Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan, terutama bagi sektor keuangan dan perbankan nasional. Situasi ini berpotensi memicu volatilitas pasar serta memengaruhi likuiditas valuta asing (valas) di dalam negeri. Investor global cenderung menarik dana dari pasar keuangan Indonesia sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian global.
Permintaan valas meningkat seiring dengan aksi profit taking dan kecenderungan investor untuk menghindari risiko (risk averse). Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menyebut bahwa aliran keluar modal ini sangat bergantung pada perkembangan situasi global, terutama ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Dinamika Likuiditas Valas di Tengah Ketegangan Geopolitik
1. Permintaan Valas Dipicu oleh Sentimen Negatif Global
Permintaan valas meningkat akibat adanya penarikan dana dari pasar keuangan Indonesia. Investor cenderung menjual aset dan memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman. Hal ini terutama terjadi di tengah ketidakpastian global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik.
2. Perubahan Outlook Rating dan Dampaknya
Perubahan outlook rating dari lembaga pemeringkat Fitch Ratings sempat menimbulkan kekhawatiran. Namun, dampaknya terhadap pasar keuangan domestik dinilai bersifat sementara dan tidak berkelanjutan lebih dari satu minggu.
3. Peran Eksportir dalam Menjaga Likuiditas
Eksportir tetap menjadi sumber utama suplai valas. Kenaikan harga komoditas global seperti batu bara dan CPO berpotensi meningkatkan arus valas dari sektor ini, sehingga memperkuat likuiditas domestik.
Strategi Bank dalam Menjaga Stabilitas Valas
1. Penguatan Strategi Penghimpunan Dana Valas
Perbankan perlu memperkuat strategi penghimpunan dana valas dengan menawarkan produk yang lebih menarik. Ini menjadi langkah penting untuk menjaga ketersediaan likuiditas di tengah ketidakpastian global.
2. Pengembangan Instrumen Pasar Keuangan
Pendalaman pasar keuangan (financial market deepening) juga menjadi kunci. Dengan instrumen yang lebih beragam, likuiditas valas bisa ditarik lebih banyak ke dalam sistem perbankan.
3. Penyiapan Buffer Likuiditas
Bank disarankan untuk menyiapkan buffer likuiditas guna mengantisipasi potensi arus keluar dana yang besar. Ini penting untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Respons Perbankan Terhadap Ketegangan Global
1. BNI Terapkan Pengelolaan Risiko Disiplin
Corporate Secretary Bank Negara Indonesia (BNI), Okki Rushartomo, menyatakan bahwa bank terus memantau dinamika global. BNI menerapkan pengelolaan risiko secara disiplin dan terukur, termasuk diversifikasi portofolio dan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.
2. KB Bank Indonesia: Likuiditas Masih Terjaga
Direktur Utama KB Bank Indonesia, Kunardy Darma Lie, menyebut bahwa likuiditas valas perbankan nasional masih berada pada level yang memadai. Permintaan dolar dari korporasi meningkat secara selektif, terutama untuk kebutuhan impor dan pembayaran luar negeri.
3. CIMB Niaga: Belum Ada Anomali Signifikan
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyatakan bahwa hingga saat ini belum terlihat adanya anomali atau perubahan signifikan dalam transaksi valas. Bank masih melakukan assessment terhadap dampak dari ketegangan global.
Data Likuiditas Valas Menurut Bank Indonesia
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) per Januari 2025, Dana Pihak Ketiga (DPK) valas perbankan tumbuh 4,9% secara tahunan (yoy) mencapai Rp 1.374,6 triliun. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan DPK valas pada Desember 2025 yang mencapai 5,5% yoy atau Rp 1.338,1 triliun.
| Bulan | Pertumbuhan DPK Valas (YoY) | Nilai DPK Valas |
|---|---|---|
| Desember 2025 | 5,5% | Rp 1.338,1 triliun |
| Januari 2026 | 4,9% | Rp 1.374,6 triliun |
Catatan: Data bersifat preliminary dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan kondisi makro ekonomi global dan domestik.
Penutup
Meski permintaan valas meningkat akibat ketegangan geopolitik, sektor perbankan nasional tetap menunjukkan ketahanan yang baik. Langkah-langkah antisipatif seperti penguatan buffer likuiditas, diversifikasi portofolio, serta pengembangan instrumen pasar keuangan menjadi andalan dalam menjaga stabilitas. Namun, perlu terus ada kewaspadaan mengingat dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













