Dolar AS kembali terpuruk di tengah gejolak geopolitik dan sentimen pasar yang mulai goyah. Pelemahan ini terjadi tak lama setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana penarikan pasukan dari Iran, sekaligus mengisyaratkan kemungkinan gencatan senjata. Pasar bereaksi cepat, dan nilai tukar dolar langsung terkoreksi terhadap enam mata uang utama dunia.
Indeks Dolar AS yang mengukur kekuatan mata uangnya terhadap sekelompok besar mata uang utama turun 0,32 persen pada perdagangan Rabu waktu setempat. Penurunan ini membawa indeks ke level 99,648. Euro dan poundsterling mencatat kenaikan tajam, sementara yen Jepang, franc Swiss, dolar Kanada, dan krona Swedia juga ikut menggerogoti dominasi dolar.
Dolar Tertekan, Sentimen Pasar Berubah
Pergerakan nilai tukar dolar tidak lepas dari isu geopolitik yang tengah berkembang. Pernyataan Trump soal gencatan senjata dengan Iran menciptakan ekspektasi baru di pasar. Investor mulai memindahkan posisi ke aset lain yang dianggap lebih stabil atau berpotensi menguntungkan.
Euro menguat menjadi USD1,1607 dari level sebelumnya di USD1,1523. Poundsterling juga naik tajam ke USD1,3324 dari USD1,3189. Sementara itu, dolar hanya dibanderol di kisaran 158,82 yen Jepang, turun dari 158,95 sehari sebelumnya. Franc Swiss dan krona Swedia juga ikut menyusun tekanan tambahan pada mata uang AS.
1. Euro Naik Tajam Menjelang Ketidakpastian Geopolitik
Euro menjadi salah satu pemenang utama dari pelemahan dolar. Kenaikan ini dipicu oleh optimisme pasar terhadap stabilitas Eropa meski ketegangan di Timur Tengah belum sepenuhnya reda. Investor mencari alternatif yang lebih aman, dan euro menjadi pilihan utama.
2. Poundsterling Menguat di Tengah Optimisme Brexit Pasca-Ulasan
Poundsterling juga mencatat kenaikan yang cukup signifikan. Meski tidak ada kebijakan baru dari pemerintah Inggris, sentimen positif terhadap prospek ekonomi pasca-Brexit masih menjadi pendorong utama penguatan mata uang ini.
3. Yen Jepang Tetap Stabil Meski Dolar Melemah
Yen Jepang diperdagangkan di level 158,82 per dolar AS. Meski mengalami sedikit pelemahan dari level sebelumnya, yen tetap menjadi mata uang pelarian investor saat ketidakpastian global meningkat.
4. Franc Swiss Jadi Alternatif Aman
Franc Swiss kembali menarik minat investor. Dolar AS melemah menjadi 0,7931 franc Swiss dari level sebelumnya di 0,8008. Stabilitas ekonomi Swiss dan reputasinya sebagai safe haven terus menjadi daya tarik utama.
5. Dolar Kanada dan Krona Swedia Ikut Melemahkan Dolar
Dolar Kanada turun menjadi 1,3895 per dolar AS dari 1,3937. Sementara krona Swedia juga mengalami tekanan, turun ke 9,3935 dari 9,4895. Keduanya mencerminkan sentimen pasar yang mulai menjauhi dolar AS.
Trump Umumkan Rencana Tarik Pasukan dari Iran
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyatakan bahwa Presiden Iran yang baru jauh lebih moderat dan telah mengajukan permintaan gencatan senjata. Ia juga mengisyaratkan bahwa pasukan AS bisa ditarik dalam dua hingga tiga minggu ke depan.
“Presiden Rezim Baru Iran, yang jauh kurang radikal dan jauh lebih cerdas daripada para pendahulunya, baru saja meminta Amerika Serikat untuk gencatan senjata!” tulis Trump.
Ia menambahkan bahwa AS akan mempertimbangkan tawaran itu selama Selat Hormuz tetap terbuka dan bebas dari gangguan. Sampai saat itu, ancaman keras terhadap Iran masih tetap terlontar.
Selat Hormuz Jadi Fokus Utama Pasar Global
Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran sejak awal pekan telah memicu lonjakan harga minyak dunia. Jalur air strategis ini menjadi jalur utama bagi seperlima pasokan minyak global. Ketidakstabilan di kawasan ini berdampak langsung pada sentimen pasar keuangan.
Trump mengatakan bahwa AS bisa menarik diri dari konflik dalam waktu dua hingga tiga minggu. Namun, ia juga menegaskan bahwa Iran tidak perlu membuat kesepakatan untuk mengakhiri konflik tersebut. Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan kesiapan Teheran untuk mengakhiri perang.
Logam Mulia Ikut Bergerak
Di tengah gejolak ini, investor juga memindahkan dana ke aset berharga lainnya. Perak naik tipis 0,2 persen menjadi USD75,2845 per ons. Platinum juga menguat 0,3 persen ke level USD1.976,35 per ons.
Pergerakan logam mulia ini menunjukkan bahwa investor tidak hanya fokus pada mata uang, tapi juga mencari nilai aman di komoditas yang secara historis dianggap stabil di masa krisis.
Perbandingan Nilai Tukar Dolar AS terhadap Mata Uang Utama (Rabu, 2 April 2026)
| Mata Uang | Nilai Sebelumnya | Nilai Terkini | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Euro | 1,1523 | 1,1607 | +0,73% |
| Poundsterling | 1,3189 | 1,3324 | +1,02% |
| Yen Jepang | 158,95 | 158,82 | -0,08% |
| Franc Swiss | 0,8008 | 0,7931 | -0,96% |
| Dolar Kanada | 1,3937 | 1,3895 | -0,30% |
| Krona Swedia | 9,4895 | 9,3935 | -1,01% |
Penutup: Dolar di Ambang Ketidakpastian
Dolar AS memasuki fase ketidakpastian baru. Pelemahan terhadap enam mata uang utama dunia mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap perkembangan geopolitik. Rencana Trump menarik pasukan dari Iran dan potensi gencatan senjata membuka babak baru dalam dinamika global.
Investor kini harus waspada. Sentimen bisa berubah dalam hitungan jam, terutama jika ada pernyataan baru dari pihak Iran atau langkah konkret dari AS. Di tengah situasi seperti ini, diversifikasi portofolio dan pemantauan terus-menerus terhadap perkembangan makroekonomi menjadi kunci.
Disclaimer: Data dan nilai tukar yang disebutkan dalam artikel ini bersifat terbatas pada periode tertentu dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan pasar dan kebijakan moneter global.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













