Penurunan BI-Rate sebesar 125 basis poin (bps) sejak awal 2025 belum serta merta membuat suku bunga kredit di sektor perbankan ikut turun secara signifikan. Meski berbagai indikator pasar keuangan menunjukkan respons positif terhadap kebijakan pelonggaran moneter, transmisi ke suku bunga perbankan—khususnya kredit—masih terasa lambat.
Bank Indonesia (BI) mengakui bahwa efektivitas penyaluran kebijakan moneter ke lapangan masih belum optimal. Padahal, tujuan dari penurunan BI-Rate adalah mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan permintaan kredit dan likuiditas yang lebih sehat di pasar.
Penurunan BI-Rate Belum Sepenuhnya Tersalur ke Suku Bunga Kredit
Sejak awal tahun 2025, BI telah menurunkan BI-Rate sebanyak 125 bps. Langkah ini diikuti dengan ekspansi likuiditas sebagai upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, dampaknya ke sektor perbankan, khususnya pada suku bunga kredit, belum sebanding.
1. Suku Bunga Pasar Uang dan Obligasi Turun Signifikan
Penurunan BI-Rate berdampak langsung pada beberapa segmen pasar keuangan. Suku bunga pasar uang antarbank, seperti INDONIA, turun 186 bps menjadi 4,16% per 16 Maret 2026. Di sisi lain, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) juga mengalami penurunan, terutama untuk tenor 2 tahun yang berada di level 5,99% dan 10 tahun di 6,88%.
2. Suku Bunga Deposito dan Kredit Masih Tertinggal
Berbeda dengan pasar uang dan obligasi, penurunan suku bunga di sektor perbankan terasa lebih lambat. Suku bunga deposito 1 bulan, misalnya, hanya turun 64 bps menjadi 4,17% pada Februari 2026. Adapun suku bunga kredit baru turun 40 bps menjadi 8,80% dari level awal 9,20% di awal tahun.
Penyebab Transmisi Suku Bunga Kredit yang Lambat
Transmisi kebijakan moneter yang tidak optimal menjadi tantangan tersendiri bagi BI. Beberapa faktor di lapangan membuat penurunan BI-Rate belum sepenuhnya dirasakan oleh konsumen atau pelaku usaha yang mengajukan kredit.
1. Ketergantungan pada Special Rate untuk Deposan Besar
Salah satu penyebabnya adalah masih tingginya ketergantungan bank pada penawaran suku bunga khusus (special rate) untuk deposan besar. Proporsi dana dari deposan besar mencapai 26,64% dari total dana pihak ketiga (DPK). Ini membuat bank enggan menurunkan suku bunga deposito secara agresif karena takut kehilangan dana besar.
2. Margin Bunga yang Dijaga Ketat oleh Perbankan
Bank cenderung menjaga spread atau margin bunga agar tetap menguntungkan. Meski BI-Rate turun, bank belum serta merta menurunkan suku bunga kredit karena tetap ingin menjaga profitabilitas. Hal ini membuat transmisi ke suku bunga kredit menjadi lebih lambat.
3. Risiko Kredit yang Masih Tinggi
Perbankan juga masih memperhitungkan risiko kredit, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kondisi ini membuat bank lebih selektif dalam menurunkan suku bunga pinjaman, karena khawatir akan meningkatkan risiko non-performing loan (NPL).
Upaya BI untuk Mempercepat Transmisi Suku Bunga
Menghadapi tantangan ini, BI terus mendorong perbankan untuk mempercepat penurunan suku bunga baik di sisi dana maupun kredit. Langkah-langkah yang diambil tidak hanya bersifat regulatif, tetapi juga insentif agar bank lebih aktif menurunkan suku bunga.
1. Penguatan Insentif Likuiditas
Hingga pekan pertama Maret 2026, BI telah menyalurkan insentif likuiditas sebesar Rp 427,1 triliun. Program ini dirancang untuk mendorong bank menyalurkan dana murah kepada masyarakat, baik dalam bentuk kredit maupun investasi.
2. Dorongan untuk Mengurangi Special Rate
BI terus mendorong bank untuk mengurangi ketergantungan pada special rate. Langkah ini diharapkan bisa membuat struktur suku bunga deposito menjadi lebih sehat dan responsif terhadap penurunan BI-Rate.
3. Peningkatan Fungsi Intermediasi Perbankan
Dengan mempercepat transmisi suku bunga, BI berharap fungsi intermediasi perbankan bisa semakin kuat. Ini penting untuk mendorong pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dan mendukung pemulihan ekonomi secara berkelanjuan.
Perbandingan Penurunan Suku Bunga di Berbagai Segmen
Berikut adalah rincian penurunan suku bunga di berbagai segmen keuangan sejak awal 2025:
| Segmen | Penurunan Suku Bunga | Level Awal (2025) | Level Akhir (Februari 2026) |
|---|---|---|---|
| BI-Rate | 125 bps | 6,05% | 4,80% |
| INDONIA | 186 bps | 6,02% | 4,16% |
| SRBI (6-12 bulan) | ±190 bps | 7,20% | 5,25%-5,33% |
| Deposito 1 bulan | 64 bps | 4,81% | 4,17% |
| Suku Bunga Kredit | 40 bps | 9,20% | 8,80% |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kebijakan moneter dan kondisi pasar.
Tantangan ke Depan
Meski BI telah mengambil berbagai langkah strategis, tantangan ke depan tetap besar. Perbankan harus segera menyesuaikan diri dengan kebijakan yang berlaku agar transmisi suku bunga bisa berjalan lebih efektif.
1. Perlu Sinergi antara Regulator dan Perbankan
Kolaborasi yang erat antara BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sangat penting untuk memastikan kebijakan moneter bisa tersalurkan secara optimal. Regulasi yang terlalu ketat bisa menghambat, sementara yang terlalu longgar berisiko pada stabilitas sistem keuangan.
2. Edukasi dan Adaptasi Internal Bank
Bank juga perlu melakukan adaptasi internal, termasuk dalam hal sistem penentuan harga suku bunga. Edukasi kepada manajemen dan tim risiko menjadi kunci agar kebijakan BI bisa diterjemahkan dengan baik ke lapangan.
3. Respons Konsumen terhadap Penurunan Suku Bunga
Respons konsumen juga menjadi faktor penting. Jika masyarakat tidak merasakan manfaat langsung dari penurunan suku bunga, maka efek stimulan ekonomi bisa terbatas. BI dan bank perlu bekerja sama untuk memastikan informasi tersampaikan secara jelas dan transparan.
Kesimpulan
Penurunan BI-Rate sebesar 125 bps sejak awal 2025 menunjukkan komitmen BI dalam mendukung pemulihan ekonomi. Namun, efektivitas kebijakan ini masih terbatas pada sektor tertentu. Suku bunga kredit yang belum turun secara signifikan menjadi tantangan tersendiri.
Untuk mempercepat transmisi, BI terus mendorong perbankan untuk mengurangi ketergantungan pada special rate, memperkuat insentif likuiditas, dan meningkatkan fungsi intermediasi. Semua ini membutuhkan sinergi antara regulator dan pelaku industri keuangan agar dampak kebijakan bisa dirasakan secara nyata oleh masyarakat.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga Maret 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan kebijakan moneter serta kondisi pasar keuangan secara keseluruhan.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













