Meski likuiditas perbankan masih tergolong longgar, fenomena penerbitan obligasi baru oleh bank-bank dalam negeri tetap berjalan aktif. Kondisi ini menunjukkan bahwa bank tidak hanya mengandalkan dana murah dari simpanan masyarakat, tetapi juga memperluas sumber pendanaan sebagai antisipasi terhadap kebutuhan likuiditas jangka panjang.
Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai 13,18% secara tahunan per Februari 2026 menjadi salah satu indikator utama ketersediaan likuiditas yang cukup di sektor perbankan. Namun, pertumbuhan ini sedikit melandai dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatatkan angka 13,48% yoy. Meski begitu, laju pertumbuhan DPK masih lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kredit yang hanya tumbuh 9,37% yoy.
Bank Tetap Butuh Pendanaan Alternatif
Di tengah kondisi likuiditas yang relatif cukup, bank tetap aktif menerbitkan surat utang atau obligasi. Langkah ini bukan sekadar antisipasi, tetapi juga bagian dari strategi pendanaan yang sehat dan berkelanjutan. Penerbitan obligasi memberikan fleksibilitas tambahan dalam memenuhi kebutuhan dana jangka panjang, terutama untuk mendukung ekspansi kredit.
Menurut data Pefindo, pada kuartal I-2026, empat bank telah menerbitkan obligasi senilai total Rp 8,7 triliun. Bahkan, masih ada enam mandat penerbitan obligasi dari sektor perbankan yang belum listing, dengan nilai mencapai Rp 9,18 triliun. Komposisinya cukup seimbang, terdiri dari tiga bank BUMN dan tiga bank swasta.
1. Bank BTN Terus Terbitkan Obligasi
Bank Tabungan Negara (BTN) menjadi salah satu bank yang masih giat menerbitkan obligasi meski telah menerima tambahan likuiditas dari pemerintah sebesar Rp 10 triliun. Direktur Utama BTN, Nixon Napitupulu, menjelaskan bahwa dana tersebut tidak bisa saling menggantikan dengan obligasi.
“Kalau obligasi itu kan panjang (tenornya), bisa lima sampai tujuh tahun. Kalau likuiditas tambahan ini dapat ditarik sewaktu-waktu,” ujar Nixon.
BTN menargetkan penerbitan obligasi sebesar Rp 4 triliun pada semester II-2026. Langkah ini diambil untuk memperkuat likuiditas dan mendukung penyaluran kredit yang masih tumbuh secara agresif.
2. CIMB Niaga Tunda Penerbitan Obligasi
Berbeda dengan BTN, CIMB Niaga saat ini belum memiliki rencana untuk menerbitkan obligasi dalam waktu dekat. Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyatakan bahwa penerbitan obligasi bersifat fleksibel dan hanya dilakukan jika dibutuhkan.
“Obligasi stand by saja hanya jika dibutuhkan. Kami belum melihat ada kebutuhan saat ini,” ucap Lani.
Posisi likuiditas bank saat ini masih solid, dan proyeksi pertumbuhan kredit CIMB Niaga pada tahun ini hanya berkisar antara 3% hingga 5%. Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kredit tahun lalu yang mencapai 4,5%.
3. OJK Catat Likuiditas Bank Masih Sehat
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa likuiditas perbankan masih dalam kondisi sehat. Pertumbuhan DPK yang tinggi menunjukkan bahwa masyarakat masih mempercayai sistem perbankan sebagai tempat penyimpanan dana yang aman.
Selama masa pandemi, dana masyarakat justru banyak mengalir ke bank karena dianggap sebagai safe haven. Meski risiko makro dan industri meningkat, bank pelat merah masih memiliki profil kredit yang solid dengan peringkat tertinggi dan prospek stabil.
Strategi Pendanaan Bank di Tengah Likuiditas Longgar
Bank tidak hanya mengandalkan simpanan masyarakat, tetapi juga terus mengembangkan strategi pendanaan alternatif. Salah satunya adalah melalui penerbitan obligasi. Pendekatan ini memberikan keuntungan ganda: memperkuat struktur pendanaan sekaligus memenuhi kebutuhan dana jangka panjang.
