Ilustrasi. Foto: MI/Susanto.
Rupiah kembali menunjukkan performa positif di akhir perdagangan Rabu, 8 April 2026. Setelah beberapa hari mengalami tekanan, mata uang Garuda akhirnya menguat terhadap dolar Amerika Serikat. Penutupan hari ini mencatatkan rupiah di level Rp17.012 per USD, naik 93 poin atau sekitar 0,54 persen dari posisi sebelumnya di Rp17.105 per USD.
Pergerakan rupiah hari ini berada dalam kisaran Rp16.960 hingga Rp17.028 per USD. Dari awal tahun hingga kini, rupiah mencatatkan kenaikan sebesar 1,99 persen (year to date). Data dari berbagai sumber seperti Bloomberg, Yahoo Finance, dan Jisdor menunjukkan konsistensi arah pergerakan yang positif, meski terdapat sedikit perbedaan angka akibat metode pengambilan data yang berbeda.
Sentimen Global dan Domestik Dorong Penguatan Rupiah
Penguatan rupiah tidak lepas dari pengaruh sentimen global dan perkembangan politik internasional. Salah satu faktor penting yang memengaruhi pergerakan mata uang ini adalah pengumuman Presiden AS Donald Trump terkait gencatan senjata dengan Iran. Langkah ini dianggap meredam potensi eskalasi konflik yang sempat mengkhawatirkan pasar keuangan global.
Trump menyatakan penangguhan aksi militer terhadap Iran selama dua minggu. Kesepakatan ini dicapai setelah upaya diplomatik intensif yang melibatkan Pakistan sebagai penengah. Iran juga memberikan sinyal bahwa mereka bersedia membuka jalur Selat secara aman selama periode gencatan senjata, selama tidak ada permusuhan dari pihak lain.
Sentimen positif ini memberikan tekanan jual terhadap dolar AS, sehingga memperkuat posisi rupiah. Investor yang sebelumnya was-was dengan potensi konflik Timur Tengah kini mulai mengalihkan fokus ke aset-aset yang lebih stabil, termasuk mata uang Asia seperti rupiah.
1. Pengaruh Sentimen Geopolitik terhadap Kurs
Sentimen geopolitik memiliki dampak langsung terhadap pergerakan mata uang. Ketika ketegangan meningkat, investor cenderung mencari ‘safe haven’ atau tempat aman, seperti dolar AS atau emas. Namun, ketika situasi mulai membaik, aliran modal bisa berbalik ke mata uang negara berkembang seperti rupiah.
2. Peran Data Inflasi AS
Selain sentimen geopolitik, pasar juga menantikan rilis data indeks harga konsumen (CPI) AS untuk bulan Maret 2026. Data ini menjadi indikator awal tentang dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi. Jika inflasi naik lebih dari ekspektasi, kemungkinan besar Federal Reserve akan menunda kenaikan suku bunga, yang bisa memperlemah dolar dan memperkuat rupiah.
Realisasi Pendapatan Negara Jadi Penopang Positif
Di tengah dinamika global, kinerja fiskal dalam negeri juga memberikan kontribusi penting. Realisasi pendapatan negara hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun, atau naik 10,5 persen secara tahunan (yoy). Angka ini setara dengan 18,2 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp3,15 kuadriliun.
Penerimaan pajak menjadi tulang punggung capaian ini. Secara keseluruhan, penerimaan perpajakan mencapai Rp462,7 triliun, naik 14,3 persen yoy. Rinciannya adalah sebagai berikut:
| Jenis Pajak | Jumlah (Rp triliun) | Pertumbuhan (yoy) |
|---|---|---|
| PPh Badan | 43,3 | +5,4% |
| PPh Orang Pribadi & PPh 21 | 61,3 | +15,8% |
| PPh Final, PPh 22, PPh 26 | 76,7 | +5,1% |
| PPN & PPnBM | 155,6 | +57,7% |
| Pajak Lainnya | 57,9 | -5,7% |
Sementara itu, penerimaan dari kepabeanan dan cukai mencapai Rp67,9 triliun, meski mengalami kontraksi 12,6 persen yoy. Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya penerimaan dari cukai dan bea keluar.
Pendapatan negara juga berasal dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp112,1 triliun dan hibah senilai Rp100 miliar.
3. Kebijakan Fiskal dan Dampaknya ke Rupiah
Realisasi pendapatan negara yang kuat menunjukkan bahwa pemerintah berhasil menjaga stabilitas fiskal. Ini menciptakan kepercayaan pasar terhadap ekonomi domestik, yang berimbas pada permintaan terhadap rupiah. Investor asing melihat bahwa Indonesia tetap mampu menjaga keseimbangan APBN meski di tengah tekanan global.
Prediksi Pergerakan Rupiah ke Depan
Meskipun hari ini rupiah menguat, analis memperkirakan pergerakan ke depan akan lebih fluktuatif. Ibrahim Assuaibi memprediksi bahwa pada perdagangan Kamis, 9 April 2026, rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.010 hingga Rp17.040 per USD, dengan kemungkinan ditutup melemah.
Beberapa faktor yang akan memengaruhi pergerakan ini antara lain rilis data ekonomi AS seperti CPI, perkembangan lebih lanjut dari konflik Timur Tengah, serta kinerja realisasi APBN nasional.
Disclaimer
Data yang disajikan dalam artikel ini bersifat terkini hingga tanggal 8 April 2026. Nilai tukar rupiah dan faktor-faktor yang memengaruhinya dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika pasar global dan kebijakan domestik. Pembaca disarankan untuk selalu mengacu pada sumber resmi untuk informasi terbaru.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













