Finansial

OJK Siapkan National Fraud Portal untuk Tingkatkan Efektivitas Penanganan Penipuan di IASC

Herdi Alif Al Hikam
×

OJK Siapkan National Fraud Portal untuk Tingkatkan Efektivitas Penanganan Penipuan di IASC

Sebarkan artikel ini
OJK Siapkan National Fraud Portal untuk Tingkatkan Efektivitas Penanganan Penipuan di IASC

Maraknya modus penipuan digital akhir-akhir ini membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai memperkuat penanganan fraud. Salah satu langkah yang akan diambil adalah pembuatan National Fraud Portal di bawah naungan Indonesia Anti Scam Center (IASC). Langkah ini diharapkan bisa meningkatkan efektivitas pelacakan dan pemblokiran rekening terkait penipuan secara real time.

Pejabat Sementara Ketua sekaligus Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, , menjelaskan bahwa modus penipuan kini lebih banyak dilakukan secara digital. Kondisi ini sejalan dengan percepatan adopsi teknologi di berbagai sektor. Oleh karena itu, OJK merasa perlu memperkuat sistem dengan pendekatan digital yang lebih cepat dan responsif.

Membangun Sistem Nasional untuk Lawan Penipuan Digital

Langkah pembentukan National Fraud Portal merupakan bagian dari upaya OJK untuk meningkatkan ketahanan terhadap berbagai bentuk scam dan fraud. Portal ini akan terintegrasi langsung dengan IASC, sehingga memungkinkan pengelolaan laporan dan tindak lanjutnya berjalan lebih efisien.

1. Integrasi Data Rekening Terkait Penipuan

Salah satu keunggulan dari National Fraud Portal adalah kemampuannya dalam mengidentifikasi rekening yang sering digunakan sebagai alat penipuan. Dengan sistem ini, rekening-rekening mencurigakan bisa langsung diblokir sebelum menimbulkan kerugian lebih besar.

2. Peningkatan Kecepatan Respons terhadap Laporan Scam

Kecepatan menjadi faktor krusial dalam menangani kasus penipuan digital. Semakin cepat rekening diblokir, semakin besar peluang dana korban bisa diselamatkan. Portal ini dirancang untuk mempercepat proses tersebut melalui sistem otomatis dan lintas lembaga.

3. Sinkronisasi dengan Lembaga Keuangan

Portal ini akan terhubung langsung dengan dan penyedia sistem pembayaran lainnya. ini memungkinkan data laporan korban bisa langsung masuk dan diproses tanpa melalui tahapan manual yang memakan waktu.

Data Penipuan Digital di Indonesia

Sejak diluncurkan pada November 2024, IASC telah mencatat jumlah laporan yang cukup tinggi. Hingga Februari , total laporan mencapai 477.600 kasus. Dari jumlah tersebut, sebagian besar berasal dari korban yang melaporkan langsung ke IASC, sementara sisanya masuk melalui bank dan lembaga keuangan lainnya.

Kategori Jumlah
Total 477.600
Laporan melalui bank & lembaga keuangan 243.323
Laporan langsung ke IASC 234.277
Rekening terkait penipuan 809.355
Rekening yang diblokir 436.727

Dari data tersebut, OJK juga mencatat total dana korban yang berhasil diblokir mencapai Rp 566,1 miliar. Dari jumlah itu, sekitar Rp 167 miliar telah dikembalikan kepada 1.072 korban dari berbagai bank yang terlibat.

Tantangan dalam Penanganan Fraud Digital

Meski sudah ada kemajuan, masih ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam penanganan fraud digital. Salah satunya adalah kecepatan pelaku dalam mengubah metode dan rekening yang digunakan.

1. Modus yang Terus Berubah

Pelaku penipuan digital kini semakin kreatif. Mereka bisa dengan cepat berpindah rekening, platform, atau bahkan identitas palsu untuk menghindari deteksi. Hal ini membuat sistem harus terus diperbarui agar tetap efektif.

2. Keterlibatan Lembaga Keuangan Mikro

OJK juga tengah mengusut dugaan fraud di 14 lembaga keuangan mikro. Kasus seperti di Dana Syariah Indonesia (DSI) yang menyebabkan kerugian hingga Rp 1,41 triliun menunjukkan bahwa sektor ini juga rentan terhadap penipuan.

3. Kebutuhan Edukasi Masyarakat

Selain teknologi, edukasi menjadi pilar penting dalam pencegahan penipuan. Banyak korban masih tidak sadar bahwa mereka sedang menjadi scam, terutama melalui media sosial atau aplikasi pesan instan.

Strategi OJK dalam Memperkuat Pengawasan

OJK tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga memperkuat pengawasan terhadap lembaga keuangan. Salah satu langkah yang diambil adalah pemeriksaan khusus terhadap lembaga yang diduga terlibat dalam aktivitas mencurigakan.

1. Pemeriksaan Khusus pada Lembaga Tertentu

OJK telah membentuk tim khusus untuk melakukan pemeriksaan mendalam terhadap lembaga keuangan yang menunjukkan indikasi fraud. Salah satunya adalah kasus DSI yang tengah ditelusuri hingga 31 Maret 2026 mendatang.

2. Kolaborasi dengan Satgas PASTI

Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) menjadi mitra strategis OJK dalam menangani kasus penipuan. Kolaborasi ini memperkuat sinergi antara regulator dan aparat penegak .

3. Pengembangan Sistem Pelaporan Real Time

Dengan National Fraud Portal, diharapkan masyarakat bisa melaporkan kasus penipuan secara real time. Sistem ini juga memungkinkan pelacakan aliran dana secara cepat dan akurat.

Peran Masyarakat dalam Pencegahan Fraud

Masyarakat juga memiliki peran penting dalam mencegah penipuan digital. Kesadaran untuk tidak mudah percaya pada tawaran yang terlalu menguntungkan atau data pribadi menjadi langkah awal yang efektif.

1. Waspada terhadap Tawaran yang Terlalu Menarik

Banyak modus penipuan menggunakan iming-iming hadiah besar atau investasi cepat kaya. Penting untuk selalu memverifikasi kebenaran informasi tersebut sebelum mengambil tindakan.

2. Tidak Mudah Memberikan Data Pribadi

Data pribadi seperti nomor rekening, KTP, atau PIN menjadi target utama pelaku penipuan. Jaga kerahasiaan informasi ini dan hindari membagikannya secara sembarangan.

3. Laporkan Jika Menjadi Korban

Jika terlanjur tertipu, segera laporkan ke IASC atau lembaga terkait. Semakin cepat laporan masuk, semakin besar peluang dana bisa diselamatkan.

Disclaimer

Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terbuka dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan situasi dan regulasi yang berlaku. Angka yang disebutkan merupakan hasil laporan resmi hingga Februari 2026 dan dapat berbeda pada periode berikutnya.

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.