Tegangnya hubungan antara Iran dan Israel-AS kian memanas. Serangan balasan dari Iran terhadap Israel dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku industri maritim. Perairan Teluk Persia, khususnya Selat Hormuz, kini menjadi salah satu kawasan paling berisiko bagi pelayaran global.
Selat Hormuz adalah jalur krusial bagi distribusi energi dunia. Sekitar 20% pasokan minyak mentah global mengalir melalui selat sempit ini setiap hari. Namun, dengan meningkatnya ketegangan, banyak kapal tanker terpaksa menghentikan pelayaran atau mengalihkan rute. Hal ini berdampak langsung pada biaya pengiriman dan stabilitas pasar energi internasional.
Asuransi Maritim Cabut Perlindungan Risiko Perang
Sebagai respons terhadap eskalasi konflik, sejumlah besar perusahaan asuransi maritim memutuskan untuk mencabut perlindungan risiko perang di kawasan Teluk Persia dan sekitarnya. Perlindungan ini mencakup perairan Iran, Israel, serta negara-negara tetangga yang terlibat secara langsung atau tidak langsung dalam ketegangan regional.
1. Perusahaan Asuransi yang Mengambil Tindakan
Beberapa perusahaan asuransi maritim terbesar dunia, termasuk:
- Gard
- Skuld
- NorthStandard
- London P&I Club
- American Club
telah secara resmi mengumumkan pencabutan perlindungan risiko perang. Kebijakan ini mulai berlaku efektif pada 5 Maret 2026, setelah pengumuman resmi dirilis pada 1 Maret.
2. Penyebab Pencabutan Perlindungan
Pencabutan ini terjadi sebagai respons langsung terhadap:
- Serangan balasan Iran terhadap Israel dan AS
- Kerusakan pada tiga kapal tanker
- Kematian satu pelaut
- Penundaan operasional 150 kapal di sekitar Selat Hormuz
Kondisi ini dianggap sebagai situasi perang atau konflik bersenjata, yang secara umum tidak dicakup dalam polis asuransi standar. Meski demikian, beberapa perusahaan seperti Skuld masih menawarkan opsi “buy-back” perlindungan dengan syarat dan premi khusus.
3. Dampak pada Pemilik Kapal
Pemilik kapal yang tetap ingin beroperasi di kawasan berisiko tinggi kini harus:
- Membayar premi asuransi yang jauh lebih mahal
- Menghadapi kemungkinan penolakan klaim jika terjadi insiden
- Mencari perlindungan dari perusahaan asuransi yang bersedia mengambil risiko tinggi
Lonjakan Tarif Pengiriman Minyak
Tanpa perlindungan asuransi yang memadai, risiko operasional meningkat secara signifikan. Banyak pemilik kapal enggan mengirim armadanya ke kawasan tersebut. Hal ini memicu lonjakan tarif pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dari Timur Tengah ke berbagai negara tujuan.
1. Rute Paling Terdampak
Rute paling terpengaruh adalah TD3C, yaitu jalur pengiriman minyak dari Timur Tengah ke Asia. Tarif untuk rute ini telah meningkat hampir tiga kali lipat sejak awal tahun 2026.
2. Biaya Sewa Kapal Tanker
Menurut data dari broker pelayaran, tarif sewa kapal tanker raksasa (VLCC) untuk rute Timur Tengah ke China naik sekitar 4% pada Senin pagi. Tarif tersebut mencapai level W225 dalam skala industri Worldscale, setara dengan minimal US$12 juta.
3. Alternatif Rute dan Dampaknya
Karena ketidakpastian di kawasan Teluk, banyak kapal mulai mengalihkan rute ke selatan melalui Selat Bab el-Mandeb atau bahkan mengambil jalur yang lebih panjang melalui Afrika Selatan. Rute alternatif ini membutuhkan waktu dan biaya tambahan, yang pada akhirnya mendorong tarif pengiriman minyak secara keseluruhan.
Dampak Lebih Luas pada Pasar Energi Global
Lonjakan tarif pengiriman minyak bukan satu-satunya dampak dari konflik ini. Harga minyak mentah global juga terpengaruh langsung. Pada Senin (2/3/2026), harga minyak dunia melonjak hingga 9% dalam sehari.
1. Kenaikan Harga Minyak
Harga minyak Brent dan WTI mencatat kenaikan tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Lonjakan ini disebabkan oleh:
- Gangguan pasokan dari kawasan Teluk
- Spekulasi pasar terhadap eskalasi lebih lanjut
- Kebutuhan negara-negara importir untuk mempercepat pembelian cadangan
2. Permintaan Alternatif
Negara-negara pengimpor minyak seperti China, Jepang, dan India mulai beralih ke sumber alternatif, termasuk minyak dari Amerika Serikat, Afrika Barat, dan Kanada. Namun, rute alternatif ini membutuhkan kapal lebih banyak dan waktu pengiriman yang lebih lama.
3. Dampak pada Harga BBM
Kenaikan harga minyak mentah berpotensi berdampak langsung pada harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara. Pemerintah dan produsen bahan bakar harus menyesuaikan harga eceran dengan fluktuasi biaya produksi dan distribusi.
Reaksi Pasar dan Strategi Jangka Pendek
Industri maritim dan energi global kini berada dalam tekanan tinggi. Banyak perusahaan mulai meninjau ulang strategi operasional mereka untuk mengantisipasi risiko lebih lanjut.
1. Penundaan Pengiriman
Sejumlah besar kapal tanker terpaksa menunda keberangkatan atau menghentikan operasional sementara waktu. Data menunjukkan sekitar 150 kapal telah menjatuhkan jangkar di perairan aman sekitar Selat Hormuz.
2. Peningkatan Permintaan Asuransi Khusus
Beberapa perusahaan asuransi masih menawarkan perlindungan risiko perang dengan syarat khusus dan premi tinggi. Permintaan terhadap polis semacam ini meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir.
3. Perubahan Rute dan Jadwal
Operator pelayaran mulai menyesuaikan jadwal dan rute pengiriman. Beberapa mengalihkan pengiriman ke jalur yang lebih aman, meskipun harus menanggung biaya tambah karena jarak dan waktu tempuh yang lebih lama.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga tanggal publikasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi geopolitik dan kebijakan industri. Data tarif pengiriman dan harga minyak bersifat estimasi berdasarkan sumber terpercaya dan dapat berbeda di pasar nyata.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













