Di tengah ketidakpastian ekonomi global, sejumlah bank di Tanah Air mulai menggeser fokus dari pertumbuhan agresif ke strategi yang lebih hati-hati. Mereka lebih selektif dalam menyalurkan kredit dan memperkuat pencadangan sebagai langkah antisipasi risiko. Langkah ini diambil untuk menjaga kualitas aset dan memastikan kesehatan portofolio tetap terjaga.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, rasio non performing loan (NPL) pada Februari 2026 berada di level 2,17%, naik dari 2,14% di bulan sebelumnya. Meski demikian, angka ini masih lebih baik dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencatat 2,22%. Sementara itu, loan at risk (LaR) juga mengalami peningkatan dari 9,01% menjadi 9,24% dalam periode yang sama.
Strategi Bank dalam Menjaga Kualitas Kredit
Langkah yang diambil beragam, mulai dari seleksi debitur yang lebih ketat hingga penguatan monitoring portofolio. Bank tidak lagi berlomba-lomba memperbesar pertumbuhan kredit, tapi lebih fokus pada ekspansi yang berbasis risiko.
1. Peningkatan Selektivitas Penyaluran Kredit
Bank kini lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Mereka tidak lagi terburu-buru menyetujui permohonan pinjaman, terutama dari sektor yang sensitif terhadap gejolak ekonomi global. Hal ini dilakukan agar kualitas aset tetap terjaga dan risiko macet bisa diminimalkan.
2. Penguatan Monitoring dan Collection
Strategi collection yang efektif menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga kualitas kredit. Bank memperkuat tim collection dan memperbaiki sistem monitoring agar potensi kredit bermasalah bisa dideteksi lebih awal.
3. Forward-Looking Provisioning
Meski beban pencadangan saat ini lebih terkendali, bank tetap menerapkan pendekatan forward-looking provisioning. Artinya, cadangan dibuat dengan mempertimbangkan risiko di masa depan, bukan hanya berdasarkan kondisi saat ini.
Perbandingan Kebijakan Beban Pencadangan Beberapa Bank
Berikut adalah rincian beban pencadangan atau biaya provisi yang dicatat oleh beberapa bank besar per Februari 2026:
| Bank | Kenaikan Beban Pencadangan | Jumlah (Rp) |
|---|---|---|
| BTN | 12,82% | Rp 681 miliar |
| CIMB Niaga | 14,10% | Rp 276 miliar |
Data ini menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan beban, bank tetap menjaga keseimbangan antara risiko dan profitabilitas.
Potensi Risiko di Tengah Ketidakpastian Global
Ketidakpastian global, terutama yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, menjadi salah satu faktor yang membuat bank lebih waspada. Meski eksposur langsung perbankan Indonesia ke kawasan tersebut relatif kecil, dampak tidak langsung seperti kenaikan harga energi tetap berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat dan kualitas kredit.
1. Sektor Transportasi dan Manufaktur Rentan Terdampak
Sektor yang sensitif terhadap fluktuasi ekonomi seperti transportasi dan manufaktur menjadi perhatian khusus. Risiko kredit di sektor ini berpotensi meningkat jika tekanan ekonomi global semakin besar.
2. UMKM dan Konsumsi Juga Terancam
Segmen UMKM dan konsumsi juga rentan terhadap risiko kredit. Permintaan yang belum pulih sepenuhnya membuat pertumbuhan kredit di segmen ini masih terbatas.
Penilaian OJK terhadap Ketahanan Perbankan
OJK menilai bahwa ketahanan perbankan nasional masih kuat. Hasil stress test menunjukkan bahwa permodalan bank masih memadai untuk menghadapi berbagai tekanan. Namun demikian, OJK tetap mendorong bank untuk menjaga prinsip kehati-hatian dan terus memperketat pengawasan.
Target Kualitas Kredit BTN dan CIMB Niaga
BTN menargetkan coverage ratio tetap berada di kisaran 125%–140%, sementara LaR diarahkan turun bertahap menuju level high teens. Sementara itu, CIMB Niaga mencatat LaR di kisaran 6%, yang dinilai relatif rendah.
Kesimpulan
Langkah bank yang lebih selektif dalam ekspansi dan penguatan pencadangan menunjukkan bahwa industri perbankan sedang berada dalam fase konsolidasi. Fokus pada kualitas aset dan pengelolaan risiko menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian global.
Meski ada peningkatan beban pencadangan, bank tampaknya mampu menjaga keseimbangan antara risiko dan pertumbuhan. Ini menunjukkan bahwa strategi jangka panjang lebih diutamakan dibandingkan pertumbuhan yang agresif tapi berisiko tinggi.
Disclaimer: Data dan angka yang disajikan dalam artikel ini bersifat terbatas pada informasi yang tersedia hingga Februari 2026. Kondisi makro ekonomi dan kebijakan dapat berubah sewaktu-waktu.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













