PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) kembali melebarkan sayap di kancah pasar modal internasional. Perusahaan baru saja menyelesaikan penerbitan instrumen Additional Tier-1 (AT1) senilai US$ 700 juta atau setara Rp 11,99 triliun. Langkah ini merupakan bagian dari strategi BNI untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung rencana ekspansi bisnis ke depan.
Penerbitan dilakukan secara global dan tidak ditujukan untuk investor domestik. Instrumen AT1 ini menawarkan kupon tahunan sebesar 7,15%. Bookbuilding sudah selesai pada 15 April 2026, dan rencananya instrumen ini akan tercatat di Singapore Exchange (SGX) dengan settlement ditargetkan pada 22 April 2026.
Penguatan Modal BNI Lewat Instrumen AT1
Langkah BNI menerbitkan AT1 bukan sekadar soal pencarian dana. Ini adalah langkah strategis untuk memenuhi regulasi perbankan yang semakin ketat, terutama terkait rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR). Instrumen ini bersifat perpetual, artinya tidak memiliki tanggal jatuh tempo, serta pembayaran kuponnya bersifat non-kumulatif.
1. Tujuan Penerbitan AT1 oleh BNI
Tujuan utama dari penerbitan ini adalah memperkuat struktur permodalan bank. Dengan modal yang lebih kuat, BNI bisa lebih leluasa dalam mengembangkan bisnis, termasuk ekspansi ke pasar regional dan internasional.
Selain itu, penerbitan ini juga membantu BNI memenuhi ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait penyediaan modal minimum. Hal ini penting mengingat regulasi perbankan global terus berevolusi, khususnya dalam hal Basel III yang mendorong bank untuk menjaga rasio modal yang sehat.
2. Skema dan Karakteristik Instrumen AT1
Instrumen AT1 yang diterbitkan BNI memiliki beberapa karakteristik penting:
- Subordinasi: Instrumen ini memiliki prioritas pembayaran di bawah utang senior.
- Perpetual: Tidak memiliki tanggal jatuh tempo.
- Non-cumulative: Jika pembayaran kupon ditunda, tidak akan dikompensasi di masa depan.
Skema ini memberikan fleksibilitas bagi BNI dalam pengelolaan likuiditas, sekaligus tetap memberikan imbal hasil menarik bagi investor.
3. Investor Sasaran dan Lokasi Penerbitan
Penerbitan dilakukan di luar wilayah Indonesia dan tidak ditawarkan kepada investor lokal, baik perseorangan maupun institusi. Target utamanya adalah investor asing yang tertarik pada instrumen perbankan berkualitas dari Asia Tenggara.
Langkah ini juga membantu BNI meningkatkan eksposur terhadap investor global, yang bisa menjadi pintu masuk bagi kolaborasi strategis di masa depan.
Dampak Penerbitan AT1 bagi BNI
Penguatan modal ini memberikan efek positif langsung terhadap rasio CAR BNI. Semakin tinggi CAR, maka semakin besar kemampuan bank dalam menyerap risiko kredit dan operasional.
Namun, penerbitan ini juga harus dilihat dari sisi biaya. Tingkat kupon 7,15% per tahun cukup tinggi jika dibandingkan dengan obligasi biasa. Artinya, BNI harus memastikan bahwa penggunaan dana ini benar-benar memberikan return yang lebih besar dari biaya pendanaan tersebut.
1. Efek pada Rasio Modal
Dengan tambahan dana segar sebesar US$ 700 juta, BNI bisa memperkuat posisi modal inti tertimbang risiko (CET1) dan rasio CAR secara keseluruhan. Ini penting mengingat pertumbuhan kredit dan aset bank diproyeksikan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
2. Potensi Ekspansi Bisnis
Dana hasil penerbitan ini akan dialokasikan untuk mendukung ekspansi bisnis, termasuk pengembangan digital banking, layanan ritel, dan bisnis korporat di pasar regional. BNI juga bisa mempertimbangkan akuisisi atau kerja sama strategis dengan entitas keuangan lain.
3. Respons Regulator
OJK telah memberikan lampu hijau atas penerbitan ini karena nilainya masih berada di bawah ambang batas 20% dari total ekuitas BNI per Desember 2025. Artinya, penerbitan ini tidak memerlukan persetujuan pemegang saham, sehingga prosesnya lebih cepat dan efisien.
Perbandingan Instrumen AT1 BNI dengan Obligasi Konvensional
| Parameter | AT1 BNI | Obligasi Konvensional |
|---|---|---|
| Jangka Waktu | Perpetual | Fixed tenure |
| Pembayaran Kupon | Non-cumulative | Cumulative |
| Prioritas Pembayaran | Subordinasi | Senior |
| Fleksibilitas Emiten | Tinggi | Rendah |
| Risiko Bagi Investor | Lebih Tinggi | Relatif Rendah |
Perbedaan ini menjadikan AT1 sebagai instrumen yang cocok bagi investor yang mencari yield tinggi namun siap menerima risiko yang lebih besar.
Strategi Ke depan BNI Pasca-Penerbitan
Langkah ini menunjukkan bahwa BNI serius dalam mempersiapkan diri menghadapi persaingan di industri perbankan yang semakin ketat. Apalagi, tantangan seperti digitalisasi, pergeseran perilaku konsumen, dan regulasi baru membuat bank harus terus adaptif.
BNI juga tengah fokus mengembangkan platform digitalnya, seperti aplikasi Wondr yang kini telah digunakan oleh lebih dari 10,5 juta pengguna per September 2025. Ini menunjukkan bahwa bank tidak hanya kuat dari sisi modal, tapi juga dari sisi inovasi teknologi.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat valid hingga April 2026. Nilai tukar rupiah, suku bunga pasar, dan kebijakan regulator dapat berubah sewaktu-waktu dan berpotensi mempengaruhi kondisi keuangan BNI serta instrumen yang diterbitkan. Pembaca disarankan untuk merujuk pada sumber resmi terbaru untuk informasi terkini.
Langkah BNI menerbitkan AT1 US$ 700 juta adalah cerminan dari strategi jangka panjang untuk memperkuat fondasi perusahaan. Dengan modal yang lebih solid, BNI punya ruang untuk tumbuh, berinovasi, dan bersaing di level global. Bagi investor, instrumen ini menawarkan alternatif investasi dengan imbal hasil menarik, meski tentu saja dengan risiko yang tidak bisa diabaikan.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













