Pertumbuhan kredit di sektor perbankan memang sedang melambat. Tapi di balik situasi itu, bank digital justru malah makin ngetop. Mereka tetap bisa menyalurkan kredit dengan laju yang jauh lebih cepat dibandingkan bank konvensional. Bahkan beberapa di antaranya mencatatkan pertumbuhan dua digit dalam dua bulan pertama 2026. Padahal, kondisi ekonomi global dan daya beli masyarakat domestik sedang tidak terlalu kondusif.
Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit industri perbankan sebesar 9,37% secara tahunan pada Februari 2026. Angka itu turun dibandingkan pertumbuhan sebelumnya yang mencapai 9,96% yoy. Namun, di tengah pelemahan ini, bank digital justru menunjukkan performa yang cukup mengejutkan. Bank Jago, Allo Bank, dan Amar Bank adalah contoh nyata bagaimana bank digital bisa tetap tumbuh meski kondisi industri sedang melambat.
Bank Digital yang Tumbuh di Tengah Lesu
1. Bank Jago Terus Melesat
Bank Jago mencatat pertumbuhan kredit sebesar 28,47% yoy pada Februari 2026. Total penyaluran kreditnya mencapai Rp 25,23 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa bank digital ini tetap punya strategi yang solid dalam menjangkau nasabah, terutama di segmen ritel dan UMKM.
2. Allo Bank dan Amar Bank Ikut Naik
Allo Bank juga tidak kalah menarik. Kreditnya tumbuh 20,3% yoy menjadi Rp 8,38 triliun. Sementara Amar Bank mencatatkan pertumbuhan kredit tertinggi di antara bank digital lainnya, yaitu 31,31% yoy. Total kredit yang disalurkan mencapai Rp 4,05 triliun. Keduanya menunjukkan bahwa bank digital masih punya ruang untuk berkembang meski industri sedang melambat.
3. Krom Bank Tembus 100% Pertumbuhan
Salah satu bank digital yang paling mencolok adalah Krom Bank. Kreditnya tumbuh hingga 102,18% yoy menjadi Rp 9,37 triliun. Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan, menyebut bahwa pertumbuhan ini didorong oleh penyaluran channeling sebagai kontributor utama. Selain itu, bank ini juga fokus pada penyaluran kredit ke segmen UMKM, konsumsi produktif, dan ritel.
4. Bank Neo Commerce Justru Turun
Tidak semua bank digital mengalami pertumbuhan. Bank Neo Commerce justru mencatatkan penurunan kredit sebesar 12,11% yoy menjadi Rp 7,23 triliun. Namun, Direktur Utama Bank Neo Commerce, Eri Budiono, menyebut bahwa penurunan ini adalah bagian dari strategi bank untuk menyalurkan kredit secara lebih selektif dan berkualitas.
Strategi Bank Digital Hadapi Ketidakpastian
1. Fokus pada Kualitas Kredit
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan pelemahan daya beli domestik, bank digital tetap menjaga kualitas kredit yang disalurkan. Krom Bank, misalnya, melakukan berbagai upaya preventif dan kuratif untuk menjaga rasio NPL tetap rendah. Bank ini optimistis bisa terus menyalurkan kredit secara selektif dan berkualitas hingga akhir tahun.
2. Manfaatkan Teknologi Digital
Bank digital memang punya keunggulan dalam hal efisiensi teknologi. Krom Bank, misalnya, mengandalkan strategi channeling dan efisiensi teknologi digital untuk terus menyalurkan kredit. Dengan likuiditas yang memadai, bank ini yakin bisa terus tumbuh di tengah kondisi yang tidak menentu.
3. Luncurkan Produk Baru
Bank Neo Commerce berencana meluncurkan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) pada pertengahan tahun ini. Produk ini diharapkan bisa menjadi mesin pertumbuhan kredit baru sekaligus meningkatkan fee based income bank. BNPL juga menjadi upaya bank dalam memperluas akses pembiayaan yang aman dan terukur.
Perbandingan Pertumbuhan Kredit Bank Digital (Februari 2026)
| Nama Bank | Pertumbuhan Kredit (YoY) | Total Kredit (Rp Triliun) |
|---|---|---|
| Krom Bank | 102,18% | 9,37 |
| Bank Jago | 28,47% | 25,23 |
| Amar Bank | 31,31% | 4,05 |
| Allo Bank | 20,3% | 8,38 |
| Bank Neo Commerce | -12,11% | 7,23 |
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski pertumbuhan kredit bank digital terbilang positif, tetap saja ada tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah risiko penurunan kualitas kredit akibat ketidakpastian ekonomi global. Bank juga harus terus waspada terhadap potensi kredit macet yang bisa meningkat seiring dengan pelemahan daya beli masyarakat.
Selain itu, persaingan di antara bank digital juga semakin ketat. Masing-masing bank berlomba menghadirkan produk dan layanan terbaru untuk menarik nasabah. Ini berarti bank harus terus inovatif dan responsif terhadap perubahan kebutuhan pasar.
Proyeksi ke Depan
Bank digital tetap optimis bisa terus tumbuh hingga akhir tahun 2026. Apalagi dengan dukungan teknologi dan strategi channeling yang efektif. Krom Bank, misalnya, punya target untuk terus meningkatkan penyaluran kredit secara selektif dan berkualitas. Sementara Bank Neo Commerce akan fokus pada pengembangan produk BNPL sebagai mesin pertumbuhan baru.
Dengan strategi yang tepat dan pengelolaan risiko yang baik, bank digital bisa tetap bertumbuh meski industri perbankan secara keseluruhan sedang melambat. Mereka membuktikan bahwa inovasi dan efisiensi teknologi bisa menjadi kunci sukses di tengah kondisi yang tidak menentu.
Disclaimer: Data dan angka yang disebutkan dalam artikel ini bersifat sesuai dengan kondisi Februari hingga April 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi dan kebijakan yang berlaku.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













