Dolar AS kembali melemah pada Rabu, 8 April 2026, dan berpotensi mencatatkan penurunan harian terbesar sejak April 2025. Pelemahan ini terjadi seiring dengan berakhirnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang sebelumnya mendorong permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven. Investor pun mulai beralih ke aset berisiko lebih tinggi, terutama saham, menjelang pengumuman gencatan senjata.
Sentimen pasar langsung berubah positif setelah Washington dan Teheran mencapai kesepakatan untuk menghentikan pertempuran yang berlangsung selama dua minggu. Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa AS telah mencapai titik tujuan militer dan siap memasuki fase penyelesaian diplomatis. Langkah ini memicu reli risk-on di pasar global dan menyebabkan dolar kehilangan daya tarik sementara.
Gencatan Senjata yang Mengubah Sentimen Pasar
Kesepakatan antara AS dan Iran terjadi setelah tekanan besar dari negara-negara mediator, terutama Pakistan. Perdana Menteri Shehbaz Sharif memainkan peran penting dalam menjembatani komunikasi antara kedua negara. Proposal 10 poin dari Iran akhirnya diterima oleh AS sebagai dasar negosiasi, meskipun sebelumnya Trump sempat mengancam akan menghancurkan "peradaban" Iran jika tidak membuka jalur Selat Hormuz.
-
Pernyataan Trump Soal Gencatan Senjata
Presiden Trump mengatakan bahwa AS telah memenuhi semua tujuan militer dan kini fokus beralih ke diplomasi. Ia menegaskan bahwa gencatan senjata ini adalah langkah awal menuju perdamaian yang berkelanjutan. -
Respons Iran dan Kondisi yang Ditawarkan
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Teheran akan menghentikan operasi militer selama dua minggu. Namun, pengiriman melalui Selat Hormuz hanya akan diizinkan jika dilakukan dalam koordinasi dengan militer Iran. -
Undangan ke Islamabad untuk Pembicaraan Lanjutan
Perdana Menteri Pakistan mengundang delegasi AS dan Iran ke Islamabad untuk pertemuan lanjutan pada Jumat. Pertemuan ini diharapkan bisa memperkuat kesepakatan dan membuka jalan bagi normalisasi hubungan.
Dolar Melemah, Investor Berpindah ke Aset Berisiko
Dolar AS yang biasanya kuat di tengah ketidakpastian, kini terlihat lesu. Indeks Dolar AS turun sekitar satu persen menjadi 98,90 pada Rabu pagi waktu New York. Angka ini merupakan level terendah dalam beberapa pekan dan menunjukkan bahwa investor mulai meninggalkan aset safe haven.
Analisis dari David Morrison, analis senior di Trade Nation, menyebut bahwa dolar sedang menghadapi tekanan besar. Ia menyatakan bahwa kegagalan berulang dolar untuk menembus level resistensi 100 menimbulkan kekhawatiran bahwa tren penguatan jangka panjang bisa terhenti.
- Dolar AS diperdagangkan di sekitar 98,50 pagi ini
- Indeks gagal menembus level 100 secara konsisten
- Risiko dolar turun ke level terendah di bawah 96,00 mulai terlihat
Inflasi dan Suku Bunga Jadi Fokus Utama
Meskipun ketegangan Timur Tengah mereda, fokus pasar kini beralih ke data ekonomi makro. Salah satunya adalah ekspektasi inflasi yang masih tinggi akibat lonjakan harga minyak beberapa pekan lalu. Wells Fargo memperingatkan bahwa guncangan energi ini telah menghentikan tren disinflasi yang berlangsung selama dua tahun.
-
Inflasi Konsumen Maret Diprediksi Naik Tajam
Lonjakan harga energi berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga. Inflasi inti diperkirakan tetap berada di kisaran 2,7 hingga 3,1 persen hingga akhir tahun. -
Pengaruhnya pada Kebijakan Fed
Federal Reserve diperkirakan akan menunda rencana penurunan suku bunga jika inflasi tetap tinggi. Alat CME FedWatch menunjukkan bahwa ekspektasi penurunan suku bunga pada tahun ini kembali turun. -
Data yang Akan Dirilis Minggu Ini
- Kamis: Laporan PCE (Personal Consumption Expenditures) bulan Februari
- Jumat: Laporan Non-Farm Payrolls bulan Maret
Kedua data ini akan menjadi indikator penting untuk melihat dampak krisis geopolitik terhadap ekonomi AS.
Mata Uang Lain Menguat, Terutama Euro dan Pound
Sementara dolar melemah, mata uang utama lainnya justru menguat. Euro dan poundsterling mencatat kenaikan solid, didorong oleh sentimen positif dan pelemahan dolar. Yen Jepang juga turun dari level resistensi 160, menandakan bahwa tekanan terhadap mata uang Asia mulai berkurang.
| Mata Uang | Kenaikan (%) | Level Terakhir |
|---|---|---|
| Euro (EUR/USD) | +0,7% | 1,1680 |
| Poundsterling (GBP/USD) | +1,0% | 1,3424 |
| Yen (USD/JPY) | -0,8% | 158,40 |
Negara-negara Eropa dan Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah merasakan dampak lonjakan harga minyak. Namun, seiring dengan redanya ketegangan, tekanan terhadap mata uang mereka mulai berkurang.
Respons Negara Berkembang Terhadap Guncangan Inflasi
Negara-negara berkembang Asia diketahui telah meredam dampak awal dari lonjakan harga energi melalui kebijakan fiskal yang tepat. Menurut analis JPMorgan, negara-negara yang lebih sensitif terhadap kenaikan harga bahan bakar mengalami lonjakan inflasi, sementara yang memiliki kebijakan adaptif masih dalam fase transisi.
- Negara-negara dengan subsidi energi meredam dampak langsung
- Inflasi di negara Asia cenderung lebih terkendali
- Kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci dalam menghadapi guncangan eksternal
Apa Arti Semua Ini untuk Pasar Keuangan?
Pelemahan dolar bisa menjadi sinyal awal dari perubahan siklus ekonomi global. Investor kini lebih waspada terhadap data inflasi dan kebijakan moneter. Meskipun ketegangan geopolitik mereda, risiko baru dari fluktuasi harga energi dan kebijakan bank sentral tetap mengintai.
Sentimen positif jangka pendek memang terlihat, tetapi ketidakpastian jangka panjang masih tinggi. Pasar akan terus merespons perkembangan inflasi dan langkah-langkah kebijakan dari negara-negara besar. Investor disarankan untuk tetap waspada dan tidak terjebak dalam euforia sementara.
Disclaimer: Data dan prediksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga April 2026. Nilai tukar mata uang dan indikator ekonomi bisa berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan makroekonomi global.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













