Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa konflik antara AS dan Iran berpotensi memberikan dampak tak langsung yang cukup besar terhadap pasar finansial global. Meski baik Iran maupun Israel bukanlah pusat keuangan dunia, ketegangan yang terjadi tetap mampu menciptakan gejolak di pasar modal internasional.
Fokus utama dampak ini datang dari keterlibatan Amerika Serikat sebagai salah satu pusat keuangan terbesar di dunia. Ditambah lagi dengan posisi Iran yang strategis di kawasan Timur Tengah, membuat investor mulai waspada terhadap risiko yang muncul.
Dampak Tidak Langsung Konflik AS-Iran di Pasar Finansial Global
Konflik bersenjata atau ketegangan politik di kawasan Timur Tengah bukan hal baru. Namun, ketika melibatkan aktor global seperti Amerika Serikat, dampaknya bisa meluas jauh di luar kawasan konflik. Destry Damayanti menjelaskan bahwa meskipun dampak langsung dari konflik ini terbatas, dampak tidak langsungnya justru sangat signifikan.
Fenomena ini terjadi karena investor global cenderung menghindari risiko ketika situasi geopolitik memanas. Mereka pun mulai mencari aset-aset aman sebagai benteng perlindungan terhadap ketidakpastian.
1. Perilaku Investor Mengarah pada Risk-Off
Saat ketidakpastian global meningkat, investor biasanya mengubah strategi investasi mereka. Mereka beralih dari aset berisiko tinggi ke aset yang dianggap lebih aman, seperti obligasi pemerintah AS atau dolar Amerika.
Perilaku ini dikenal sebagai risk-off. Investor secara kolektif mulai menarik dana dari pasar berkembang dan memindahkannya ke negara maju yang dianggap lebih stabil.
2. Penguatan Dolar AS dan Yield Obligasi Naik
Akibat dari pergeseran dana tersebut, indeks dolar AS (DXY) mengalami penguatan. Pada periode tertentu, yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) mencapai kisaran 4,5 hingga 4,6 persen. Ini menunjukkan bahwa investor lebih memilih instrumen berbasis dolar yang dianggap aman.
3. Aliran Modal Keluar dari Pasar Berkembang
Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, merasakan tekanan akibat keluarnya modal asing. Meski ada peningkatan investasi di Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), secara keseluruhan, arus modal keluar dari Indonesia mencapai sekitar Rp21 triliun.
Respons BI terhadap Gejolak Pasar Global
Bank Indonesia sebagai otoritas moneter nasional terus memantau perkembangan situasi global. Destry Damayanti menyampaikan bahwa BI tetap waspada terhadap risiko yang muncul akibat ketidakpastian geopolitik.
Langkah-langkah antisipatif diambil untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dalam negeri. Termasuk dalam hal pengelolaan likuiditas dan koordinasi dengan pihak terkait untuk meminimalkan dampak negatif.
1. Penguatan Likuiditas Domestik
BI meningkatkan ketersediaan likuiditas di pasar keuangan domestik melalui berbagai instrumen kebijakan moneter. Tujuannya agar bank dan lembaga keuangan lainnya tetap bisa beroperasi dengan lancar meski ada tekanan dari luar.
2. Pemantauan Arus Modal Asing
Pemantauan terhadap arus modal asing dilakukan secara intensif. BI memperhatikan pergerakan dana dari dan ke negara berkembang, terutama yang berkaitan dengan portofolio investasi di pasar saham dan obligasi.
3. Koordinasi dengan Lembaga Internasional
Koordinasi dengan lembaga keuangan internasional juga menjadi bagian penting dari strategi BI. Kerja sama ini membantu BI memahami perkembangan pasar global dan merancang kebijakan yang tepat sasaran.
Perbandingan Dampak pada Negara Berkembang dan Negara Maju
| Indikator | Negara Maju | Negara Berkembang |
|---|---|---|
| Arus Modal | Masuk (Inflow) | Keluar (Outflow) |
| Mata Uang | Menguat | Melemah |
| Obligasi | Yield Naik | Yield Turun |
| Investor | Mencari Safe Haven | Menghindari Risiko |
Tabel di atas menunjukkan bahwa saat ketegangan geopolitik meningkat, negara maju justru mendapat manfaat dari arus modal masuk. Sebaliknya, negara berkembang seperti Indonesia mengalami tekanan dari keluarnya dana asing.
Strategi Jangka Pendek untuk Menghadapi Ketidakpastian Global
Menghadapi situasi seperti ini, investor perlu mempertimbangkan beberapa hal agar tidak terjebak volatilitas pasar.
1. Diversifikasi Portofolio Investasi
Menyebar risiko investasi ke berbagai instrumen dan negara bisa menjadi langkah bijak. Jangan terlalu fokus pada satu aset atau pasar tertentu.
2. Fokus pada Aset Berkualitas
Aset dengan fundamental kuat dan reputasi baik cenderung lebih tahan terhadap gejolak pasar. Saham blue chip atau obligasi negara maju bisa menjadi pilihan.
3. Jaga Likuiditas Pribadi
Pastikan sebagian dana tetap dalam bentuk likuid. Ini akan memberikan fleksibilitas saat pasar bergerak cepat dan tidak terduga.
Potensi Pergerakan Pasar di Masa Depan
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah bisa berlangsung lama. Ini berarti tekanan terhadap pasar keuangan global juga berpotensi berkelanjutan. Investor dan otoritas moneter harus siap menghadapi fluktuasi yang mungkin terjadi sewaktu-waktu.
Bank Indonesia sendiri terus menyesuaikan kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi tetap terkendali. Namun, keterbatasan ruang gerak kebijakan moneter juga menjadi tantangan tersendiri.
Kesimpulan
Konflik antara AS dan Iran memberi pelajaran penting tentang betapa saling terhubungnya pasar finansial global. Meski dampak langsungnya terbatas, dampak tidak langsungnya bisa sangat luas. Investor dan bank sentral harus tetap waspada dan siap merespons setiap perubahan yang terjadi.
Disclaimer: Data dan kondisi pasar keuangan bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi geopolitik dan ekonomi global. Informasi dalam artikel ini disajikan berdasarkan data hingga April 2026.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













