Harga minyak dunia terjun bebas di bawah USD100 per barel seusai Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara selama dua minggu. Penurunan tajam ini terjadi setelah ketegangan di Selat Hormuz mereda, jalur strategis yang mengangkut sekitar 20 persen minyak global.
Langkah diplomatik yang diumumkan Presiden Trump membuka peluang untuk stabilitas jangka pendek. Namun, meski harga minyak turun dua digit dalam sehari, pasar masih waspada terhadap potensi eskalasi di masa depan.
Penurunan Harga Minyak Global
1. Brent dan WTI Anjlok Lebih dari 10 Persen
Kontrak minyak mentah Brent yang berakhir Juni turun 11,9 persen menjadi USD96,24 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) dari AS anjlok lebih dalam, yaitu 15 persen, hingga USD95,98 per barel.
| Komoditas | Harga Sebelumnya | Harga Setelah Penurunan | Persentase Penurunan |
|---|---|---|---|
| Minyak Mentah Brent | ~USD109,25 | USD96,24 | -11,9% |
| Minyak Mentah WTI | ~USD112,90 | USD95,98 | -15% |
Penurunan ini dipicu oleh optimisme sementara di tengah ketegangan geopolitik. Namun, investor tetap menahan diri karena risiko konflik belum sepenuhnya hilang.
2. Sentimen Pasar Bereaksi Positif
Indeks saham Wall Street melonjak seusai pengumuman gencatan senjata. Dow Jones mencatat hari terbaiknya dalam setahun. Investor tampaknya menganggap bahwa eskalasi terburuk sudah terhindarkan.
Namun, para ekonom memperingatkan bahwa ketidakpastian masih tinggi. José Torres dari Interactive Brokers menyebut bahwa investor mungkin terlalu cepat merayakan, karena isu-isu inti antara AS dan Iran belum selesai.
Rencana Gencatan Senjata AS-Iran
1. Trump Setujui Penangguhan Aksi Militer
Presiden Trump mengumumkan penangguhan aksi militer terhadap Iran selama dua minggu. Langkah ini diambil hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu yang ditetapkan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Trump menyatakan bahwa tujuan militer utama telah tercapai. Ia juga menyebut bahwa Iran telah mengajukan proposal 10 poin yang bisa menjadi dasar kesepakatan jangka panjang.
2. Iran Buka Kemungkinan Jalur Aman
Iran menyatakan bahwa jalur aman di Selat Hormuz bisa dibuka selama masa gencatan senjata. Syaratnya adalah agar AS menghentikan permusuhan dan mengkoordinasikan kapal-kapalnya dengan otoritas Iran.
Namun, ketegangan kembali muncul ketika Iran menuduh Israel melanggar gencatan senjata dengan menyerang Hizbullah di Lebanon. Iran juga menyebut adanya drone asing di wilayahnya serta keberatan terhadap upaya pembatasan pengayaan uranium.
3. Pakistan Jadi Mediator Kunci
Negosiasi terakhir sebelum eskalasi besar dimediasi oleh Pakistan. Peran Islamabad sangat penting dalam mendorong kedua belah pihak untuk mundur dari ambang perang.
Tim negosiasi AS akan bertolak ke Pakistan akhir pekan ini. Mereka akan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, Utusan Khusus Timur Tengah Steve Witkoff, dan pengusaha Jared Kushner.
Dampak pada Jalur Strategis Selat Hormuz
1. Jalur Minyak Global Kembali Dibuka
Selat Hormuz, yang selama beberapa minggu ditutup karena ancaman serangan Iran, kini tampaknya akan dibuka kembali. Jalur ini menjadi kunci distribusi minyak global.
Namun, Iran telah mengumumkan sistem baru yang akan memungut biaya dari kapal-kapal yang melewati selat tersebut. Ini menimbulkan pertanyaan baru tentang keamanan dan biaya transit.
2. Kapal Masih Ragukan Keamanan
Meski ada kesepakatan, sejumlah kapal masih ragu untuk melintas. Banyak operator kapal menunggu kejelasan lebih lanjut sebelum kembali menggunakan jalur tersebut secara aktif.
Neil Shearing dari Capital Economics menyebut bahwa kerangka kerja gencatan senjata memungkinkan lalu lintas kembali, tetapi ketentuan operasionalnya masih kabur.
Respons Pasar dan Proyeksi Inflasi
1. Investor Pantau Inflasi AS
Harga minyak yang turun memberikan angin segar bagi prospek inflasi global. Namun, Brent masih berada di atas USD95, jauh dari level normal sekitar USD70 per barel sebelum konflik.
Jeffrey Roach dari LPL Financial menyebut bahwa investor akan menyambut baik peningkatan pasokan energi. Namun, dampak jangka panjang dari krisis ini masih bisa terasa.
2. Data Inflasi Maret Jadi Patokan
Fokus pasar kini tertuju pada laporan CPI (Consumer Price Index) AS untuk Maret yang akan dirilis Jumat. Data ini akan menjadi indikator apakah tekanan harga masih tinggi atau mulai mereda.
Federal Reserve juga mencatat bahwa pembuat kebijakan masih terbuka untuk menurunkan suku bunga jika dampak kenaikan harga minyak bersifat jangka pendek.
Kesimpulan
Penurunan harga minyak di bawah USD100 per barel menjadi tanda positif di tengah ketegangan geopolitik yang sempat memicu lonjakan harga. Namun, ketidakpastian masih tinggi, terutama terkait keberlanjutan gencatan senjata dan keamanan jalur strategis.
Investor dan negara-negara pengimpor minyak kini menunggu perkembangan lebih lanjut. Apakah ini benar-benar awal dari pemulihan atau hanya jeda sejenak sebelum badai berikutnya.
Disclaimer: Data harga minyak dan kondisi geopolitik bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi di lapangan. Informasi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan sumber terpercaya dan tidak dijamin keakuratannya secara absolut.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













