Di tengah dinamika sektor fintech, laba industri lending syariah di Indonesia mencatatkan pertumbuhan yang mencengangkan. Tercatat laba bersih mencapai Rp 383 miliar, sebuah angka yang menunjukkan bahwa bisnis pinjaman berbasis teknologi ini terus menarik minat pelaku usaha dan investor. Namun di balik kenaikan laba yang menggembirakan, ada satu indikator yang mulai menimbulkan kekhawatiran: TWP90 atau Total Weighted Portfolio 90 hari. Angka ini mencerminkan jumlah pinjaman bermasalah yang mulai membengkak seiring dengan pertumbuhan volume pinjaman yang tinggi.
Pertumbuhan volume pinjaman fintech syariah juga terus menanjak. Hingga Januari 2026, total penyaluran pinjaman mencapai Rp 1,84 triliun. Lonjakan ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin terbuka terhadap layanan keuangan digital yang menawarkan proses cepat dan syarat yang lebih fleksibel. Namun, seiring dengan semakin banyaknya jumlah pinjaman yang disalurkan, risiko kredit juga ikut meningkat. TWP90 menjadi salah satu ukuran utama untuk memantau kualitas portofolio pinjaman, dan kenaikannya bisa menjadi sinyal awal adanya tekanan pada sistem.
Dinamika Laba dan Risiko dalam Bisnis Fintech Lending Syariah
Pertumbuhan laba yang signifikan menunjukkan bahwa model bisnis fintech lending syariah mulai matang. Banyak perusahaan berhasil meningkatkan efisiensi operasional dan manajemen risiko mereka. Namun, laba yang tinggi tidak selalu berarti kesehatan finansial yang berkelanjutan, terutama jika diiringi dengan meningkatnya risiko kredit.
1. Penyebab Meningkatnya TWP90
Salah satu faktor utama yang menyebabkan membengkaknya TWP90 adalah peningkatan jumlah pinjaman yang tidak dilunasi dalam 90 hari sejak jatuh tempo. Ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari keterbatasan daya beli nasabah hingga kurangnya pengawasan terhadap kualitas peminjam.
2. Dampak dari Volume Pinjaman yang Tinggi
Volume pinjaman yang terus meningkat memang menjadi indikator positif bagi industri. Namun, jika tidak diimbangi dengan kontrol risiko yang ketat, maka bisa berujung pada peningkatan tunggakan. Banyak fintech yang terlalu fokus pada pertumbuhan volume tanpa memperhatikan kualitas portofolio.
3. Kurangnya Diversifikasi dalam Portofolio
Sebagian besar fintech masih mengandalkan segmen tertentu dalam memberikan pinjaman. Misalnya, hanya menargetkan pelaku UMKM atau pegawai dengan penghasilan tetap. Ketika kondisi ekonomi berubah, risiko kredit pada segmen tersebut bisa meningkat secara bersamaan.
Strategi Mengendalikan Risiko dalam Fintech Lending
Untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan laba dan risiko, beberapa langkah strategis perlu diterapkan oleh pelaku industri. Ini bukan hanya soal memperbesar pendapatan, tapi juga memastikan bahwa pertumbuhan tersebut berkelanjutan dan sehat.
1. Penguatan Sistem Seleksi Peminjam
Langkah pertama yang penting adalah meningkatkan akurasi dalam menilai calon peminjam. Dengan memanfaatkan big data dan algoritma scoring yang lebih canggih, fintech bisa mengurangi kemungkinan menyalurkan pinjaman kepada peminjam berisiko tinggi.
2. Peningkatan Literasi Keuangan Nasabah
Banyak nasabah yang gagal membayar pinjaman karena kurang memahami kewajiban finansial mereka. Oleh karena itu, program edukasi keuangan menjadi penting untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan nasabah dalam mengelola pinjaman.
3. Diversifikasi Portofolio Pinjaman
Menghindari konsentrasi risiko pada satu segmen saja adalah kunci. Dengan menyebar risiko ke berbagai sektor dan jenis usaha, fintech bisa lebih tahan terhadap fluktuasi ekonomi.
Perbandingan Kinerja Fintech Syariah dan Konvensional
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut adalah perbandingan kinerja antara fintech syariah dan konvensional berdasarkan data terbaru.
| Indikator | Fintech Syariah | Fintech Konvensional |
|---|---|---|
| Laba Bersih (Jan 2026) | Rp 383 Miliar | Rp 410 Miliar |
| Volume Pinjaman | Rp 1,84 Triliun | Rp 3,2 Triliun |
| TWP90 | 4,2% | 3,8% |
| Rasio Efisiensi Operasional | 68% | 72% |
Dari tabel di atas terlihat bahwa meskipun laba fintech syariah sedikit di bawah konvensional, pertumbuhan volumenya sangat signifikan. Namun, TWP90 yang lebih tinggi menunjukkan bahwa risiko kredit masih menjadi tantangan utama.
Rekomendasi untuk Pemangku Kepentingan
Agar pertumbuhan fintech syariah tetap berjalan sehat dan berkelanjutan, beberapa rekomendasi penting perlu diperhatikan oleh regulator maupun pelaku industri.
1. Penguatan Regulasi dan Pengawasan
Regulator perlu terus memperbarui kebijakan agar sesuai dengan dinamika fintech. Pengawasan yang ketat terhadap kualitas portofolio dan transparansi laporan keuangan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas sektor ini.
2. Kolaborasi dengan Lembaga Keuangan Lain
Fintech bisa bekerja sama dengan bank atau lembaga keuangan lain untuk memperkuat sistem manajemen risiko. Kolaborasi ini juga bisa membantu dalam hal mitigasi risiko dan penyaluran pinjaman yang lebih sehat.
3. Inovasi Produk yang Responsif terhadap Kondisi Ekonomi
Produk pinjaman yang fleksibel dan responsif terhadap kondisi ekonomi bisa membantu mengurangi risiko macet. Misalnya, menawarkan skema pembayaran yang menyesuaikan dengan fluktuasi pendapatan nasabah.
Kesimpulan
Laba fintech lending syariah yang mencapai Rp 383 miliar dan volume pinjaman hingga Rp 1,84 triliun memang patut disambut gembira. Namun, lonjakan TWP90 menjadi pengingat bahwa pertumbuhan harus diimbangi dengan pengelolaan risiko yang matang. Jika tidak, laba besar bisa berujung pada kerugian besar di masa depan. Untuk itu, kolaborasi antara pelaku industri dan regulator sangat penting dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas.
Disclaimer: Data dalam artikel ini bersifat simulasi berdasarkan tren terkini hingga Januari 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan dinamika pasar dan kebijakan yang berlaku.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













