Nasional

Dolar Amerika Serikat Tetap Stabil Meskipun Mengalami Penurunan dalam Sepekan Terakhir

Retno Ayuningrum
×

Dolar Amerika Serikat Tetap Stabil Meskipun Mengalami Penurunan dalam Sepekan Terakhir

Sebarkan artikel ini
Dolar Amerika Serikat Tetap Stabil Meskipun Mengalami Penurunan dalam Sepekan Terakhir

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Dolar AS terlihat stabil pada akhir pekan meski mengalami penurunan dalam skala mingguan. Pasar tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik, khususnya ketegangan di kawasan yang berpotensi memengaruhi kebijakan moneter Amerika Serikat.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama, mencatat tipis sebesar 0,3 persen menjadi 99,50 pada Jumat, 20 Maret 2026. Namun secara mingguan, indeks ini justru terkoreksi sebesar 0,9 persen. Meski demikian, investor tampaknya masih menahan diri sebelum membuat keputusan besar terkait arah suku bunga AS yang masih ambigu.

Dinamika Pasar dan Pergerakan Mata Uang

Pergerakan pasangan mata uang menunjukkan pola yang cukup beragam. EUR/USD turun 0,2 persen ke level 1,1570, sedangkan GBP/USD melemah lebih tajam sebesar 0,7 persen menjadi 1,3338. Di sisi lain, USD/JPY justru menguat 0,9 persen ke posisi 159,21. Meski sebagian pasangan mengalami koreksi, secara umum pasar masih menunjukkan ketidakpastian yang tinggi.

Lonjakan minyak akibat ketegangan di Iran memicu spekulasi bahwa bank sentral global akan kembali mempertimbangkan kenaikan suku bunga guna menahan laju inflasi. Investor tampaknya mulai memperhitungkan dampak jangka panjang dari energi yang sedang berlangsung.

Kebijakan Bank Sentral Jadi Sorotan

Kebijakan Federal Reserve tetap menjadi sorotan utama. Dalam pertemuan terakhirnya, The Fed memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran ,25%-5,50%. Keputusan ini sebagian besar didasari oleh ketidakpastian geopolitik yang meningkat, terutama pasca- gabungan AS-Israel ke Iran.

Meski tidak menaikkan suku bunga, The Fed juga tidak merombak proyeksi kebijakan di tahun 2026. Artinya, peluang The Fed untuk menurunkan suku bunga di kuartal-kuartal mendatang masih terbuka, meski belum pasti kapan akan dilakukan.

  1. Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25%-5,50%.
  2. Proyeksi kebijakan tahun ini tetap tidak berubah.
  3. Investor mulai memperhitungkan risiko geopolitik dalam pengambilan keputusan investasi.

Berbeda dengan The Fed, Bank Sentral Eropa (ECB) justru menunjukkan sikap yang lebih agresif dalam menangani inflasi. ECB memperkirakan kenaikan suku bunga di masa depan sebagai respons terhadap tekanan harga yang masih tinggi di kawasan Eropa.

Perbandingan Kebijakan Bank Sentral Utama

Bank Sentral Sikap terhadap Suku Bunga Alasan Utama
Federal Reserve (AS) Tidak berubah Ketidakpastian geopolitik, inflasi terkendali
Bank Sentral Eropa (ECB) Bersiap kenaikan Inflasi masih tinggi, pertumbuhan melambat
(Inggris) Menunggu data lebih lanjut Stabilitas

Perbedaan pendekatan ini menciptakan dinamika yang menarik di global. Investor kini harus memperhitungkan tidak hanya data ekonomi domestik, tetapi juga kebijakan lintas negara yang bisa memengaruhi nilai tukar mata uang.

Ketegangan Timur Tengah dan Dampaknya

Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Israel, terus berkembang. Serangan yang terjadi di akhir Februari 2026 memicu mentah Brent hingga menyentuh USD119 per barel. Meski kini harga sedikit turun dari puncaknya, pasar tetap waspada terhadap eskalasi lebih lanjut.

Presiden Donald Trump sempat menenangkan pasar dengan pernyataannya bahwa krisis ini akan segera berakhir. Ia juga menegaskan tidak akan mengirim pasukan darat ke medan perang, meski tidak menutup kemungkinan langkah tersebut secara rahasia.

Namun, laporan dari CBS News menyebut bahwa Pentagon telah menyusun rencana detail untuk mengerahkan pasukan darat ke Iran. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa langkah militer lebih luas bisa saja terjadi dalam waktu dekat.

Pengeluaran Militer dan Dampak Ekonomi

Pentagon telah mengajukan permintaan dana sebesar USD200 miliar untuk mendanai operasi militer di kawasan tersebut. Angka ini mencerminkan biaya yang sangat tinggi dari kampanye yang memecah belah opini publik Amerika.

Di tengah ketegangan ini, Gedung Putih mulai mempertimbangkan langkah untuk mengurangi tekanan di pasar energi. Salah satunya adalah dengan mengisyaratkan pencabutan sebagian sanksi terhadap minyak Iran. Langkah ini bisa membantu menstabilkan harga minyak global, tetapi juga menimbulkan kritik dari sekutu internasional.

Spekulasi Pasar dan Respons Investor

Investor saat ini berada di posisi yang unik. Di satu sisi, mereka harus memperhitungkan risiko geopolitik yang tinggi. Di sisi lain, mereka juga harus mengantisipasi perubahan kebijakan dari bank sentral besar dunia.

Beberapa analis memperingatkan bahwa langkah terburu-buru dalam menaikkan suku bunga bisa berisiko mengulangi kesalahan kebijakan di masa lalu, seperti yang terjadi pada tahun 2008 dan 2011. Oleh karena itu, banyak yang menyarankan pendekatan yang lebih hati-hati dan berbasis data.

Penutup

Dolar AS memang stabil dalam jangka pendek, tetapi tekanan jangka panjang dari ketegangan global dan kebijakan bank sentral bisa mengubah arahnya kapan saja. Investor dan pelaku pasar perlu terus memantau perkembangan baik dari sisi geopolitik maupun ekonomi makro.

Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga Maret 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan kebijakan dan situasi global.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.