Finansial

Pertumbuhan Kredit Perbankan untuk Sektor Konstruksi Meningkat Tajam Berkat Dukungan Program Pemerintah

Fadhly Ramadan
×

Pertumbuhan Kredit Perbankan untuk Sektor Konstruksi Meningkat Tajam Berkat Dukungan Program Pemerintah

Sebarkan artikel ini
Pertumbuhan Kredit Perbankan untuk Sektor Konstruksi Meningkat Tajam Berkat Dukungan Program Pemerintah

Kredit perbankan untuk sektor konstruksi terus menunjukkan pertumbuhan yang agresif sepanjang awal tahun 2026. Lonjakan ini tidak lepas dari dorongan program pemerintah yang fokus pada pembangunan infrastruktur dan perumahan. Bank Indonesia mencatat, kredit investasi konstruksi naik hingga 38% secara tahunan pada Januari 2026, sementara kredit (KMK) juga melonjak 32,8% (yoy).

Sebelumnya, dari Januari hingga Oktober 2025, kredit konstruksi justru terlihat stagnan bahkan sempat terkoreksi. Namun sejak November 2025, tren mulai berubah. Lonjakan ini menandakan adanya percepatan realisasi proyek-proyek besar yang direncanakan sejak akhir tahun lalu.

Faktor Pendorong Kredit Konstruksi Naik Signifikan

1. Program FLPP untuk Rumah Masyarakat Berpenghasilan Rendah

Program Fasilitas Likuiditas () menjadi salah satu pendorong utama. Pemerintah menyediakan lebih dari 200.000 unit rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Program ini mendorong developer untuk mempercepat pembangunan, yang pada akhirnya meningkatkan kebutuhan akan kredit konstruksi.

2. Pembangunan SPPG dalam Rangka Program MBG

(MBG) juga turut mendorong kredit konstruksi. Target pembangunan 30.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membutuhkan dana besar dan tentu saja kredit dari perbankan. Meski dampaknya baru terlihat bertahap, proyek ini memberi kontribusi positif terhadap sektor konstruksi.

3. Program 50.000 Koperasi Merah Putih

Program pembangunan 50.000 koperasi merah putih juga turut mendorong permintaan kredit konstruksi. Setiap koperasi membutuhkan bangunan fisik, dan dengan skala sebesar itu, dampaknya terasa signifikan terhadap pertumbuhan kredit sektor ini.

Peran Developer dan Dinamika Musiman

1. Developer Lebih Aktif di Akhir Tahun

Menurut Direktur BTN, Setiyo Wibowo, developer cenderung lebih berhati-hati di awal dan pertengahan tahun. Aktivitas pembangunan biasanya baru meningkat menjelang akhir tahun. Hal ini menjelaskan mengapa lonjakan kredit konstruksi terjadi sejak November 2025.

2. Permintaan KPR yang Terus Naik

Permintaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) juga turut mendorong kredit konstruksi. Semakin banyak masyarakat yang mengajukan KPR, maka semakin besar pula kebutuhan developer untuk membangun unit-unit baru.

Respons Perbankan Terhadap Lonjakan Kredit

1. Penyaluran KUR yang Mendukung Sektor Konstruksi

BTN, sebagai bank yang fokus pada sektor properti, juga meningkatkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (). Penyaluran ini dioptimalkan untuk mendukung pembangunan, sehingga memberi efek langsung pada pertumbuhan kredit konstruksi.

2. Selektivitas dalam Pemberian Kredit

Meski permintaan tinggi, perbankan tetap menjaga prinsip selektivitas. Setiyo menyebut bahwa pihaknya melakukan pengecekan rekam jejak developer serta proyeksi kemampuan eksekusi proyek sebelum menyetujui kredit.

Kredit Konstruksi di Bank Daerah

1. BPD Bali Catat Pertumbuhan Dua Digit

Bank Pembangunan Daerah (BPD) juga ikut merasakan lonjakan kredit konstruksi. Direktur Utama BPD , I Nyoman Sudharma, menyebut pertumbuhan kredit konstruksi mencapai 13,94% pada 2025. Namun, di awal 2026, pertumbuhan ini sempat melambat karena aktivitas pembangunan yang lebih tinggi terjadi di paruh kedua tahun.

Risiko dan Tantangan ke Depan

1. Ancaman Inflasi dan Geopolitik

Pengamat perbankan Trioksa Siahaan mengingatkan bahwa lonjakan kredit konstruksi tidak serta merta berarti positif. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi, risiko kredit macet bisa meningkat. Perbankan harus waspada dalam menyalurkan kredit agar tidak terjebak pada portofolio yang berisiko tinggi.

2. Evaluasi Dampak Jangka Panjang Program Pemerintah

Meski program pemerintah memberi dorongan , ekonom Myrdal Gunarto menilai dampak langsung terhadap kredit belum sepenuhnya terlihat. Perhitungan bisnis perbankan dan realisasi proyek pemerintah memiliki dinamika yang berbeda, sehingga evaluasi jangka panjang tetap diperlukan.

Tabel Perbandingan Pertumbuhan Kredit Konstruksi (YoY)

Segmen Kredit Pertumbuhan (Januari 2026)
Kredit Investasi Konstruksi 38%
Kredit Modal Kerja (KMK) Konstruksi 32,8%

Catatan: Data berdasarkan Bank Indonesia per Januari 2026.

Kesimpulan

Pertumbuhan kredit sektor konstruksi yang agresif sejak akhir 2025 hingga awal 2026 menunjukkan adanya sinergi antara program pemerintah dan aktivitas developer. Namun, di balik pertumbuhan yang positif, tetap ada risiko yang perlu diwaspadai, terutama terkait kualitas portofolio kredit dan tekanan eksternal seperti inflasi serta ketidakpastian global.

Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi terkini hingga 2026. Angka bisa berubah seiring perkembangan kebijakan dan kondisi ekonomi.

Fadhly Ramadan
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.