Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali melemah pada Selasa, menutup di angka Rp17.127 per USD, turun 22 poin atau sekitar 0,13 persen dari posisi sebelumnya di Rp17.105. Pelemahan ini terjadi seiring dengan ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah.
Bank Indonesia mencatat kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga mengalami penurunan ke level Rp17.135 per USD, naik dari sebelumnya Rp17.122. Pergerakan ini menunjukkan bahwa sentimen pasar mulai terpengaruh oleh ancaman blokade jalur minyak global oleh Amerika Serikat.
Dampak Blokade AS di Selat Hormuz
Ancaman blokade yang dilakukan oleh militer AS terhadap Selat Hormuz hingga ke Teluk Oman menjadi pemicu utama pelemahan rupiah. Langkah ini diambil setelah upaya diplomasi antara Washington dan Teheran tidak membuahkan hasil. Jalur maritim ini merupakan salah satu rute pengiriman minyak paling strategis di dunia.
1. Pemicu Ketegangan Geopolitik
Blokade yang diumumkan oleh Komando Pusat (CENTCOM) AS pada Senin, 13 April 2026, mencakup area dari Selat Hormuz hingga Teluk Oman dan Laut Arab. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa dua kapal komersial telah membatalkan pelayaran mereka dan berbalik arah begitu blokade diberlakukan. Ini menunjukkan bahwa para pelaku industri maritim mulai menghindari area yang dianggap rawan risiko.
2. Reaksi Iran terhadap Blokade AS
Iran merespons blokade tersebut dengan mengancam akan menargetkan pelabuhan-pelabuhan negara tetangga di Teluk Persia. Ancaman ini dikeluarkan setelah pembicaraan damai di Islamabad pada akhir pekan tidak mencapai kesepakatan.
Iran menilai blokade AS sebagai pelanggaran terhadap kebebasan navigasi dan berpotensi mengganggu perdagangan regional. Ancaman balasan dari Iran semakin memperburuk situasi dan menimbulkan ketidakpastian di pasar global.
3. Dampak pada Harga Minyak Dunia
Ketegangan di Selat Hormuz langsung berdampak pada harga minyak mentah dunia. Pasar mulai khawatir akan terjadinya gangguan pasokan, terutama untuk minyak dari kawasan Teluk Persia yang biasanya melewati jalur tersebut.
Harga minyak jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 2 hingga 3 persen dalam sehari setelah pengumuman blokade. Lonjakan harga ini memicu inflasi tekanan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
4. Sentimen Pasar dan Nilai Tukar Rupiah
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS mencerminkan sentimen investor yang mulai was-was terhadap aset-aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang. Investor cenderung memindahkan dana mereka ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor dominan yang menyebabkan rupiah melemah. Selain itu, kenaikan harga minyak juga memperlebar defisit neraca perdagangan Indonesia.
5. Potensi Dialog AS-Iran Masih Terbuka
Meskipun situasi terlihat tegang, sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa dialog antara AS dan Iran masih berlangsung. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan bahwa pihaknya terus berupaya meredam ketegangan melalui jalur diplomatik.
Jika dialog ini berhasil, dampak negatif terhadap rupiah dan pasar global bisa berkurang. Namun, jika ketegangan berlanjut, tekanan terhadap mata uang dan harga energi akan semakin besar.
Perbandingan Dampak Blokade terhadap Mata Uang Negara Berkembang
| Negara | Mata Uang | Kondisi Sebelum Blokade | Kondisi Setelah Blokade | Kenaikan Terhadap USD (%) |
|---|---|---|---|---|
| Indonesia | Rupiah (IDR) | Rp17.100 | Rp17.127 | +0,16% |
| India | Rupee (INR) | ₹83,20 | ₹83,45 | +0,30% |
| Filipina | Peso (PHP) | ₱56,80 | ₱57,05 | +0,44% |
| Thailand | Baht (THB) | ฿36,50 | ฿36,65 | +0,41% |
| Malaysia | Ringgit (MYR) | RM4,70 | RM4,73 | +0,64% |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan situasi geopolitik.
Strategi Bank Indonesia dalam Menghadapi Tekanan Terhadap Rupiah
1. Intervensi Pasar Valas
Bank Indonesia dikabarkan siap melakukan intervensi pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah. Intervensi ini dilakukan melalui penjualan dolar dari cadangan devisa BI.
Langkah ini bertujuan untuk menekan permintaan dolar dan mencegah rupiah melemah terlalu dalam. Namun, intervensi tidak bisa dilakukan terus-menerus karena keterbatasan cadangan devisa.
2. Penyesuaian Kebijakan Suku Bunga
Bank sentral juga bisa menaikkan suku bunga acuan untuk menarik minat investor asing. Kenaikan suku bunga membuat rupiah lebih menarik sebagai instrumen investasi.
Namun, kenaikan suku bunga juga bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik karena meningkatnya beban pinjaman bagi perusahaan dan konsumen.
3. Penguatan Komunikasi Kebijakan
BI terus berkomunikasi dengan publik untuk menjaga ekspektasi pasar. Transparansi dalam kebijakan menjadi penting agar investor tidak panik dan tidak melakukan penarikan dana yang berlebihan.
Langkah ini membantu menjaga kepercayaan terhadap rupiah meskipun dalam kondisi ketidakpastian global.
Kesimpulan
Ancaman blokade AS terhadap jalur minyak di Selat Hormuz telah memicu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Ketegangan geopolitik ini berpotensi mengganggu pasokan minyak global dan memicu kenaikan harga energi.
Bank Indonesia dan otoritas moneter negara lain terus memantau perkembangan situasi dan menyesuaikan kebijakan untuk menjaga stabilitas mata uang masing-masing. Namun, tekanan terhadap rupiah masih akan terasa selama ketegangan belum reda.
Investor dan pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada dan mengantisipasi volatilitas yang tinggi dalam beberapa pekan ke depan.
Disclaimer: Data dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter yang diambil oleh masing-masing negara.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













