Pertumbuhan kredit perbankan di Indonesia pada Februari 2026 mencatatkan angka 9,37% secara tahunan. Angka ini sedikit lebih rendah dibanding pertumbuhan bulan sebelumnya yang berada di level 9,96% yoy. Meski begitu, laju kredit yang tetap berada di kisaran dua digit menunjukkan bahwa sektor perbankan masih menunjukkan performa solid di tengah dinamika ekonomi domestik dan global.
Bank Indonesia mencatat bahwa pertumbuhan ini didukung oleh penyaluran kredit ke berbagai sektor produktif. Kredit investasi, modal kerja, dan konsumsi menjadi pendorong utama. Masing-masing segmen tersebut tumbuh 20,7%, 3,88%, dan 6,3% secara tahunan. Artinya, meskipun melambat, permintaan kredit dari pelaku usaha dan konsumen masih cukup kuat.
Dinamika Suku Bunga dan Kebijakan Moneter
Penurunan BI Rate sepanjang 2025 sebesar 125 basis poin mulai menunjukkan dampaknya. Suku bunga pasar uang dan deposito mengalami penurunan, meski efeknya ke suku bunga kredit belum sepenuhnya terasa. Pada Februari 2026, suku bunga kredit berada di level 8,8%, turun 40 basis poin dari 9,20% yang tercatat pada Januari 2025.
Sementara itu, suku bunga deposito 1 bulan turun menjadi 4,17% dari sebelumnya 4,81%. Perbedaan kecepatan penurunan antara suku bunga deposito dan kredit menunjukkan bahwa bank masih berhati-hati dalam meneruskan kebijakan moneter ke tingkat bawah.
- Penurunan BI Rate sebesar 125 basis poin sepanjang 2025 belum sepenuhnya tercermin pada suku bunga kredit.
- Suku bunga kredit turun 40 basis poin menjadi 8,8%.
- Suku bunga deposito juga turun menjadi 4,17% dari sebelumnya 4,81%.
Proyeksi dan Potensi Kredit di 2026
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 akan berada di kisaran 8% hingga 12%. Proyeksi ini didasarkan pada sisi permintaan dan penawaran yang masih kuat. Dari sisi permintaan, terdapat dana yang belum tersalurkan (undisbursed loan) mencapai Rp2.536,4 triliun atau sekitar 22,86% dari total plafon kredit.
Sementara dari sisi penawaran, kapasitas perbankan masih cukup memadai. Rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) berada di level 27,4%. Pertumbuhan DPK sendiri mencapai 13,18% pada Februari 2026. Artinya, bank masih memiliki dana yang cukup untuk menyalurkan kredit.
Tabel Proyeksi dan Data Kredit Februari 2026
| Indikator | Februari 2026 | Januari 2026 |
|---|---|---|
| Pertumbuhan Kredit (YoY) | 9,37% | 9,96% |
| Suku Bunga Kredit | 8,8% | 9,20% |
| Suku Bunga Deposito 1 Bulan | 4,17% | 4,81% |
| Pertumbuhan DPK | 13,18% | – |
| Rasio AL/DPK | 27,4% | – |
Tantangan di Segmen Kredit Konsumsi dan UMKM
Meski pertumbuhan kredit secara umum masih solid, terdapat beberapa segmen yang mulai mengalami pengetatan. Kredit konsumsi dan UMKM menjadi dua area yang mulai diperhatikan lebih serius oleh regulator. Hal ini terkait dengan risiko yang mulai meningkat di kedua sektor tersebut.
Bank Indonesia mencatat bahwa penyaluran kredit ke UMKM dan konsumsi masih terbatas. Meski permintaan cukup tinggi, bank cenderung lebih hati-hati dalam menyalurkan dana karena risiko kredit yang lebih tinggi dibandingkan sektor korporasi besar.
Stabilitas Perbankan di Tengah Ketegangan Global
Di tengah ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, sektor perbankan nasional dinilai masih stabil. Rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 25,87%, jauh di atas batas minimum 8% yang ditetapkan. Rasio kredit bermasalah (NPL) juga terjaga baik, yaitu 2,14% secara bruto dan 0,82% secara neto.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa perbankan Indonesia masih memiliki buffer yang cukup untuk menghadapi potensi risiko di masa depan. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan kredit tetap berada di level yang sehat.
Rasio Kesehatan Perbankan Februari 2026
| Indikator | Februari 2026 |
|---|---|
| CAR (Capital Adequacy Ratio) | 25,87% |
| NPL Bruto | 2,14% |
| NPL Neto | 0,82% |
Perlunya Dorongan Lebih Lanjut untuk Suku Bunga Kredit
Meski sudah ada penurunan BI Rate, transmisi ke suku bunga kredit masih belum optimal. Bank Indonesia menyadari bahwa agar pertumbuhan kredit bisa lebih tinggi, penurunan suku bunga dana dan kredit perlu terus didorong. Ini penting agar kredit bisa lebih terjangkau dan mendorong pertumbuhan ekonomi secara lebih luas.
Langkah-langkah yang bisa diambil antara lain penguatan transmisi kebijakan moneter dan peningkatan sinergi antara BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam mengawasi sektor perbankan.
Kesimpulan
Pertumbuhan kredit perbankan pada Februari 2026 mencatatkan angka 9,37% yoy, sedikit lebih rendah dari bulan sebelumnya. Meski begitu, kondisi ini masih menunjukkan bahwa sektor perbankan berkinerja baik. Dengan dukungan dari sektor investasi dan modal kerja, serta stabilitas rasio kesehatan perbankan, proyeksi kredit sepanjang tahun masih optimis berada di kisaran 8% hingga 12%.
Namun, tantangan di segmen konsumsi dan UMKM perlu terus diperhatikan agar risiko kredit tetap terjaga. Di sisi lain, penurunan suku bunga perlu terus didorong agar transmisi kebijakan moneter bisa lebih efektif.
Disclaimer: Data dan angka yang disajikan dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi terkini hingga Maret 2026. Angka-angka tersebut dapat berubah seiring dengan perkembangan kebijakan moneter dan kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













