Saham big banks sempat tertekan di tengah gelombang aksi jual bersih (net sell) dari investor asing. Pelemahan ini terjadi meskipun secara fundamental sektor perbankan masih menunjukkan tanda-tanda ketahanan. Investor pun mulai mencari tahu apa sebenarnya yang menyebabkan tekanan ini dan bagaimana peluang ke depannya.
Dalam perdagangan Selasa (7/4/2026), sejumlah saham bank besar mengalami penurunan cukup signifikan. BBNI misalnya, tercatat turun 3,57% atau 130 poin ke level Rp 3.510 per saham. Angka ini jauh dari performa pembukaan harian yang berada di Rp 3.640. Dalam kurun waktu satu minggu, sahamnya bahkan sudah terkoreksi hingga 6,65%.
Dinamika Pasar Saham Big Banks
Saham BBRI juga ikut melemah, turun 2,42% ke posisi Rp 3.230. Pembukaan perdagangan hari itu sendiri sudah menunjukkan sinyal negatif karena saham langsung dibuka di bawah level sebelumnya. Secara mingguan, saham BBRI sudah tergerus 3%.
Bank Mandiri (BMRI) tak kalah tertekan. Sahamnya ditutup minus 2,17% di level Rp 4.510. Investor tampak skeptis sejak awal sesi perdagangan, yang dibuka di angka Rp 4.600. Dalam satu pekan terakhir, kinerjanya juga belum pulih sepenuhnya, masih terkoreksi 4,45%.
Yang menarik, hanya BBCA yang relatif stagnan di level Rp 6.500. Meski begitu, kenaikan tipis sebesar 0,78% dalam seminggu menunjukkan bahwa saham ini tidak sepenuhnya ikut terpuruk.
1. Aksi Jual Bersih Asing Picu Tekanan
Investor asing dalam sepekan terakhir (1–7 April 2026) melakukan aksi jual bersih terhadap saham-saham big banks. Data menunjukkan bahwa BBRI menjadi korban net sell terbesar sebesar Rp 2,55 triliun. Disusul oleh BMRI Rp 1,89 triliun, BBCA Rp 1,34 triliun, dan BBNI Rp 400,18 miliar.
| Saham | Net Sell Asing (Rp) |
|---|---|
| BBRI | 2,55 triliun |
| BMRI | 1,89 triliun |
| BBCA | 1,34 triliun |
| BBNI | 400,18 miliar |
2. Penyebab Fundamental dan Eksternal
Head of Online Trading BCA Sekuritas, Achmad Yaki, menyampaikan bahwa sejak awal tahun 2026, sektor perbankan sudah menghadapi tantangan. Salah satunya adalah pengetatan likuiditas dan turunnya rasio dana murah (CASA), terutama di bank besar.
Di sisi lain, faktor eksternal seperti ketidakpastian geopolitik—termasuk konflik Timur Tengah—ikut memberi tekanan. Investor asing cenderung keluar dari pasar emerging market saat situasi global tidak menentu.
Namun, dari segi fundamental, kondisi perbankan nasional masih dianggap sehat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan pertumbuhan kredit tahun ini di kisaran 10%–12%. Target ini lebih tinggi dibandingkan 2025 yang hanya 9%–11%.
Prospek Sektor Perbankan di Tengah Koreksi
Fokus penyaluran kredit tahun ini akan dialokasikan ke sektor UMKM melalui platform digital. Selain itu, dukungan terhadap program perumahan juga menjadi prioritas. Ini menunjukkan bahwa sektor perbankan tetap punya ruang tumbuh meski sedang menghadapi tekanan pasar.
Rasio Non Performing Loan (NPL) juga diproyeksikan tetap terjaga di bawah 3%. Sementara itu, rasio pencadangan (loan loss coverage) diharapkan stabil. Likuiditas industri masih dalam batas aman, dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) berkisar antara 78% hingga 92%.
3. Rekomendasi Strategi Investasi
Bagi investor yang ingin masuk di tengah koreksi ini, beberapa hal penting perlu diperhatikan:
- Analisis teknikal menjadi alat penting untuk menentukan timing entry.
- Fundamental perusahaan tetap harus dicek ulang, terutama rasio kinerja dan proyeksi laba.
- Sentimen global juga perlu terus dimonitor, karena fluktuasi pasar internasional bisa memicu volatilitas lokal.
Saham seperti BBCA, meski tidak mengalami koreksi dalam sepekan terakhir, tetap layak diperhatikan karena konsistensinya. Sementara BMRI dan BBRI yang lebih dalam terkoreksi bisa menjadi opsi beli jika sentimen pasar mulai membaik.
4. Kapan Waktu yang Tepat untuk Beli?
Timing sangat krusial saat membeli saham yang sedang tertekan. Beberapa indikator yang bisa digunakan sebagai acuan:
- Support level teknikal — Saat harga mendekati level support kuat, bisa menjadi peluang beli.
- Volume transaksi meningkat — Lonjakan volume bisa menandakan akumulasi investor.
- Sentimen makro membaik — Misalnya adanya kebijakan moneter yang mendukung atau stabilitas geopolitik.
Kesimpulan
Meski saham big banks sedang tertekan oleh aksi jual asing, bukan berarti prospek sektornya buruk. Koreksi bisa menjadi peluang bagi investor jangka panjang yang memilih saham dengan fundamental kuat. Yang penting adalah tidak gegabah dan tetap mengacu pada analisis teknikal maupun fundamental.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar. Keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab individu berdasarkan riset dan pertimbangan pribadi.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













