Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menunjukkan progres yang solid di awal tahun 2026. Per 21 Februari 2026, realisasi anggaran program ini telah mencapai Rp36,6 triliun. Jumlah itu berasal dari pagu APBN 2026 untuk MBG sebesar Rp335 triliun, atau setara dengan 10,9 persen dari total anggaran yang dialokasikan.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan bahwa program ini kini telah menjangkau 60,24 juta penerima. Pelaksanaannya dilakukan oleh 23.678 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di seluruh Indonesia. Angka ini naik cukup signifikan dibandingkan akhir 2025 yang baru mencatat 53,8 juta penerima.
Perbandingan Capaian MBG Awal 2025 dan 2026
Perbandingan kinerja program MBG di awal tahun menunjukkan peningkatan yang sangat mencolok. Pada periode yang sama tahun lalu, jumlah penerima baru mencapai 549.669 orang melalui 246 SPPG. Realisasi anggaran saat itu hanya sebesar Rp45,2 miliar.
Tabel berikut merangkum perbandingan capaian MBG di awal tahun 2025 dan 2026:
| Parameter | Awal 2025 | Awal 2026 | Kenaikan |
|---|---|---|---|
| Jumlah Penerima | 549.669 | 60.240.000 | ±10.940% |
| Jumlah SPPG | 246 | 23.678 | ±9.540% |
| Realisasi Anggaran | Rp45,2 miliar | Rp36,6 triliun | ±81.000% |
Angka ini menunjukkan bahwa program MBG tidak hanya berkembang dalam cakupan jumlah penerima, tapi juga dalam infrastruktur pelaksanaannya.
Sebaran Penerima MBG di Seluruh Indonesia
Program MBG dirancang untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Sebaran penerima saat ini cukup merata, dengan jumlah terbesar berada di Pulau Sumatera dan Sulawesi.
Berikut adalah rincian sebaran penerima MBG per wilayah:
- Sumatera: 12,3 juta penerima
- Jawa: 21,5 juta penerima
- Kalimantan: 7,8 juta penerima
- Sulawesi: 4,4 juta penerima
- Papua dan Maluku: 3,2 juta penerima
- Nusa Tenggara: 5,6 juta penerima
- Kepulauan Maluku: 5,4 juta penerima
Dengan distribusi yang luas ini, program MBG menjadi salah satu upaya strategis dalam mengatasi masalah gizi di tingkat nasional.
Faktor-Faktor yang Mempercepat Realisasi Anggaran MBG
Realisasi anggaran yang tinggi di awal tahun ini tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang turut mendorong penyerapan dana yang cepat dan efektif.
1. Kesiapan Infrastruktur Pelaksana
Peningkatan jumlah SPPG dari 246 menjadi 23.678 unit menunjukkan bahwa infrastruktur pelaksana program telah siap. Ini memungkinkan distribusi makanan bergizi dilakukan secara lebih cepat dan merata.
2. Sinkronisasi Data dan Koordinasi Antar Lembaga
Kemenkeu bersama instansi terkait telah melakukan sinkronisasi data yang baik. Koordinasi antar lembaga membuat proses penyaluran dana menjadi lebih efisien.
3. Penyaluran Dana yang Tepat Waktu
Anggaran yang cair tepat waktu memungkinkan pelaksana program untuk langsung bergerak. Pada Januari 2026 saja, realisasi anggaran MBG sudah mencapai Rp19,5 triliun.
Dampak Realisasi MBG terhadap Belanja Pemerintah
Realisasi program MBG yang tinggi turut mendorong peningkatan belanja pemerintah secara keseluruhan. Pada Januari 2026, belanja barang mencatatkan realisasi sebesar Rp25,9 triliun. Ini merupakan lonjakan yang sangat signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Selain belanja barang, komponen belanja lainnya juga menunjukkan tren positif:
- Belanja pegawai: Rp19,3 triliun
- Belanja modal: Rp1,2 triliun
- Belanja bansos: Rp9,5 triliun
Gabungan dari semua komponen ini membuat belanja kementerian/lembaga (K/L) mencapai Rp55,8 triliun, atau naik 128,9 persen dibandingkan periode sebelumnya. Angka ini setara dengan 3,7 persen dari target APBN 2026.
Belanja Non-K/L dan Total Belanja Pemerintah
Belanja non-K/L juga mencatatkan kinerja yang solid. Per 31 Januari 2026, belanja ini tercatat sebesar Rp76,1 triliun. Dengan tambahan belanja K/L sebesar Rp55,8 triliun, total belanja pemerintah mencapai Rp131,9 triliun atau naik 53,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ketika dikombinasikan dengan transfer ke daerah (TKD) sebesar Rp95,3 triliun, total belanja negara per 31 Januari 2026 mencapai Rp227,3 triliun.
Tantangan dan Prospek ke Depan
Meskipun capaian program MBG sangat positif, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah memastikan bahwa distribusi makanan bergizi tetap terjaga kualitasnya. Selain itu, pengawasan terhadap penggunaan anggaran harus terus diperketat agar tidak terjadi penyimpangan.
Namun, dengan infrastruktur yang semakin matang dan keterlibatan berbagai pihak, prospek program MBG ke depan terlihat cerah. Program ini tidak hanya menjadi solusi jangka pendek untuk masalah gizi, tetapi juga fondasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Kesimpulan
Realisasi anggaran MBG sebesar Rp36,6 triliun per 21 Februari 2026 menunjukkan komitmen pemerintah dalam menangani masalah gizi di tingkat nasional. Dengan peningkatan jumlah penerima dan infrastruktur pelaksana yang semakin baik, program ini menjadi salah satu andalan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Disclaimer: Data dalam artikel ini bersifat sementara dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan realisasi anggaran dan pelaporan resmi dari Kementerian Keuangan.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.