1. Diversifikasi Sumber Pendanaan
Dengan menerbitkan obligasi, bank bisa mengurangi ketergantungan pada dana pihak ketiga. Ini penting karena simpanan masyarakat bisa fluktuatif, terutama dalam kondisi ketidakpastian ekonomi.
2. Mengatur Manajemen Liabilitas
Perbedaan karakteristik antara dana pemerintah dan obligasi membuat bank harus pandai mengelola manajemen liabilitas. Obligasi memberikan tenor yang lebih panjang dan pricing yang lebih fleksibel, sementara dana tambahan dari pemerintah bersifat jangka pendek dan dapat ditarik sewaktu-waktu.
3. Menjaga Keseimbangan Antara Likuiditas dan Kredit
Meski likuiditas terlihat cukup, bank tetap harus memperhitungkan potensi pertumbuhan kredit ke depan. OJK menargetkan pertumbuhan kredit bisa mencapai 10% hingga 12% di akhir tahun. Untuk itu, bank harus memastikan bahwa likuiditas tetap mencukupi untuk mendukung ekspansi tersebut.
Tren Penerbitan Obligasi Bank di Awal 2026
| Nama Bank | Jumlah Penerbitan | Tenor Obligasi | Tujuan Penerbitan |
|---|---|---|---|
| Bank BUMN A | 2 kali | 5-7 tahun | Penguatan likuiditas |
| Bank BUMN B | 1 kali | 10 tahun | Pendanaan proyek infrastruktur |
| Bank Swasta C | 1 kali | 5 tahun | Ekspansi kredit korporasi |
| Bank Swasta D | 1 kali | 7 tahun | Modal kerja dan investasi |
Dampak Penerbitan Obligasi bagi Stakeholder
Penerbitan obligasi oleh bank memiliki dampak yang cukup luas, tidak hanya bagi bank itu sendiri, tetapi juga bagi regulator, lembaga pemeringkat, dan masyarakat luas.
1. Bagi Regulator (OJK)
OJK terus memantau penerbitan obligasi untuk memastikan bank tidak mengambil risiko berlebihan. Dengan likuiditas yang cukup, penerbitan obligasi dianggap sebagai langkah strategis, bukan tanda kekurangan dana.
2. Bagi Lembaga Pemeringkat (Pefindo)
Lembaga pemeringkat seperti Pefindo terus mengamati kualitas penerbitan obligasi. Bank dengan profil kredit kuat dan prospek stabil akan lebih mudah menarik investor melalui obligasi.
3. Bagi Investor
Investor melihat obligasi bank sebagai instrumen investasi yang relatif aman, terutama dari bank pelat merah. Imbal hasil yang ditawarkan pun cukup kompetitif dibandingkan instrumen lain.
Kesimpulan
Meskipun likuiditas perbankan masih longgar, penerbitan obligasi tetap menjadi pilihan strategis bagi banyak bank. Langkah ini bukan hanya soal antisipasi, tetapi juga bagian dari pengelolaan pendanaan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Bank seperti BTN tetap aktif menerbitkan obligasi untuk mendukung ekspansi kredit, sementara bank lain seperti CIMB Niaga menunda penerbitan karena belum melihat kebutuhan mendesak.
Dengan pertumbuhan kredit yang ditargetkan mencapai 10%-12% di akhir tahun, bank harus terus menjaga keseimbangan antara likuiditas dan ekspansi bisnis. Penerbitan obligasi adalah salah satu cara untuk memastikan bahwa pertumbuhan tersebut bisa berjalan tanpa hambatan pendanaan.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga Februari 2026. Kondisi makro ekonomi, kebijakan moneter, dan regulasi dapat berubah sewaktu-waktu dan memengaruhi realisasi angka-angka tersebut.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













