel ini bersumber dari laporan keuangan resmi PT Allo Bank Indonesia Tbk. per 31 Desember 2025. Angka-angka dan rasio yang disebutkan dapat berubah seiring dengan pelaporan keuangan berikutnya dan kebijakan akuntansi yang berlaku. Pembaca disarankan untuk merujuk pada sumber resmi untuk informasi terkini.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













