Perbankan

OJK Catatkan Rasio Klaim Asuransi Kredit Tetap Tinggi pada Semester Pertama Tahun 2026

Rista Wulandari
×

OJK Catatkan Rasio Klaim Asuransi Kredit Tetap Tinggi pada Semester Pertama Tahun 2026

Sebarkan artikel ini
OJK Catatkan Rasio Klaim Asuransi Kredit Tetap Tinggi pada Semester Pertama Tahun 2026

Rasio klaim asuransi kredit di Indonesia masih berada di level yang cukup tinggi sepanjang awal tahun 2026. Angka ini menjadi perhatian serius bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terutama karena klaim yang meningkat lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan premi. Artinya, perusahaan asuransi justru mengeluarkan lebih banyak dana untuk klaim dibandingkan yang mereka terima dari premi nasabah.

Menurut Ogi Prastomiyono, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, tren ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk kualitas kredit yang belum sepenuhnya pulih. Meski begitu, ada sinyal positif dari turunnya Performing Loan (NPL) kredit properti menjadi sekitar 3,08 persen di akhir 2025. Kalau tren ini berlanjut, bisa jadi akan membawa dampak baik ke asuransi kredit juga.

Rasio Klaim Asuransi Kredit Masih Menantang

dari OJK menunjukkan bahwa rasio klaim asuransi kredit di awal 2026 masih tinggi. Ini menunjukkan bahwa jumlah klaim yang diajukan lebih besar daripada pendapatan premi yang masuk. Padahal, idealnya, premi yang terkumpul harus bisa menutupi risiko klaim yang terjadi.

Salah satu penyebab utama adalah kualitas kredit yang belum stabil sepenuhnya. Meskipun NPL kredit properti mulai menurun, transisi pemulihan ini belum sepenuhnya terasa di sektor asuransi. Ada jeda waktu antara perbaikan kualitas kredit dan penurunan klaim asuransi.

1. Penyebab Tingginya Rasio Klaim Asuransi Kredit

  1. klaim melebihi pertumbuhan premi
    Klaim yang naik lebih cepat daripada premi menyebabkan rasio klaim membengkak. Ini jadi tantangan besar bagi perusahaan asuransi karena margin keuntungan menjadi lebih tipis.

  2. Kualitas kredit belum pulih sepenuhnya
    Meski NPL turun, risiko gagal bayar masih ada. Kondisi ini memicu lebih banyak klaim asuransi kredit, terutama dari sektor properti dan konsumsi.

  3. Kebijakan kredit yang longgar di masa lalu
    Di tahun-tahun sebelumnya, banyak bank memberikan kredit dengan yang terlalu ringan. Ini berdampak pada meningkatnya risiko klaim ketika ekonomi melambat.

2. Dampak Tingginya Klaim terhadap Industri Asuransi

  1. Tekanan pada likuiditas perusahaan asuransi
    Semakin banyak klaim yang harus dibayar, semakin besar tekanan pada dana cadangan perusahaan. Ini bisa mengganggu operasional harian dan rencana jangka panjang.

  2. Risiko solvabilitas jangka panjang
    Jika tren ini terus berlanjut, perusahaan bisa menghadapi masalah solvabilitas. Artinya, mereka mungkin tidak mampu memenuhi kewajiban klaim dalam jangka panjang.

  3. Kenaikan premi di masa depan
    Untuk menutupi risiko yang lebih tinggi, perusahaan bisa saja menaikkan premi. Ini tentu akan berdampak pada daya beli konsumen.

3. Upaya yang Bisa Dilakukan untuk Menurunkan Rasio Klaim

  1. Peningkatan kualitas underwriting
    Proses seleksi risiko harus lebih ketat. Artinya, perusahaan harus lebih selektif dalam menerima calon nasabah agar risiko gagal bayar bisa diminimalkan.

  2. Kolaborasi dengan bank untuk monitoring kredit
    Asuransi kredit erat kaitannya dengan kualitas pinjaman. Bekerja sama dengan bank untuk memantau kesehatan kredit bisa membantu mengurangi klaim.

