Nasional

Indeks Harga Saham Gabungan Melonjak ke 7500 Pada Tahun 2026

Herdi Alif Al Hikam
×

Indeks Harga Saham Gabungan Melonjak ke 7500 Pada Tahun 2026

Sebarkan artikel ini
Indeks Harga Saham Gabungan Melonjak ke 7500 Pada Tahun 2026

Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan aktivitas yang cukup ramai pada perdagangan Senin, 13 . Setelah sempat terperosok di awal sesi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil rebound ke level 7.500. Pergerakan ini menunjukkan adanya sentimen positif yang mulai menguat di tengah ketidakpastian pasar global.

Pada penutupan, IHSG naik 41,69 poin atau 0,56 persen ke posisi 7.500. Sebelumnya, indeks ini sempat dibuka di level 7.410 dan mencatat titik terendah di angka 7.351. Namun, tekanan jual yang awalnya berangsur-angsur melemah seiring masuknya minat beli dari investor domestik. Puncak pencapaian hari ini berada di 7.527.

IHSG Tertahan di Awal Pekan

Pergerakan IHSG hari ini mencerminkan dinamika pasar yang cukup kompleks. Di satu sisi, tekanan dari bursa Asia yang melemah sempat membawa IHSG ke zona merah. Di sisi lain, pulihnya indeks secara perlahan menunjukkan bahwa investor lokal masih memiliki keyakinan terhadap potensi pasar dalam negeri.

Volume perdagangan yang tercatat cukup tinggi, yakni 42,514 miliar saham senilai Rp20,451 triliun. Kapitalisasi pasar mencapai Rp13,364 triliun dengan sebanyak 2,56 juta kali. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan tetap aktif meskipun dalam kondisi yang belum sepenuhnya stabil.

1. Saham yang Naik Lebih Dominan

Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 397 saham bergerak menguat. Jumlah ini sedikit lebih banyak dibandingkan 264 saham yang melemah dan 156 saham yang stagnan. Perbandingan ini menunjukkan bahwa sentimen pasar mulai condong ke arah positif, meskipun belum terlalu kuat.

Kategori Saham Jumlah
Saham Menguat 397
Saham Melemah 264
Saham Stagnan 156

2. Peran Investor Domestik dalam Pemulihan IHSG

Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas mencatat bahwa permintaan domestik masih menjadi penopang utama di tengah tekanan eksternal. Investor asing yang sempat mengurangi eksposur di mulai digantikan oleh investor lokal yang lebih optimis terhadap prospek dalam negeri.

Faktor Pendorong Kenaikan IHSG

Beberapa indikator ekonomi dalam negeri menjadi sorotan utama bagi pelaku pasar. Rilis data dari Bank Indonesia (BI) seperti , Statistik Utang Luar Negeri (ULN), Prompt Manufacturing Index (PMI), dan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) menjadi acuan penting dalam menilai arah IHSG ke depannya.

1. Survei Penjualan Eceran

Data konsumsi pasca-Ramadan menjadi kunci untuk menilai keberlanjutan daya beli masyarakat. Jika angka penjualan eceran menunjukkan pertumbuhan yang positif, ini bisa menjadi sinyal bahwa sektor konsumsi masih menjadi tulang punggung ekonomi.

2. Statistik Utang Luar Negeri (ULN)

Stabilitas ULN menjadi indikator penting bagi persepsi eksternal. Arus modal asing sangat sensitif terhadap fluktuasi . Jika ULN tetap terjaga, investor asing pun cenderung lebih percaya diri untuk kembali memasukkan dananya ke pasar saham Indonesia.

3. Prompt Manufacturing Index (PMI)

PMI BI memberikan gambaran kondisi sektor secara real-time. Nilai PMI di atas 50 menunjukkan ekspansi, sedangkan di bawah 50 menandakan kontraksi. Data ini sangat penting untuk menilai kinerja sektor riil yang menjadi pilar utama perekonomian.

4. Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU)

SKDU memberikan gambaran aktivitas bisnis di berbagai sektor. Hasil survei ini bisa menjadi indikator awal apakah dunia usaha mulai pulih atau masih terpuruk pasca-periode liburan panjang.

Prediksi IHSG ke Depan

Tim riset dari berbagai perusahaan sekuritas memperkirakan bahwa IHSG akan menguat terbatas dalam jangka pendek. Kenaikan yang terjadi saat ini lebih bersifat teknis dan belum menunjukkan tren bullish yang kuat. Investor masih menunggu rilis data-data fundamental yang lebih kuat sebagai konfirmasi arah pasar selanjutnya.

Namun, optimisme terhadap prospek ekonomi domestik terus meningkat. Apalagi jika stimulus dari pemerintah mulai terasa di lapangan, terutama di sektor riil dan infrastruktur.

Disclaimer

Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terbatas hingga tanggal publikasi. Angka-angka yang disebutkan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar dan faktor makro ekonomi lainnya. Harap merujuk pada sumber untuk informasi terbaru.

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.