Setelah bertahun-tahun tertunda, proyek Lapangan Abadi di Blok Masela, Maluku, akhirnya mulai menunjukkan cahaya di ujung terowongan. Kesepakatan investasi senilai USD20 miliar baru saja dicapai, dan langkah-langkah konkret untuk mempercepat pelaksanaannya mulai digeber. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tak main-main soal ini. Ia ingin proyek yang sempat macet selama hampir tiga dekade ini bisa rampung dalam waktu dekat.
Proyek ini bukan sekadar soal infrastruktur energi. Ini adalah salah satu kunci penggerak ekonomi kawasan timur Indonesia. Selain itu, Lapangan Abadi juga akan menjadi sumber pasok gas yang besar untuk kebutuhan industri nasional ke depannya. Dengan kapasitas produksi hingga 9 juta ton per tahun, potensi yang dimiliki sangat besar untuk mendukung program hilirisasi energi.
Momentum Baru Setelah Kesepakatan Investasi
Langkah penting baru saja diambil. Pertemuan antara Bahlil dan CEO INPEX Corporation, Takayuki Ueda, membuka jalan bagi percepatan proyek yang sempat mandek karena berbagai kendala regulasi dan pasar. Salah satu fokus utama sekarang adalah menyelesaikan tahap FEED (front-end engineering and design). Targetnya, rampung di kuartal kedua atau paling lambat kuartal ketiga 2026.
Setelah itu, proses tender untuk kontrak EPC (engineering, procurement, and construction) bisa dimulai secara paralel. Bahlil menegaskan bahwa ini adalah langkah strategis agar proyek tidak kembali terlambat. “Ini sudah 27 tahun. Masa kita tunggu sampai usia saya 60 tahun baru jadi,” ujarnya tegas.
1. Target FEED Harus Terpenuhi di Semester I 2026
FEED merupakan fase kritis sebelum memasuki tahap konstruksi. Di sinilah detail teknis proyek disempurnakan. Bila berhasil diselesaikan tepat waktu, maka proyek bisa langsung masuk ke tahap pelaksanaan fisik.
2. Tender EPC Dimulai Paralel dengan FEED
Dengan memulai tender EPC bersamaan dengan FEED, waktu pelaksanaan bisa dipersingkat. Ini adalah strategi efisiensi yang biasa digunakan di proyek-proyek besar internasional.
3. Pemerintah Siap Jadi Pembeli jika Diperlukan
Salah satu risiko utama dalam proyek LNG adalah kepastian pembeli. Untuk itu, Bahlil menawarkan agar PT Danantara (anak usaha PLN) siap menjadi pembeli jika hingga akhir April 2026 belum ada buyer asing yang serius. Ini sebagai bentuk dukungan pemerintah agar proyek tetap berjalan lancar.
Perizinan Telah Sebagian Besar Selesai
Di sisi administratif, progres juga sudah cukup signifikan. Beberapa izin penting telah diterbitkan pada awal 2026. Termasuk di antaranya:
| Jenis Izin | Tanggal Diterbitkan | Instansi Terkait |
|---|---|---|
| Persetujuan Pelepasan Kawasan Hutan | Januari 2026 | Kementerian Kehutanan |
| Persetujuan Lingkungan (AMDAL) | 13 Februari 2026 | KLHK |
Kelengkapan izin ini memberi sinyal kuat bahwa proyek tidak lagi terganjal regulasi. Semua elemen birokrasi mulai tersinkronisasi dengan baik.
Komitmen INPEX Tinggi, Proyek Dipandang Serius
CEO INPEX, Takayuki Ueda, juga menyatakan komitmennya yang tinggi terhadap proyek ini. Ia bahkan mengaku sudah 12 tahun terlibat dalam pengembangan Lapangan Abadi. “Bukan hanya Pak Menteri, kami juga punya komitmen yang sama,” katanya.
Ueda menambahkan bahwa diskusi dengan Bahlil memberi dorongan semangat baru bagi timnya. Dengan adanya kepastian arah dan dukungan kuat dari pemerintah, proyek bisa bergerak lebih cepat.
Potensi Ekonomi dan Strategi Hilirisasi
Lapangan Abadi bukan cuma soal produksi gas mentah. Ini adalah bagian dari rencana besar Indonesia untuk mengembangkan industri hilir energi, khususnya LNG. Dengan adanya pasokan LNG yang stabil, program hilirisasi bisa berjalan lebih optimal.
Selain itu, proyek ini juga diharapkan bisa menjadi magnet investasi baru di wilayah Maluku dan Papua. Pengembangan infrastruktur pendukung, seperti pelabuhan dan jaringan transmisi gas, akan memberi multiplier effect bagi ekonomi lokal.
Tantangan yang Masih Ada
Meski banyak hal sudah berjalan positif, beberapa tantangan tetap perlu diwaspadai. Salah satunya adalah fluktuasi harga LNG global yang bisa memengaruhi minat buyer. Selain itu, pengelolaan lingkungan dan sosial di lokasi proyek juga harus terus dijaga agar tidak muncul isu baru yang bisa menghambat progres.
Jadwal Target Utama Proyek Abadi Masela
Berikut perkiraan jadwal penting yang menjadi target utama proyek hingga tahap produksi:
| Tahapan | Target Waktu |
|---|---|
| Penyelesaian FEED | Q2-Q3 2026 |
| Tender EPC | Q3 2026 |
| Mulai Konstruksi | Awal 2027 |
| Produksi Pertama | 2029 (estimasi) |
Disclaimer: Jadwal dan anggaran di atas bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung kondisi lapangan, regulasi, serta dinamika pasar global.
Proyek Abadi Masela adalah cerminan ambisi Indonesia untuk bangkit dari ketergantungan energi tradisional menuju sistem energi yang lebih modern dan ramah lingkungan. Dengan investasi besar dan komitmen tinggi dari semua pihak, proyek ini punya potensi untuk menjadi salah satu tonggak pengembangan energi nasional di era transisi energi global.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













