Perbankan syariah Tanah Air tengah mengambil langkah strategis untuk memperluas pangsa pasar. Salah satu caranya adalah melalui pemanfaatan pasar uang antar bank syariah (PUAS). Dengan instrumen seperti Sertifikat Pengelolaan Dana Berdasarkan Prinsip Syariah Antarbank (SiPA), bank-bank syariah bisa saling bertransaksi secara efisien dan tetap sesuai dengan prinsip syariah.
Transaksi di PUAS memang belum sebesar pasar konvensional, tapi pertumbuhannya cukup menjanjikan. Lembaga Penjamin Simpanan mencatat transaksi PUAS mencapai Rp 6,08 triliun pada Februari 2026, naik dari bulan sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh kebutuhan likuiditas jangka pendek beberapa bank. Terutama di sektor syariah, kehadiran SiPA memberi warna baru dalam dinamika pasar.
Peran SiPA dalam Memperdalam Pasar
SiPA menjadi instrumen penting dalam memperkuat transaksi antar bank syariah. Instrumen ini beragunan dan memberi kepastian hukum bagi pihak-pihak yang terlibat. Bank Indonesia mencatat penggunaan SiPA meningkat dari nihil pada 2020 menjadi sekitar 34% dari total transaksi PUAS. Angka ini menunjukkan bahwa bank mulai melirik instrumen ini sebagai alternatif pengelolaan likuiditas.
Presiden Direktur Aladin Syariah, Koko Tjatur, menyebut bahwa pertumbuhan SiPA adalah progres positif. Ia melihat potensi ini sebagai langkah nyata untuk memperbesar market share perbankan syariah yang masih berada di kisaran 7% hingga 8%. Aladin Syariah sendiri telah menjalin kerja sama dengan Bank Syariah Nasional (BSN) dan BCA Syariah dalam transaksi SiPA senilai sekitar Rp 1 triliun.
Kerja sama ini tidak hanya soal transaksi. Ini juga tentang kolaborasi yang dibutuhkan untuk menggarap potensi pasar yang masih luas. Koko menilai, pemanfaatan SiPA membuat transaksi antar bank syariah lebih efisien dan aman. Selain itu, tetap sesuai dengan prinsip syariah yang menjadi dasar operasional bank.
Likuiditas dan Pembiayaan Bank Syariah
Dengan transaksi PUAS dan SiPA, bank syariah bisa mengelola likuiditas secara lebih baik. Ini penting karena rasio loan to deposit ratio (LDR) masing-masing bank cukup beragam. Per Februari 2026, LDR BSN mencapai 100,32%, Aladin Syariah 49,59%, dan BCA Syariah 82,49% per Maret 2026. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kebutuhan likuiditas tiap bank berbeda.
Direktur Utama BSN, Alex Sofjan Noor, menyebut bahwa likuiditas dari PUAS membantu memenuhi kebutuhan pendanaan bank. Dengan likuiditas yang lebih baik, penyaluran pembiayaan bisa tumbuh positif sepanjang tahun. Pada kuartal I-2026, pembiayaan BSN tumbuh 22% secara tahunan.
Selain KPR yang menjadi andalan, BSN juga fokus pada pembiayaan emas. Dalam tiga bulan pertama 2026, pembiayaan emas melonjak 6.000% secara tahunan menjadi sekitar Rp 120 miliar. Ini menunjukkan bahwa produk pembiayaan non-KPR juga memiliki potensi besar.
1. Peningkatan Transaksi PUAS
Transaksi PUAS meningkat signifikan di awal 2026. Lembaga Penjamin Simpanan mencatat nilai transaksi mencapai Rp 6,08 triliun pada Februari 2026. Kenaikan ini menunjukkan bahwa bank mulai lebih aktif menggunakan pasar uang syariah untuk memenuhi kebutuhan likuiditas.
2. Peran SiPA dalam Likuiditas
SiPA menjadi instrumen andalan dalam transaksi PUAS. Instrumen ini beragunan dan memberi kepastian hukum. Bank Indonesia mencatat penggunaan SiPA meningkat hingga 34% dari total transaksi PUAS. Ini menunjukkan bahwa bank mulai melirik instrumen ini sebagai solusi likuiditas yang sesuai prinsip syariah.
3. Kolaborasi Antara Bank Syariah
Aladin Syariah, BSN, dan BCA Syariah menjalin kerja sama dalam transaksi SiPA senilai Rp 1 triliun. Kolaborasi ini tidak hanya soal transaksi, tapi juga tentang sinergi untuk memperluas market share perbankan syariah.
4. Pengembangan Produk Baru
Aladin Syariah berencana mengembangkan berbagai instrumen baru untuk memperdalam pasar. Meski belum dirinci, langkah ini sejalan dengan blueprint Bank Indonesia yang mendorong pengembangan produk syariah.
5. Penyaluran Pembiayaan yang Positif
Pembiayaan Aladin Syariah tumbuh 7,1% secara tahunan hingga Februari 2026, mencapai Rp 5,3 triliun. Sementara BSN mencatat pertumbuhan pembiayaan sebesar 22% di kuartal I-2026. Ini menunjukkan bahwa likuiditas dari PUAS membantu penyaluran pembiayaan yang lebih optimal.
6. Diversifikasi Produk Pembiayaan
BSN tidak hanya fokus pada KPR. Bank ini juga menargetkan pertumbuhan pembiayaan emas yang lebih agresif. Pada awal 2026, pembiayaan emas melonjak 6.000% menjadi sekitar Rp 120 miliar.
Tantangan dan Prospek Ke Depan
Meski market share perbankan syariah masih terbatas, potensi pertumbuhan sangat besar. Transaksi PUAS dan SiPA menjadi salah satu katalisatornya. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam hal edukasi masyarakat dan pengembangan produk yang lebih inovatif.
Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan terus mendorong pengembangan pasar syariah. Dengan regulasi yang mendukung dan kolaborasi antar bank, prospek perbankan syariah ke depan terlihat cerah. Terlebih dengan pertumbuhan ekonomi syariah yang konsisten dan permintaan masyarakat terhadap produk halal yang terus meningkat.
Tabel Perbandingan LDR Bank Syariah (Februari–Maret 2026)
| Bank | LDR (%) – Periode |
|---|---|
| Bank Syariah Nasional | 100,32% – Februari 2026 |
| Aladin Syariah | 49,59% – Februari 2026 |
| BCA Syariah | 82,49% – Maret 2026 |
Catatan: Data LDR dapat berubah tergantung kondisi likuiditas dan kebijakan masing-masing bank.
Perbankan syariah kini memiliki momentum untuk memperluas pasar. Dengan instrumen seperti SiPA dan kolaborasi antar bank, sektor ini bisa terus tumbuh dan memberi kontribusi lebih besar dalam sistem keuangan nasional. Yang penting, langkah-langkah yang diambil tetap berlandaskan prinsip syariah dan berorientasi pada manfaat jangka panjang.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat perkiraan berdasarkan informasi hingga April 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar dan kebijakan regulator.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













