Ketidakpastian ekonomi global kembali menjadi sorotan utama sepanjang Maret 2026. Salah satu dampak paling terlihat adalah keputusan sejumlah bank sentral untuk tidak mengubah suku bunga acuan. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap ketegangan geopolitik, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah, yang berpotensi memicu lonjakan harga energi dan mengganggu stabilitas inflasi.
Kondisi ini memaksa para pembuat kebijakan moneter untuk bersikap hati-hati. Inflasi yang belum sepenuhnya terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang mulai melambat menjadi dua faktor utama yang membuat bank sentral enggan gegabah menurunkan suku bunga. Meski demikian, tidak semua negara memilih jalur yang sama. Ada yang tetap bertahan, ada pula yang justru memperketat kebijakan.
Kebijakan Suku Bunga di Negara Maju
Di tengah situasi ketidakpastian, mayoritas bank sentral negara maju memilih untuk tidak mengubah kebijakan suku bunga mereka. Dari sembilan pertemuan bank sentral yang berlangsung sepanjang Maret, delapan di antaranya memutuskan untuk mempertahankan status quo.
Australia menjadi pengecualian. Bank sentral Australia (RBA) justru menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Langkah ini menjadi bagian dari upaya untuk mengendalikan tekanan inflasi yang masih terasa. Tidak ada negara maju lain yang melakukan pemotongan suku bunga selama periode tersebut.
Sejauh tahun ini, kebijakan moneter di negara maju tercatat mengalami pengetatan moderat sebesar 50 basis poin. Australia sendiri bertanggung jawab atas seluruh kenaikan tersebut melalui dua kali penyesuaian suku bunga.
Dinamika Kebijakan di Pasar Berkembang
Berbeda dengan negara maju, pasar berkembang menunjukkan dinamika yang lebih bervariasi. Meski prinsip kehati-hatian tetap menjadi pedomannya, sejumlah bank sentral di wilayah ini melakukan penyesuaian baik berupa pemangkasan maupun kenaikan suku bunga.
Dari total 15 pertemuan bank sentral di pasar berkembang selama Maret 2026, 10 bank sentral memilih menahan suku bunga. Sementara empat negara melakukan pemangkasan moderat. Brasil, Meksiko, dan Polandia masing-masing memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin. Rusia bahkan melakukan pemotongan lebih agresif sebesar 50 basis poin.
Namun, ada juga negara yang bergerak berlawanan arah. Kolombia justru menaikkan suku bunga acuannya sebesar 100 basis poin. Langkah ini memicu kontroversi internal, bahkan menyebabkan penarikan beberapa anggota dewan bank sentral.
1. Penundaan Pelonggaran oleh Sejumlah Negara
Beberapa negara seperti Indonesia, Afrika Selatan, Filipina, Hungaria, dan Republik Ceko memilih untuk menunda rencana pemangkasan suku bunga. Alasannya jelas: ketidakpastian akibat eskalasi konflik Timur Tengah.
2. Pengaruh Harga Minyak terhadap Kebijakan
Fluktuasi harga minyak dunia menjadi salah satu variabel penting dalam pengambilan keputusan bank sentral. Lonjakan harga energi berpotensi memicu kenaikan inflasi, sehingga memaksa bank sentral untuk menahan langkah pelonggaran.
3. Perbedaan Laju Inflasi Global
Tidak semua negara mengalami laju inflasi yang sama. Perbedaan ini membuat kebijakan moneter tidak bisa seragam. Negara dengan inflasi terkendali mungkin sudah bisa melonggarkan kebijakan, sementara yang lain masih harus waspada.
4. Siklus Pelonggaran yang Lambat
Meski sebagian besar bank sentral berada dalam siklus pelonggaran, laju penurunan suku bunga justru terlihat lambat. Ini menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan lebih memilih pendekatan bertahap untuk menghindari risiko.
5. Peran Geopolitik dalam Kebijakan Moneter
Eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi faktor eksternal yang signifikan. Ketegangan ini tidak hanya memengaruhi harga energi, tetapi juga mengganggu rantai pasok global, yang pada akhirnya memicu ketidakpastian ekonomi.
Data Perbandingan Kebijakan Suku Bunga
Berikut adalah ringkasan kebijakan suku bunga bank sentral di berbagai negara selama Maret 2026:
| Negara | Kebijakan | Besaran Perubahan | Catatan |
|---|---|---|---|
| Australia | Kenaikan | +25 bps | Menjadi pengecualian di negara maju |
| Rusia | Pemangkasan | -50 bps | Pemotongan agresif |
| Brasil | Pemangkasan | -25 bps | Moderat |
| Meksiko | Pemangkasan | -25 bps | Moderat |
| Polandia | Pemangkasan | -25 bps | Moderat |
| Kolombia | Kenaikan | +100 bps | Langkah kontroversial |
| Indonesia | Tahan | 0 bps | Menunggu kejelasan geopolitik |
Akumulasi Kebijakan Sepanjang Tahun
Sejauh tahun ini, bank sentral di pasar berkembang telah mencatat pelonggaran bersih sebesar 175 basis poin. Angka ini merupakan hasil dari 10 kali pemangkasan suku bunga yang menyentuh 375 basis poin. Namun, dua kali kenaikan di Kolombia sebesar total 200 basis poin menjadi penyeimbangnya.
Tantangan di Depan
Kondisi saat ini menunjukkan bahwa bank sentral masih berada dalam fase evaluasi. Ketidakpastian eksternal, terutama dari geopolitik, membuat langkah kebijakan harus benar-benar terukur. Di tengah tekanan inflasi dan perlambatan ekonomi, tidak mudah menemukan titik keseimbangan yang tepat.
Perbedaan kondisi antarnegara juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua negara bisa mengikuti pola yang sama karena latar belakang ekonomi yang berbeda. Ini menjadikan koordinasi kebijakan moneter global semakin kompleks.
Kesimpulan
Bank sentral global sepertinya masih akan menjaga pendekatan hati-hati dalam beberapa waktu ke depan. Ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan fluktuasi harga energi menjadi penghalang utama bagi langkah pelonggaran yang agresif. Meski sebagian negara sudah mulai melonggarkan kebijakan, mayoritas masih memilih untuk menunggu sinyal yang lebih jelas.
Disclaimer: Data dan kebijakan yang disebutkan dalam artikel ini bersifat terbatas hingga Maret 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi dan geopolitik global.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













