PT Bank Permata Tbk (BNLI) masih berada di bawah radar ketentuan free float terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Aturan baru yang menaikkan batas minimum free float dari 7,5% menjadi 15% mulai menciptakan tantangan tersendiri bagi sejumlah emiten, termasuk bank berbasis di Jakarta ini.
Free float saat ini yang baru mencapai 9,97% membuat BNLI harus segera mencari solusi agar memenuhi kewajiban regulasi dalam waktu tiga tahun ke depan. OJK memang belum secara resmi menerbitkan aturan teknis terkait hal ini, namun langkah antisipatif dari manajemen menunjukkan bahwa pihak bank tidak tinggal diam.
Free Float, Aturan Baru yang Bikin Geger Emiten
Free float sendiri adalah persentase saham yang berada di tangan publik dan bisa diperdagangkan bebas di pasar. Semakin tinggi free float, semakin likuid saham tersebut dan semakin besar pula minat investor asing yang biasanya memiliki kriteria ketat terkait kepemilikan publik.
OJK mengumumkan rencana kenaikan batas minimum free float sebagai bagian dari upaya percepatan reformasi pasar modal. Tujuannya jelas: meningkatkan transparansi dan daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global, khususnya MSCI.
Sayangnya, aturan ini langsung menyasar emiten baru yang akan IPO. Sementara bagi emiten lama seperti BNLI, diberi tenggat waktu tiga tahun sejak aturan resmi diterbitkan untuk menyesuaikan diri.
1. Koordinasi dengan Bangkok Bank Jadi Kunci
Langkah pertama yang diambil BNLI adalah terus menjalin komunikasi erat dengan Bangkok Bank, pemegang saham pengendali (PSP) utama. Rudy Basyir Ahmad, Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah BNLI, menyampaikan bahwa pihaknya sedang mengevaluasi berbagai opsi agar bisa memenuhi ketentuan tanpa mengganggu struktur kepemilikan yang ada.
Salah satu opsi yang mungkin dilakukan adalah penjualan saham tambahan oleh Bangkok Bank ke publik. Namun, langkah ini membutuhkan pertimbangan matang karena menyangkut struktur kepemilikan dan kontrol perusahaan.
2. Menunggu Aturan Resmi dari OJK
Meski sudah ada arahan umum, BNLI masih menunggu aturan teknis yang akan diterbitkan OJK. Sebab, detail pelaksanaan seperti mekanisme penyesuaian dan timeline yang jelas baru akan terlihat saat regulasi tersebut resmi dikeluarkan.
Rudy juga menegaskan bahwa bank terus memantau perkembangan kebijakan ini agar bisa merespons dengan cepat dan tepat begitu aturan resmi diterapkan.
3. Evaluasi Strategi Saham untuk Investor
Sebagai langkah antisipatif, BNLI juga mulai mengevaluasi strategi hubungan investor. Investor lokal maupun asing perlu diberi gambaran jelas terkait rencana bank dalam memenuhi kewajiban free float.
Langkah ini penting agar tidak terjadi gejolak harga saham akibat ketidakpastian informasi. Investor cenderung was-was jika emiten tidak transparan soal rencana jangka pendek dan menengah terkait kepemilikan saham.
Free Float BNLI vs Regulasi: Perbandingan Data
Berikut data terkini terkait free float BNLI dan ketentuan OJK:
| Parameter | Kondisi Sekarang | Ketentuan Baru OJK |
|---|---|---|
| Free Float Minimum | 7,5% | 15% |
| Free Float BNLI | 9,97% | – |
| Status Kepatuhan | Belum memenuhi | Harus disesuaikan dalam 3 tahun |
| Emiten Terdampak | Semua emiten lama | Emiten baru & lama di bawah 15% |
Apa Kata Pakar Soal Free Float Ini?
Menurut sejumlah analis pasar modal, kenaikan batas free float bisa jadi peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, saham dengan free float tinggi cenderung lebih likuid dan diminati investor asing. Di sisi lain, emiten yang belum siap harus segera merancang strategi jual beli saham agar tidak terjebak pada sanksi pasar.
Bagi bank seperti BNLI, tantangan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola perusahaan dan menjaga keseimbangan antara kontrol manajemen dengan kebutuhan investor publik.
Tips untuk Emiten yang Terkena Aturan Free Float
- Evaluasi struktur kepemilikan secara berkala agar bisa mengantisipasi perubahan regulasi.
- Koordinasi dengan pemegang saham pengendali untuk mencari solusi yang saling menguntungkan.
- Sosialisasikan rencana penyesuaian kepada investor agar tidak terjadi gejolak pasar.
- Gunakan konsultan pasar modal jika diperlukan untuk mempercepat proses penyesuaian.
- Pantau kebijakan OJK secara aktif agar bisa merespons cepat begitu aturan teknis diterbitkan.
Tantangan di Balik Free Float Tinggi
Menaikkan free float bukan perkara mudah. Banyak emiten khawatir kehilangan kontrol atas perusahaan jika terlalu banyak melepas saham ke publik. Apalagi jika saham tersebut langsung diborong oleh investor asing yang punya agenda strategis jangka panjang.
Namun, jika dilakukan dengan perencanaan yang matang, peningkatan free float bisa menjadi alat untuk meningkatkan valuasi perusahaan dan daya tarik saham di pasar modal.
Penutup: BNLI di Persimpangan Jalan
Bank Permata saat ini berada di titik kritis. Free float yang masih di bawah 15% membuatnya harus segera mengambil langkah strategis. Namun, dengan dukungan Bangkok Bank dan antisipasi terhadap kebijakan OJK, BNLI punya peluang untuk tetap bertahan dan bahkan tumbuh lebih kuat di tengah perubahan regulasi ini.
Yang jelas, ketentuan baru ini bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari adaptasi yang harus dilakukan oleh seluruh pelaku pasar modal di Tanah Air.
Disclaimer: Data dan ketentuan dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kebijakan OJK dan kondisi pasar. Informasi di atas disusun berdasarkan data terkini hingga Maret 2026.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













