Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan kinerja layanan paylater atau Buy Now Pay Later (BNPL) dari perusahaan pembiayaan akan terus menunjukkan pertumbuhan positif hingga 2026. Proyeksi ini didasari oleh semakin berkembangnya ekosistem digital dan meningkatnya permintaan masyarakat terhadap solusi pembiayaan yang fleksibel.
Khususnya dari kalangan usia produktif dan masyarakat yang belum terlayani oleh sistem keuangan formal, BNPL menjadi salah satu alternatif yang menarik. Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, menyampaikan bahwa tren ini menunjukkan potensi besar untuk terus berkembang selama masih dijalankan dengan prinsip kehati-hatian.
Kondisi Terkini Paylater Perusahaan Pembiayaan
Penyaluran pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan per Februari 2026 mencapai Rp 12,59 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan year-on-year (YoY) sebesar 53,53%. Meski demikian, pertumbuhan ini sedikit melambat dibandingkan dengan pertumbuhan di Januari 2026 yang mencatatkan angka YoY sebesar 71,13% atau Rp 12,18 triliun.
Meskipun ada perlambatan, angka ini tetap menunjukkan bahwa minat terhadap layanan paylater masih tinggi. Industri pembiayaan terus menunjukkan antusiasme dalam mengembangkan layanan ini, selama tetap memenuhi regulasi dan menjaga perlindungan konsumen.
1. Penyaluran Pembiayaan BNPL Perusahaan Pembiayaan
Per Februari 2026, total penyaluran pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan mencapai:
- Rp 12,59 triliun
- Pertumbuhan YoY: 53,53%
- Pertumbuhan MoM: dari Rp 12,18 triliun (Januari 2026)
Meskipun pertumbuhan melambat dari bulan sebelumnya, angka ini tetap menunjukkan bahwa layanan paylater menjadi bagian penting dari ekosistem keuangan digital.
2. Non Performing Financing (NPF) BNPL
Kualitas pembiayaan juga menjadi perhatian penting. Per Februari 2026, NPF gross BNPL perusahaan pembiayaan mencapai:
- 2,79%
- Naik dari 2,77% pada Januari 2026
Angka ini menunjukkan peningkatan risiko kredit, meski masih dalam batas wajar. OJK terus memantau perkembangan ini agar tidak membahayakan stabilitas sistem keuangan.
3. Minat Industri Pembiayaan pada Layanan Paylater
Industri pembiayaan menunjukkan minat tinggi dalam mengembangkan layanan BNPL. Namun, pengembangan ini dilakukan dengan tetap memperhatikan:
- Prinsip kehati-hatian
- Kepatuhan terhadap regulasi
- Perlindungan konsumen
Langkah ini penting agar layanan paylater tidak menjadi beban bagi konsumen dan tetap berkelanjutan dalam jangka panjang.
Proyeksi OJK untuk Tahun 2026
OJK optimis bahwa layanan paylater akan terus menjadi bagian penting dari sistem keuangan digital. Terutama karena layanan ini memberikan akses keuangan kepada masyarakat yang sebelumnya belum terlayani.
Beberapa faktor yang mendukung proyeksi positif ini antara lain:
- Meningkatnya literasi keuangan di kalangan usia muda
- Perkembangan teknologi yang mendukung layanan keuangan digital
- Kebijakan OJK yang mendorong inklusi keuangan
4. Peran Paylater dalam Inklusi Keuangan
Layanan paylater menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan inklusi keuangan, khususnya bagi masyarakat yang belum memiliki akses ke layanan perbankan. Dengan sistem yang transparan dan mudah diakses, BNPL bisa menjadi jembatan menuju layanan keuangan formal.
5. Tantangan yang Perlu Diwaspadai
Meskipun prospeknya positif, ada beberapa tantangan yang perlu terus diwaspadai:
- Risiko kredit yang meningkat
- Potensi overindebtedness (kelebihan utang) di kalangan pengguna
- Perlunya pengawasan yang ketat terhadap praktik pemasaran
OJK terus mendorong agar layanan paylater dikembangkan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Data Kinerja Paylater Perusahaan Pembiayaan
| Periode | Penyaluran Pembiayaan | Pertumbuhan YoY | NPF Gross |
|---|---|---|---|
| Januari 2026 | Rp 12,18 triliun | 71,13% | 2,77% |
| Februari 2026 | Rp 12,59 triliun | 53,53% | 2,79% |
Catatan: Data ini dapat berubah seiring perkembangan kondisi pasar dan kebijakan OJK.
Kesimpulan
Proyeksi OJK tentang pertumbuhan positif layanan paylater hingga 2026 menunjukkan bahwa model pembiayaan ini memiliki potensi besar dalam mendukung inklusi keuangan. Namun, pengembangan layanan ini harus tetap dijaga kualitasnya agar tidak membawa risiko yang berlebihan bagi konsumen dan sistem keuangan secara keseluruhan.
Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah tergantung pada perkembangan ekonomi, kebijakan, dan kondisi pasar secara keseluruhan.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













