Harga minyak dunia melonjak tajam pada awal pekan ini. Lonjakan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah, khususnya setelah serangkaian serangan militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Pergerakan harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) mencatat kenaikan dua digit dalam sehari. Investor dan pelaku pasar langsung bereaksi terhadap potensi gangguan pasokan global yang bisa terjadi akibat eskalasi konflik tersebut.
Harga Minyak Naik Akibat Ketegangan Geopolitik
Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak terus meningkat seiring eskalasi ketegangan antara AS-Israel dan Iran. Serangan militer yang terjadi akhir pekan lalu berpotensi mengganggu jalur pengiriman strategis di kawasan.
Iran membalas aksi militer AS dan Israel dengan melancarkan serangan rudal ke beberapa negara di Teluk Persia. Termasuk Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab yang memiliki hubungan erat dengan Amerika.
1. Lonjakan Harga Minyak Brent dan WTI
Harga minyak Brent berjangka naik hingga 6,8 persen, mencapai USD77,80 per barel. Ini merupakan level tertinggi sejak Januari 2025. Sementara itu, harga minyak WTI naik 5,7 persen menjadi USD70,85 per barel.
Kenaikan ini terjadi dalam konteks ketidakpastian yang tinggi. Pasar minyak langsung merespons cepat terhadap ancaman gangguan pasokan dari kawasan yang menjadi pusat produksi dan distribusi energi global.
2. Reaksi Pasar terhadap Eskalasi Militer
Investor memperkirakan bahwa konflik ini bisa berlangsung lebih dari beberapa hari. Apalagi, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa aksi militer terhadap Iran akan terus berlanjut. Ia juga memperingatkan akan adanya korban tambahan di kalangan personel militer AS.
Ahli strategi energi dari Macquarie, Vikas Dwivedi, menyatakan bahwa durasi konflik menjadi faktor utama yang menentukan dampaknya terhadap pasar energi. Jika konflik bersifat jangka pendek, gangguan bisa terbatas. Namun jika berlarut-larut, efeknya bisa sangat luas.
Dampak pada Jalur Pengiriman Strategis
Salah satu jalur paling kritis dalam perdagangan minyak global adalah Selat Hormuz. Sekitar 20 persen minyak dunia melewati selat ini setiap hari. Jika jalur ini terganggu, dampaknya akan dirasakan secara global.
Iran dikabarkan telah menyerang beberapa kapal yang melewati Selat Hormuz. Ini menandakan bahwa gangguan pasokan bisa terjadi dalam waktu dekat, terutama jika ketegangan terus meningkat.
3. Potensi Gangguan Pasokan Jangka Pendek
Penyerbuan kapal-kapal komersial oleh Iran menjadi indikator awal dari gangguan logistik. Jika situasi memburuk, bisa terjadi penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Hal ini akan langsung berdampak pada harga minyak. Pasar energi sangat sensitif terhadap risiko logistik, terutama di kawasan rawan konflik seperti Teluk Persia.
4. Respon OPEC+ terhadap Lonjakan Permintaan
Sebagai langkah antisipasi, OPEC+ mengumumkan peningkatan produksi sebesar 206.000 barel per hari. Keputusan ini diambil dalam pertemuan yang digelar pada akhir pekan sebelum harga minyak melonjak.
Langkah ini merupakan upaya pertama OPEC sejak akhir 2025 untuk menstabilkan pasar. Namun, efektivitasnya masih tergantung pada sejauh mana anggota kartel ini bisa menerapkan peningkatan produksi secara nyata.
Perbandingan Harga Minyak Sebelum dan Sesudah Eskalasi
Berikut adalah perbandingan harga minyak sebelum dan sesudah lonjakan akibat ketegangan geopolitik:
| Jenis Minyak | Harga Sebelum Eskalasi | Harga Setelah Eskalasi | Kenaikan (%) |
|---|---|---|---|
| Minyak Brent | USD72,80 per barel | USD77,80 per barel | 6,8% |
| Minyak WTI | USD67,00 per barel | USD70,85 per barel | 5,7% |
Peningkatan harga ini terjadi dalam waktu singkat, menunjukkan bahwa pasar sangat responsif terhadap isu geopolitik. Investor langsung mencari perlindungan (safe haven) ke komoditas strategis seperti minyak mentah.
Langkah-Langkah Produksi OPEC+ dalam Menghadapi Krisis
OPEC+ telah mengambil beberapa langkah strategis dalam beberapa tahun terakhir untuk menjaga stabilitas pasar. Namun, lonjakan harga saat ini menunjukkan bahwa faktor eksternal seperti konflik militer bisa mengalahkan rencana produksi yang sudah disusun.
1. Penyesuaian Produksi sejak 2025
Sejak pertengahan 2025, OPEC+ telah meningkatkan produksi sekitar 2,5 juta barel per hari. Langkah ini diambil untuk mengimbangi permintaan global yang terus meningkat dan mengurangi ketergantungan pada pasokan non-OPEC.
Namun, peningkatan produksi juga sempat dihentikan sementara pada November 2025. Ini dilakukan untuk memberikan ruang bagi harga agar tidak terlalu rendah, yang bisa merugikan produsen.
2. Kebijakan Baru Menjelang 2026
Pada pertemuan terakhir, OPEC+ sepakat untuk menambah produksi sebesar 206.000 barel per hari. Ini merupakan langkah antisipatif menjelang potensi gangguan pasokan akibat ketegangan di Timur Tengah.
Namun, apakah peningkatan ini cukup untuk mengimbangi potensi kekurangan pasokan masih menjadi pertanyaan. Terutama jika konflik berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.
Faktor-Faktor Lain yang Mempengaruhi Harga Minyak
Selain faktor geopolitik, ada beberapa elemen lain yang turut memengaruhi harga minyak dunia. Termasuk kebijakan moneter global, permintaan energi dari negara maju, dan kondisi cuaca ekstrem.
Namun, dalam situasi saat ini, faktor utama tetaplah ketegangan militer. Pasar minyak sangat peka terhadap risiko yang bisa mengganggu pasokan. Dan kawasan Timur Tengah tetap menjadi titik panas utama.
Penurunan Permintaan Global
Di sisi lain, permintaan minyak global sempat melambat akibat perlambatan ekonomi di beberapa negara besar. Namun, lonjakan harga akibat konflik bisa mengurangi efek penurunan permintaan tersebut.
Investor lebih memilih membeli minyak sebagai aset aman ketimbang menjualnya meskipun permintaan sedang turun. Ini menunjukkan bahwa faktor geopolitik bisa lebih dominan dibandingkan faktor ekonomi makro.
Penutup
Lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan AS-Israel dan Iran menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas pasar energi global. Dalam waktu singkat, harga bisa melonjak dua digit jika ada ancaman terhadap pasokan.
Langkah OPEC+ untuk menaikkan produksi adalah respons awal yang penting. Namun, efektivitasnya akan tergantung pada durasi dan intensitas konflik yang terjadi.
Disclaimer: Data harga dan kondisi geopolitik bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan situasi di lapangan.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













