Industri pembiayaan di Tanah Air terus menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang menjanjikan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan pertumbuhan piutang pembiayaan multifinance akan mencapai kisaran 6% hingga 8% secara Year-on-Year (YoY) pada tahun 2026. Angka ini mencerminkan optimisme sektor terhadap kondisi ekonomi yang semakin stabil serta potensi pasar yang masih terbuka lebar.
Proyeksi ini bukan angin kosong. OJK menyatakan bahwa target pertumbuhan tersebut realistis, mengingat dorongan dari kebutuhan masyarakat akan modal kerja serta ekspansi usaha. Apalagi, data terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan sudah mulai terlihat sejak awal 2026.
Pertumbuhan Multifinance di 2026: Dasar dan Proyeksi
Sebagai lembaga pengawas, OJK terus memantau kinerja industri multifinance. Dari data yang dirilis, piutang pembiayaan multifinance pada akhir Desember 2025 hanya tumbuh 0,61% YoY, mencapai Rp 506,5 triliun. Namun, pada Januari 2026, angka tersebut melonjak menjadi Rp 508,27 triliun, atau naik 0,78% YoY.
Salah satu pendorong utama pertumbuhan ini adalah pembiayaan modal kerja yang mencatatkan kenaikan hingga 10,27% YoY. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku usaha semakin aktif memanfaatkan layanan multifinance untuk mendanai operasional dan ekspansi bisnis mereka.
1. Optimalkan Potensi Wilayah dan Sektor
Untuk mencapai target pertumbuhan 6%-8%, OJK menyarankan agar industri multifinance mengoptimalkan potensi di sektor dan wilayah yang prospektif. Langkah ini penting agar penyaluran pembiayaan bisa meningkat tanpa mengorbankan kualitas aset dan manajemen risiko.
2. Fokus pada Pembiayaan Modal Kerja
Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, menyebut bahwa pembiayaan modal kerja masih menjadi tulang punggung pertumbuhan multifinance. Permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa terus meningkat, sejalan dengan semakin aktifnya pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).
3. Jaga Kualitas Aset dan Manajemen Risiko
Meski pertumbuhan positif, OJK tetap menekankan pentingnya menjaga kualitas aset. Dengan risiko yang terkendali, industri bisa tumbuh berkelanjutan tanpa terjebak pada penyaluran yang terlalu agresif namun berisiko tinggi.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Pertumbuhan yang menjanjikan tidak serta merta menghilangkan tantangan. Salah satu indikator risiko yang perlu diwaspadai adalah tingkat Non Performing Financing (NPF). Pada Januari 2026, NPF gross multifinance mencapai 2,72%, naik dari 2,51% di bulan sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian pembiayaan mulai bermasalah.
1. Peningkatan NPF Perlu Diwaspadai
Kenaikan NPF bisa menjadi sinyal bahwa sebagian pelaku usaha mengalami tekanan likuiditas. Jika tren ini berlanjut, bisa berdampak pada kesehatan keuangan perusahaan pembiayaan.
2. Pentingnya Evaluasi Portofolio Pembiayaan
Multifinance perlu terus mengevaluasi portofolio pembiayaan mereka. Dengan melakukan analisis risiko yang lebih ketat, risiko macet bisa diminimalkan.
3. Kebijakan Pengawasan yang Ketat dari OJK
OJK terus memperketat pengawasan terhadap industri multifinance. Kebijakan ini dirancang untuk menjaga stabilitas sektor dan mencegah terjadinya risiko sistemik.
Faktor Pendukung Pertumbuhan Multifinance
Selain proyeksi OJK, ada beberapa faktor eksternal yang turut mendukung pertumbuhan industri multifinance di tahun 2026.
1. Pemulihan Ekonomi yang Stabil
Perekonomian Indonesia yang terus pulih pasca-pandemi memberikan ruang bagi pertumbuhan sektor pembiayaan. Stabilitas makro ekonomi menjadi pondasi penting bagi sektor keuangan.
2. Meningkatnya Minat Pelaku Usaha untuk Ekspansi
Banyak pelaku usaha, khususnya UKM, mulai membutuhkan modal tambahan untuk ekspansi. Multifinance menjadi salah satu sumber pendanaan yang lebih mudah diakses dibandingkan bank konvensional.
3. Digitalisasi Layanan Pembiayaan
Perkembangan teknologi dan digitalisasi membuat layanan multifinance semakin efisien dan mudah diakses. Ini membuka peluang lebih besar untuk menjangkau konsumen di daerah-daerah yang sebelumnya belum terlayani.
Perbandingan Data Pertumbuhan Multifinance
Berikut adalah data pertumbuhan piutang pembiayaan multifinance dalam beberapa periode terakhir:
| Periode | Piutang Pembiayaan | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|
| Des 2024 | Rp 503,4 triliun | 0,45% |
| Des 2025 | Rp 506,5 triliun | 0,61% |
| Jan 2026 | Rp 508,27 triliun | 0,78% |
Data ini menunjukkan bahwa meski pertumbuhan masih moderat, trennya mulai menunjukkan peningkatan yang positif.
Disclaimer
Proyeksi dan data yang disajikan bersifat prediktif dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi makro, kebijakan pemerintah, dan kondisi pasar secara keseluruhan. Informasi ini tidak dijamin keakuratannya dan hanya digunakan sebagai referensi umum.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













