Ilustrasi rupiah sempat menjadi sorotan di tengah gejolak ketegangan global, terutama sejak konflik antara AS-Israel dan Iran mulai memanas. Meski begitu, kinerja mata uang Garuda ini ternyata lebih stabil dibandingkan dengan sejumlah negara tetangga. Bukan berarti rupiah tidak terpengaruh, tapi level depresiasinya masih dalam batas wajar dan jauh lebih terkendali.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa sejak konflik tersebut meletus, rupiah hanya terdepresiasi sebesar 0,3 persen secara month-to-date (mtd). Angka ini jauh lebih baik dibandingkan dengan sejumlah mata uang Asia Tenggara lainnya. Artinya, meski ada tekanan, rupiah tetap menunjukkan ketahanan yang cukup baik di tengah gejolak eksternal.
Perbandingan Depresiasi Mata Uang Asia Tenggara
Tak semua negara bisa bertahan kokoh saat dolar AS menguat secara global. Banyak mata uang regional justru mengalami pelemahan yang lebih dalam. Rupiah sendiri hanya melemah 0,3 persen sejak awal konflik, sementara negara-negara lain mengalami depresiasi yang lebih tajam.
Berikut perbandingan depresiasi mata uang beberapa negara Asia Tenggara sejak awal Maret 2026:
| Negara | Mata Uang | Depresiasi (mtd) |
|---|---|---|
| Indonesia | Rupiah (IDR) | 0,3% |
| Malaysia | Ringgit (MYR) | 0,5% |
| Thailand | Baht (THB) | 1,6% |
| Filipina | Peso (PHP) | 1,4% |
| Singapura | Dolar (SGD) | 0,3% |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa rupiah dan dolar Singapura sama-sama hanya melemah 0,3 persen. Sementara Thailand dan Filipina mengalami depresiasi yang lebih dalam, mencapai lebih dari 1 persen. Artinya, rupiah masih berada di zona aman meski ada tekanan eksternal.
Faktor yang Mendukung Stabilitas Rupiah
Ketahanan rupiah tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang mendukung agar mata uang ini tidak ikut terpuruk seperti rekan-rekan regionalnya. Ini semua menunjukkan bahwa kebijakan makro ekonomi Indonesia masih berjalan dengan baik.
1. Koordinasi Kebijakan Fiskal dan Moneter
Salah satu kunci utama adalah koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter. Purbaya menyebut bahwa sinergi ini mencerminkan ketahanan eksternal Indonesia. Artinya, pemerintah dan bank sentral tidak bekerja sendiri-sendiri, tapi saling mendukung untuk menjaga stabilitas ekonomi.
2. Fundamental Ekonomi yang Terjaga
Fundamental ekonomi dalam negeri juga masih positif. Ini memberikan keyakinan kepada investor bahwa Indonesia tetap layak dijadikan tujuan investasi. Kondisi ini membantu menahan laju depresiasi rupiah agar tidak terlalu dalam.
3. Respons Cepat terhadap Gejolak Global
Pemerintah dan otoritas moneter juga menunjukkan respons cepat terhadap gejolak global. Dengan langkah antisipatif, tekanan terhadap rupiah bisa diminimalkan. Ini termasuk pengelolaan likuiditas dan intervensi pasar jika diperlukan.
Sentimen Publik dan Kritik di Media Sosial
Meski secara teknis rupiah masih dalam batas wajar, banyak masyarakat yang menyampaikan kritik di media sosial. Kenaikan harga barang dan biaya hidup yang dirasakan membuat publik merasa bahwa rupiah sedang melemah secara signifikan. Padahal, secara relatif, pelemahan ini masih jauh lebih baik dibandingkan negara lain.
Purbaya meminta masyarakat untuk melihat kondisi secara objektif. Rupiah bukan satu-satunya mata uang yang terkena tekanan. Hampir semua negara mengalami hal serupa akibat penguatan dolar AS dan ketidakpastian geopolitik global.
Prediksi Nilai Tukar Rupiah ke Depan
Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut bahwa rupiah sempat menguat di awal perdagangan Rabu. Pada sesi pembukaan, rupiah bergerak naik 12 poin atau 0,07 persen menjadi Rp16.851 per USD. Namun, penguatan ini tidak serta merta menjamin tren jangka panjang.
Leong menyebut bahwa harga minyak yang turun cukup signifikan menjadi salah satu faktor yang mendorong penguatan rupiah. Namun, ketegangan geopolitik masih menjadi penghalang utama bagi apresiasi lebih lanjut.
Kisaran Prediksi Nilai Tukar
Berdasarkan berbagai faktor, berikut prediksi kisaran nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam jangka pendek:
| Faktor Pendukung Penguatan | Faktor Penekan Rupiah |
|---|---|
| Turunnya harga minyak | Ketegangan global |
| Stabilitas ekonomi lokal | Penguatan dolar AS |
| Kebijakan makro terjaga | Arus modal keluar |
Dengan melihat berbagai variabel tersebut, rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp16.800 hingga Rp16.950 per USD dalam beberapa pekan ke depan. Ini menunjukkan bahwa rupiah masih cukup stabil meski ada tekanan dari luar.
Penilaian Investor dan Prospek Pasar Modal
Purbaya juga optimistis bahwa stabilitas rupiah akan berdampak positif pada pasar modal. Fundamental ekonomi yang kuat diharapkan bisa menarik kembali investor asing ke pasar saham domestik. Pasar modal yang sehat adalah cerminan dari kondisi ekonomi yang baik.
Kalau ekonomi dalam negeri tetap stabil, investor pun akan kembali percaya diri. Saham-saham yang sempat terkoreksi pun berpotensi naik kembali ke level yang lebih baik. Ini adalah sinyal positif bagi pelaku pasar modal jangka panjang.
Disclaimer
Data dan prediksi yang disajikan dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi geopolitik global serta kebijakan makro ekonomi dalam negeri. Nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga rentang prediksi bisa saja bergeser tergantung kondisi aktual di lapangan.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













