Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa infrastruktur teknologi informasi (IT) perbankan nasional saat ini sudah cukup kuat untuk mendukung penerapan konsep universal banking. Penilaian ini berdasarkan hasil asesmen dan pengawasan yang dilakukan OJK terhadap sejumlah bank di Tanah Air.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa fondasi digital sektor perbankan telah terbangun dengan baik, terutama di kelompok bank besar. Menurutnya, kesiapan infrastruktur IT ini menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan ekosistem layanan keuangan yang terintegrasi.
Kesiapan Infrastruktur IT Perbankan
Dalam konteks pengembangan universal banking, kesiapan infrastruktur IT menjadi pilar utama. Hasil survei implementasi IT OJK pada tahun 2025 menunjukkan bahwa tingkat kematangan digital perbankan berada di kisaran 2 hingga 2,4 dari skala 1 sampai 5, yang masuk dalam kategori memuaskan. Angka ini mencerminkan bahwa sebagian besar bank telah memiliki sistem yang cukup baik untuk mendukung layanan keuangan digital.
-
Pemanfaatan Teknologi Inti yang Modern
Banyak bank besar telah mengadopsi sistem core banking yang andal dan memanfaatkan teknologi berbasis cloud. Ini memungkinkan mereka untuk lebih fleksibel dalam mengembangkan layanan serta integrasi dengan pihak ketiga seperti fintech dan perusahaan asuransi. -
Penggunaan API untuk Integrasi Layanan
Open API menjadi salah satu elemen penting dalam mendorong interoperabilitas antar layanan keuangan. Dengan API, bank bisa dengan mudah menghubungkan layanan mereka dengan produk keuangan lainnya, seperti investasi dan asuransi. -
Analitik Data dan Kecerdasan Buatan
Pemanfaatan data analytics dan AI juga terus berkembang, terutama dalam proses credit scoring dan personalisasi layanan. Ini membantu bank memahami kebutuhan nasabah secara lebih akurat dan cepat.
Meski begitu, tidak semua bank memiliki kesiapan yang sama. Bank kecil dan menengah masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal investasi teknologi dan pengelolaan sistem legacy yang kurang fleksibel.
Tantangan dalam Implementasi Universal Banking
Universal banking menjanjikan integrasi layanan keuangan yang lebih luas dan mudah diakses. Namun, penerapannya tidak serta merta bisa dilakukan secara serentak tanpa memperhatikan kesiapan tiap institusi.
-
Kesenjangan Kapasitas IT Antar Bank
Masih ada kesenjangan kapasitas antara bank besar dan bank kecil. Bank skala kecil sering kali belum memiliki sistem IT yang memadai untuk mendukung integrasi layanan yang kompleks. -
Keterbatasan Investasi Teknologi
Investasi di bidang keamanan siber, tata kelola data, dan pengembangan sistem masih menjadi tantangan bagi sebagian bank. Ini bisa menghambat proses adopsi teknologi yang dibutuhkan dalam ekosistem universal banking. -
Risiko Keamanan Siber
Semakin terhubungnya berbagai layanan keuangan dalam satu ekosistem, semakin besar pula potensi risiko keamanan. Ancaman cyber attack dan kebocoran data menjadi perhatian serius bagi regulator.
Strategi OJK dalam Mendukung Universal Banking
OJK menyadari bahwa implementasi universal banking harus dilakukan secara bertahap dan berbasis risiko. Regulator tidak ingin terburu-buru, tapi tetap mendorong inovasi yang seimbang dengan stabilitas sistem keuangan nasional.
-
Penguatan Regulasi dan Perlindungan Konsumen
OJK terus memperkuat kerangka regulasi, terutama terkait tata kelola data dan penggunaan teknologi seperti AI. Perlindungan konsumen juga menjadi fokus utama agar nasabah tetap aman dalam ekosistem layanan keuangan yang lebih kompleks. -
Peningkatan Interoperabilitas Sistem
Salah satu kunci sukses universal banking adalah kemampuan sistem bank untuk saling terhubung. OJK mendorong standardisasi dan peningkatan interoperabilitas agar layanan bisa diakses secara lintas platform dan institusi. -
Pendekatan Berbasis Kesiapan Bank
OJK tidak menggunakan pendekatan seragam dalam memberikan izin atau persetujuan produk. Setiap bank akan dinilai berdasarkan kesiapan infrastruktur dan kapasitas manajemen risiko sebelum diberi kepercayaan untuk mengembangkan layanan universal banking.
Potensi Kontribusi Universal Banking terhadap Ekonomi
Universal banking tidak hanya soal teknologi dan layanan. Konsep ini juga diharapkan bisa meningkatkan kontribusi sektor keuangan terhadap perekonomian nasional. Saat ini, rasio kredit terhadap PDB masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya.
-
Peningkatan Inklusi Keuangan
Dengan layanan yang lebih terintegrasi dan mudah diakses, universal banking bisa membawa lebih banyak masyarakat ke dalam sistem keuangan formal. -
Pendalaman Pasar Keuangan
Integrasi produk keuangan dari berbagai institusi juga bisa mendorong pendalaman pasar keuangan, sehingga lebih banyak modal yang tersalurkan ke sektor produktif. -
Penguatan Sistem Keuangan Nasional
Dengan ekosistem yang lebih terhubung dan terstandarisasi, sistem keuangan nasional bisa menjadi lebih kuat dan tahan terhadap berbagai tekanan eksternal.
Tabel: Perbandingan Kesiapan IT Bank Berdasarkan Skala Operasional
| Kategori Bank | Tingkat Kematangan IT (Skala 1–5) | Ketersediaan API | Penggunaan AI | Ketergantungan pada Sistem Legacy |
|---|---|---|---|---|
| Bank Besar | 2,4 | Ya | Ya | Rendah |
| Bank Menengah | 2,0 | Sebagian | Terbatas | Sedang |
| Bank Kecil | 1,6 | Tidak | Tidak | Tinggi |
Catatan: Data berdasarkan survei OJK tahun 2025. Hasil dapat berubah seiring perkembangan teknologi dan regulasi.
Kesimpulan
Implementasi universal banking di Indonesia memang masih dalam tahap awal, tapi fondasi yang dibangun terutama oleh bank besar sudah cukup kuat. OJK berkomitmen untuk terus mendorong pengembangan ekosistem keuangan yang terintegrasi, namun tetap mengedepankan keamanan dan stabilitas sistem.
Dengan pendekatan yang berbasis risiko dan kesiapan tiap institusi, universal banking bisa menjadi salah satu pendorong utama inklusi keuangan dan pertumbuhan ekonomi nasional ke depannya.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat referensial dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan regulasi dan kondisi sektor keuangan.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













