Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau yang dikenal juga sebagai Indonesia Eximbank menetapkan target pertumbuhan penyaluran pembiayaan sebesar 10% pada tahun 2026. Target ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang LPEI untuk terus mendukung ekspor nasional, terutama di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
Direktur Pelaksana Bisnis II LPEI, Sulaeman, menjelaskan bahwa pertumbuhan 10% tersebut akan didorong oleh dua segmen utama, yaitu korporasi dan komersial. Segmen korporasi ditargetkan tumbuh di bawah 10%, sementara segmen komersial yang mencakup Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) diharapkan bisa melampaui angka itu. Pendekatan berimbang ini diharapkan bisa memperkuat portofolio secara keseluruhan.
Strategi LPEI Capai Target Pertumbuhan 10%
Untuk mencapai target tersebut, LPEI tidak sembarangan dalam memilih sektor yang akan dibiayai. Fokus diberikan pada sektor-sektor yang memiliki potensi ekspor kuat dan prospek bisnis yang stabil. Namun, di tengah gejolak geopolitik global, pendekatan selektif ini menjadi semakin penting.
Langkah-langkah strategis yang diambil LPEI mencakup berbagai aspek, mulai dari pengelolaan risiko hingga kolaborasi lintas sektor. Berikut adalah beberapa langkah penting yang tengah dijalankan LPEI:
1. Penguatan Manajemen Risiko
LPEI melakukan stress testing secara berkala untuk memastikan portofolio pembiayaan tetap kuat meski menghadapi berbagai tekanan eksternal. Simulasi ini mencakup skenario seperti perlambatan ekonomi global, fluktuasi nilai tukar, kenaikan suku bunga, hingga penurunan harga komoditas.
2. Diversifikasi Portofolio Pembiayaan
Dengan memperluas basis sektor dan negara tujuan ekspor, LPEI menghindari konsentrasi risiko. Diversifikasi ini tidak hanya mencakup sektor manufaktur, agribisnis, dan pertambangan, tetapi juga distribusi geografis ekspor ke berbagai negara tujuan.
3. Peningkatan Kualitas Proses Pembiayaan
LPEI terus meningkatkan tata kelola internal, termasuk proses pembiayaan dan pemantauan portofolio. Sistem early warning detection juga diterapkan untuk mengantisipasi risiko sejak dini.
4. Pemanfaatan Instrumen Mitigasi Risiko
Asuransi dan penjaminan ekspor menjadi alat penting untuk mengurangi risiko perdagangan internasional. Instrumen ini membantu eksportir mengelola potensi risiko pembayaran dan volatilitas pasar.
5. Penguatan Likuiditas dan Pendanaan
Struktur pendanaan yang fleksibel dan manajemen likuiditas yang kuat menjadi kunci agar LPEI tetap bisa menjaga stabilitas pembiayaan meski terjadi perubahan kondisi pasar.
6. Kolaborasi dengan Lembaga Keuangan
LPEI memperluas kolaborasi dengan lembaga keuangan domestik maupun internasional, termasuk berbagai Export Credit Agencies (ECA) di luar negeri. Kerja sama ini membantu memperbesar kapasitas pembiayaan untuk proyek-proyek ekspor strategis.
Fokus pada Sektor UMKM dan Pengembangan Pipeline
Salah satu fokus utama LPEI dalam mendukung ekspor adalah melalui penguatan sektor UMKM. Sektor ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan kontribusi terhadap ekspor nasional, terutama jika didukung oleh akses pembiayaan yang tepat.
LPEI juga memanfaatkan berbagai asosiasi dan ekosistem ekspor sebagai sumber pipeline calon debitur. Melalui kerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait, LPEI bisa mengidentifikasi eksportir potensial secara lebih efektif.
Kualitas Aset dan Kondisi NPL
Dari sisi kualitas aset, LPEI mencatat penurunan Non Performing Loan (NPL) secara signifikan. Pada tahun 2025, NPL bersih turun menjadi 2,4% dari sebelumnya 4,5% di tahun sebelumnya. Penurunan ini merupakan hasil dari pengelolaan risiko yang disiplin dan pencadangan yang konservatif.
Meski sebagian besar portofolio LPEI masih didominasi oleh sektor strategis seperti manufaktur dan agribisnis, NPL tidak serta merta berasal dari sektor-sektor besar tersebut. Banyak faktor spesifik debitur yang turut memengaruhi kondisi ini.
Data Keuangan LPEI di Tahun 2025
Pada tahun 2025, penyaluran pembiayaan LPEI tumbuh 2% secara year-on-year (YoY), mencapai total Rp 57,2 triliun. Pertumbuhan ini menjadi salah satu penopang utama laba bersih LPEI yang mencapai Rp 252 miliar, naik 8% dibanding tahun sebelumnya.
Berikut ringkasan data keuangan LPEI pada tahun 2025:
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Penyaluran Pembiayaan | Rp 57,2 triliun |
| Pertumbuhan Pembiayaan (YoY) | 2% |
| Laba Bersih | Rp 252 miliar |
| Pertumbuhan Laba Bersih (YoY) | 8% |
| NPL Bersih | 2,4% |
Tantangan Geopolitik dan Respons LPEI
Gejolak geopolitik global menjadi tantangan tersendiri bagi LPEI dalam menjalankan fungsinya. Ketidakpastian ekonomi, konflik regional, hingga kenaikan harga energi dunia bisa berdampak langsung pada eksportir nasional.
Namun, dengan strategi mitigasi risiko yang matang dan kerja sama yang luas, LPEI tetap bisa menjaga stabilitas operasionalnya. Pendekatan yang berfokus pada diversifikasi dan kolaborasi menjadi kunci ketahanan di tengah ketidakpastian.
Kesimpulan
Target pertumbuhan pembiayaan sebesar 10% pada tahun 2026 menunjukkan komitmen LPEI untuk terus mendukung ekspor nasional. Dengan pendekatan yang seimbang antara risiko dan peluang, serta fokus pada sektor UMKM dan diversifikasi portofolio, LPEI berpotensi menjadi salah satu pendorong utama daya saing ekspor Indonesia di masa depan.
Disclaimer: Data dan target yang disebutkan dalam artikel ini bersifat sesuai kondisi dan informasi hingga April 2026. Angka dan rencana ke depan bisa berubah tergantung pada perkembangan ekonomi global dan kebijakan internal LPEI.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













