Pertumbuhan industri pengolahan di Indonesia pada tahun 2025 memang mencatatkan angka yang menggembirakan. Namun, di balik angka positif itu, ada sektor yang justru mulai tertinggal. Sektor padat karya seperti tekstil, pakaian jadi, kayu, karet, dan plastik menghadapi tantangan besar. Bahkan, industri karet dan plastik mencatat kontraksi sebesar 4,07 persen di tahun yang sama. Padahal, sektor ini merupakan penyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Lembaga riset NEXT Indonesia Center mencatat bahwa pertumbuhan industri yang lebih dominan berasal dari subsektor logam dasar dan mesin. Sementara itu, industri yang selama ini menjadi tulang punggung lapangan kerja mulai kehilangan peran. Ketimpangan ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk segera melakukan intervensi. Jika dibiarkan terus-menerus, dampaknya bisa dirasakan secara luas, terutama oleh pekerja di sektor informal dan menengah ke bawah.
Sektor Padat Karya Masih Jadi Tulang Punggung Tenaga Kerja
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Agustus 2025, sektor industri pengolahan menyerap tenaga kerja sebanyak 20,3 juta orang. Angka ini menyumbang 13,86 persen dari total tenaga kerja nasional. Artinya, hampir satu dari tujuh pekerja di Indonesia bergantung pada industri pengolahan. Pertumbuhan jumlah pekerja di sektor ini juga mencatatkan peningkatan 1,49 persen dibanding tahun sebelumnya.
Namun, pertumbuhan jumlah pekerja tidak serta merta berbanding lurus dengan kesehatan sektor itu sendiri. Justru, beberapa subsektor mengalami stagnasi bahkan penurunan. Terutama yang termasuk dalam kategori sunset industry, yaitu industri yang mulai tertinggal karena perubahan teknologi dan preferensi pasar global.
Perbandingan Pertumbuhan Subsektor Industri Pengolahan 2025
| Subsektor | Pertumbuhan Tahunan |
|---|---|
| Logam Dasar | 15,71% |
| Mesin dan Perlengkapan | 13,98% |
| Kimia, Farmasi, Obat Tradisional | Stabil |
| Elektronik dan Peralatan Listrik | Stabil |
| Tekstil dan Pakaian Jadi | Tertekan |
| Karet dan Plastik | -4,07% |
Investasi di Sektor Industri Pengolahan
Total realisasi investasi di sektor industri pengolahan pada 2025 mencapai Rp780,9 triliun. Angka ini naik dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp721,3 triliun. Namun, kontribusi terhadap total investasi nasional justru mengalami penurunan dari 42,08 persen menjadi 40,44 persen.
Penurunan ini disebabkan oleh stagnasi penanaman modal asing (PMA). Meski investasi domestik (PMDN) mengalami peningkatan, namun tidak cukup untuk menutupi perlambatan dari investor asing. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga momentum pertumbuhan industri yang inklusif.
Mengapa Sektor Padat Karya Tertinggal?
-
Perubahan Rantai Pasok Global
Globalisasi dan otomatisasi membuat permintaan pasar bergeser ke produk dengan nilai tambah tinggi. Sektor padat karya yang masih mengandalkan tenaga kerja manual mulai kalah bersaing. -
Persaingan Biaya Produksi
Negara lain dengan upah tenaga kerja lebih rendah menawarkan produk yang lebih murah. Ini membuat produk lokal kesulitan menembus pasar global. -
Kurangnya Inovasi dan Teknologi
Banyak perusahaan padat karya belum mampu mengadopsi teknologi terbaru. Padahal, inovasi menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. -
Kebijakan yang Belum Merata
Fokus kebijakan seringkali tertuju pada industri berbasis teknologi tinggi. Sementara itu, sektor padat karya belum mendapat perhatian yang cukup.
Langkah Strategis untuk Revitalisasi Sektor Padat Karya
-
Kebijakan Reindustrialisasi
Pemerintah perlu merancang kebijakan khusus yang menargetkan revitalisasi sektor padat karya. Ini termasuk insentif pajak, kemudahan akses permodalan, dan dukungan teknologi. -
Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja
Pelatihan dan sertifikasi ulang bagi pekerja menjadi penting. Tujuannya agar tenaga kerja bisa beradaptasi dengan teknologi terbaru dan standar produksi global. -
Peningkatan Infrastruktur dan Distribusi
Pemerataan pembangunan infrastruktur sangat penting. Sektor padat karya yang tersebar di daerah perlu akses yang sama terhadap pasar, listrik, dan transportasi. -
Dukungan Pasar Dalam Negeri
Program pengadaan barang dari industri lokal, seperti untuk kebutuhan pemerintah atau BUMN, bisa menjadi penopang permintaan pasar. -
Kolaborasi dengan Dunia Usaha
Pemerintah perlu menjalin komunikasi erat dengan pelaku industri. Ini untuk memastikan kebijakan yang dibuat relevan dan bisa langsung diimplementasikan.
Potensi Sektor Padat Karya di Era Digital
Meski menghadapi tantangan, sektor padat karya tetap punya potensi besar. Terutama jika mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Digitalisasi proses produksi, pemasaran berbasis e-commerce, dan pemanfaatan big data bisa menjadi pendorong pertumbuhan.
Selain itu, tren konsumen global yang mulai kembali menghargai produk handmade dan lokal juga bisa dimanfaatkan. Produk dengan nilai budaya dan estetika tinggi bisa menjadi komoditas unggulan di pasar internasional.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersumber dari laporan resmi BPS dan NEXT Indonesia Center per Maret 2026. Angka-angka yang disajikan bisa berubah seiring perkembangan ekonomi dan kebijakan pemerintah. Pembaca disarankan untuk selalu merujuk pada sumber resmi untuk informasi terbaru.
Sektor padat karya bukan hanya soal angka dan statistik. Di baliknya ada jutaan pekerja yang bergantung pada industri ini. Jika tidak ditangani dengan serius, ketimpangan ini bisa memicu masalah sosial dan ekonomi yang lebih besar. Perlunya perhatian khusus dari semua pihak menjadi keniscayaan agar pertumbuhan industri benar-benar berdampak merata.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.







