Finansial

Harga Tiket Pesawat Naik 15 Persen di 2026 Imbas Kenaikan BBM dan Tarif Airport Tax

Rista Wulandari
×

Harga Tiket Pesawat Naik 15 Persen di 2026 Imbas Kenaikan BBM dan Tarif Airport Tax

Sebarkan artikel ini
Harga Tiket Pesawat Naik 15 Persen di 2026 Imbas Kenaikan BBM dan Tarif Airport Tax

kembali mengalami tekanan di tengah dinamika makroekonomi global. Pelemahan nilai tukar ini mulai menarik perhatian kalangan pelaku perbankan. Meski begitu, sejumlah bank menyatakan bahwa dampak langsung terhadap kualitas kredit dan posisi permodalan masih terkendali.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) perbankan pada Februari 2026 tercatat di angka 25,83%. Angka tersebut sedikit turun dibandingkan Februari 2025 yang mencapai 26,95%. Meski mengalami penurunan, level tersebut masih di atas ambang batas minimum yang ditetapkan regulator.

Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross perbankan tetap terjaga di level 2,17% pada Februari 2026. Angka ini bahkan membaik dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencatatkan NPL sebesar 2,22%.

Strategi Bank Menghadapi Rupiah Loyo

1. Selektivitas Penyaluran Kredit Valas

Banyak bank mulai menerapkan pendekatan yang lebih selektif dalam penyaluran kredit . Salah satu contohnya adalah CIMB Niaga. Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyebut bahwa likuiditas valas bank masih dalam kondisi cukup baik. Ini tercermin dari rasio loan to deposit ratio (LDR) valas yang masih berada di bawah 70%.

Penyaluran kredit valas dilakukan secara ketat, terutama kepada debitur yang memiliki pendapatan dalam mata uang yang sama. Dengan begitu, risiko terhadap kualitas aset bisa ditekan secara signifikan.

“Mayoritas kredit valas diberikan karena transaksi dan penghasilan nasabah juga dalam valas, sehingga kualitas aset tetap terjaga secara prudent,” ujar Lani.

2. Penguatan Rasio CAR

Dari sisi permodalan, CIMB Niaga mencatat rasio CAR sebesar 24,8% pada 2025, naik dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 23,3%. Angka ini menunjukkan bahwa bank memiliki buffer yang cukup kuat untuk menyerap potensi tekanan akibat .

KB Bank juga mencatat tren positif. Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, menyebut bahwa pelemahan rupiah belum memberikan dampak material terhadap kualitas kredit perseroan. Ini disebabkan karena portofolio kredit mereka masih didominasi oleh pembiayaan berdenominasi rupiah.

Hingga Desember 2025, porsi kredit valas KB Bank hanya sekitar 13%. Dengan komposisi tersebut, potensi tekanan terhadap kualitas aset akibat volatilitas nilai tukar berada pada level yang terkendali.

3. Evaluasi Risiko dan Stress Test

Meski dampak langsung pelemahan rupiah masih terbatas, perbankan tetap mewaspadai potensi risiko lanjutan. Khususnya bagi debitur yang memiliki eksposur valas namun berpendapatan rupiah.

Untuk itu, bank terus memperkuat manajemen risiko melalui pemantauan ketat terhadap sektor-sektor yang sensitif terhadap perubahan makroekonomi. Evaluasi terhadap risiko dan kecukupan modal juga dilakukan secara rutin.

Selain itu, stress test rutin juga menjadi bagian dari strategi mitigasi risiko. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi berbagai skenario, termasuk potensi kenaikan kredit bermasalah akibat tekanan eksternal.

Sektor yang Perlu Diwaspadai

1. Sektor Ekspor-Impor

Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia, menyebut bahwa sektor ekspor dan impor perlu mendapat perhatian lebih. Pelemahan rupiah dan kenaikan harga komoditas global berpotensi meningkatkan biaya usaha bagi pelaku bisnis di sektor ini.

“Dari sisi impor, biaya pasti naik. Dari ekspor juga biaya pengiriman meningkat. Ini harus dimonitor dampaknya ke debitur,” jelasnya.

2. Sektor Consumer Goods dan Otomotif

Sektor consumer goods, industri plastik, hingga otomotif juga perlu dicermati. Tekanan biaya akibat imported inflation dinilai berpotensi mengganggu kinerja sektor-sektor tersebut.

Di sektor otomotif, misalnya, penjualan dinilai masih menghadapi . Terutama untuk kendaraan non- yang sulit mencatat pertumbuhan penjualan tinggi secara konsisten.

3. Permintaan Kredit yang Tertahan

Pelemahan rupiah juga dapat berdampak terhadap penyaluran kredit perbankan. Dalam situasi ketidakpastian, baik bank maupun korporasi cenderung lebih berhati-hati.

“Permintaan kredit bisa tertahan karena korporasi lebih hati-hati, dan bank juga lebih selektif dalam menyalurkan kredit,” kata Myrdal.

Meski begitu, risiko kredit macet dinilai masih terjaga. Ia memperkirakan rasio NPL tetap berada di level rendah, yakni di bawah 2,35%.

Dukungan Kebijakan dan Peluang Bisnis

1. Kebijakan Moneter dan Makroprudensial

Dukungan dari otoritas dinilai masih cukup membantu. Bank Indonesia yang menahan acuan serta kebijakan insentif makroprudensial dinilai memberikan ruang bagi perbankan untuk tetap ekspansif.

Selain itu, kebijakan pemerintah yang menahan kenaikan harga energi juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan sektor perbankan.

2. Bisnis Treasury dan Valas

Myrdal juga melihat peluang bagi perbankan untuk mengoptimalkan bisnis treasury dan transaksi valuta asing di tengah volatilitas pasar. Produk lindung nilai atau hedging dinilai semakin relevan untuk membantu nasabah mengelola risiko.

“Perbankan bisa memanfaatkan momentum ini dengan menawarkan produk hedging dan memperkuat bisnis valas,” katanya.

Tabel Perbandingan Rasio Keuangan Perbankan (Februari 2025 vs Februari 2026)

Indikator Februari 2025 Februari 2026
CAR (%) 26,95% 25,83%
NPL Gross (%) 2,22% 2,17%
Kredit Valas (KB Bank) 13%

Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi makroekonomi dan laporan resmi otoritas terkait.

Kesimpulan

Perbankan secara umum masih memiliki fundamental yang kuat. Meski , sebagian besar bank mampu menjaga kualitas aset dan rasio permodalan tetap stabil. Strategi selektivitas penyaluran kredit, evaluasi risiko berkala, hingga pemanfaatan produk hedging menjadi kunci dalam menjaga stabilitas operasional.

Namun, tetap perlu kewaspadaan terhadap sektor-sektor yang rentan terhadap tekanan eksternal, seperti ekspor-impor dan consumer goods. Dengan pendekatan yang hati-hati dan dukungan kebijakan yang tepat, sektor perbankan diperkirakan tetap bisa bertahan di tengah ketidakpastian global.

Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan kondisi makroekonomi serta laporan resmi dari otoritas terkait.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.