  3. Peningkatan edukasi nasabah
    Banyak nasabah yang tidak memahami betul risiko yang mereka ambil. Edukasi yang tepat bisa membantu mereka membuat keputusan yang lebih bijak.

Performa Industri Asuransi di Awal 2026

Industri asuransi di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang positif. Pada Januari 2026, industri mencapai Rp1.214,82 triliun, naik 5,96 persen secara tahunan dari posisi Rp1.146,47 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi asuransi komersial, total aset mencapai Rp995,19 triliun, naik 7,48 persen year-on-year. Ini menunjukkan bahwa masih menjadi tulang punggung pertumbuhan industri.

Rincian Pendapatan Premi Asuransi Januari 2026

Jenis Asuransi Nilai Premi (Rp triliun) Pertumbuhan YoY
Asuransi Jiwa 17,97 -6,15%
Asuransi Umum & Reasuransi 18,42 +17,92%
Total 36,38 +4,67%

Meski premi asuransi jiwa mengalami kontraksi, asuransi umum dan reasuransi justru tumbuh cukup signifikan. Ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap perlindungan non-jiwa mulai meningkat.

4. Kondisi RBC Asuransi di Awal 2026

Risk Based Capital (RBC) adalah indikator penting untuk mengukur kesehatan perusahaan asuransi. Semakin tinggi rasio RBC, semakin baik kemampuan perusahaan menyerap risiko.

Rasio RBC Asuransi di Awal 2026

Jenis Asuransi RBC (%)
Asuransi Jiwa 478,06%
Asuransi Umum & Reasuransi 323,47%

Kedua sektor masih berada jauh di atas ambang batas minimum 120 persen. Ini menunjukkan bahwa secara umum, kondisi keuangan industri masih sehat meski menghadapi tantangan klaim yang tinggi.

5. Strategi Jangka Panjang untuk Menjaga Stabilitas Asuransi Kredit

  1. Penguatan regulasi dan pengawasan
    OJK terus memperketat aturan terkait asuransi kredit. Ini termasuk pengawasan terhadap praktek underwriting dan manajemen risiko.

  2. Diversifikasi produk asuransi
    Mengurangi ketergantungan pada satu jenis produk bisa membantu menyeimbangkan risiko. Diversifikasi juga bisa meningkatkan daya tarik produk di mata konsumen.

  3. Peningkatan digitalisasi proses klaim
    Proses klaim yang lebih cepat dan transparan bisa meningkatkan kepuasan nasabah sekaligus mengurangi potensi penyalahgunaan.

6. Tantangan di Balik Pemulihan Klaim Asuransi

  1. Ketidakpastian ekonomi global
    Perlambatan ekonomi global bisa berdampak pada daya beli masyarakat. Ini akan meningkatkan risiko gagal bayar dan klaim asuransi.

  2. Perubahan kebijakan moneter
    Kenaikan suku bunga bisa memengaruhi kemampuan masyarakat dalam membayar cicilan. Ini berpotensi meningkatkan klaim asuransi kredit.

  3. Perilaku konsumen yang berubah
    Semakin banyak konsumen yang mengambil kredit untuk konsumsi, risiko gagal bayar juga meningkat. Ini harus diimbangi dengan edukasi dan pengawasan yang lebih baik.

Harapan ke Depan

Meski rasio klaim asuransi kredit masih tinggi, ada sejumlah sinyal positif yang bisa dimanfaatkan. Penurunan NPL, pertumbuhan aset industri, dan kesehatan RBC yang masih kuat adalah indikator bahwa sektor ini bisa pulih jika yang tepat diambil.

Yang penting sekarang adalah menjaga momentum ini dengan terus memperbaiki kualitas risiko, memperkuat kolaborasi antara asuransi dan perbankan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan asuransi.


Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat berdasarkan informasi yang tersedia hingga Maret 2026. Angka bisa berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan ekonomi dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.