NVIDIA baru saja memperkenalkan DLSS 5, versi terbaru dari teknologi upscale berbasis AI-nya. Kabar ini seharusnya menggembirakan para gamer dan developer, tapi responsnya malah memicu kritik tajam dari kalangan profesional industri. Banyak yang menilai hasil visual dari DLSS 5 terasa seperti filter AI generik yang mengubah arah artistik sebuah game secara paksa.
Teknologi ini memang dirancang untuk meningkatkan performa dengan frame generation dan AI rendering. Namun, justru di situlah masalahnya. Banyak yang merasa hasil akhirnya terlalu “diproses”, hingga menghilangkan nuansa estetika yang sebenarnya ingin disampaikan oleh developer game.
Apa Itu DLSS 5 dan Mengapa Banyak yang Geram?
DLSS 5 hadir sebagai evolusi dari pendahulunya, DLSS 4.5, dengan fokus utama pada frame generation berbasis AI. Teknologi ini memungkinkan game berjalan lebih lancar dengan frame rate tinggi, bahkan pada resolusi tinggi. Tapi, bukannya membuat semua lebih baik, justru muncul kecaman dari para profesional dan gamer berat.
Banyak yang menyebut teknologi ini sebagai “filter AI sampah” karena hasil visualnya terasa tidak alami. Terutama pada karakter dan elemen dinamis lainnya dalam game. Efek ini terasa seperti hasil dari AI generatif yang hanya “menebak” tampilan visual, bukan menghasilkan sesuatu yang presisi.
1. Cara Kerja DLSS 5 yang Memicu Kontroversi
DLSS 5 menggunakan AI untuk memprediksi gambar berikutnya dalam urutan frame. Ini memungkinkan peningkatan kinerja tanpa perlu GPU bekerja ekstra. Tapi, prediksi tersebut terkadang menghasilkan visual yang justru merusak kesan artistik.
2. Perubahan Visual yang Terlalu Diperhalus
Banyak yang merasa hasil akhir dari DLSS 5 terlalu halus dan “airbrushed”. Ini membuat karakter dan elemen visual lainnya kehilangan tekstur dan detail yang seharusnya ada. Efek ini terutama terlihat pada lighting dan shading yang tampak “dipaksakan”.
3. Kritik dari Developer dan Artis Profesional
Beberapa profesional di industri game juga ikut memberikan kritik. Misalnya Steve Karolewics dari Respawn Entertainment yang menyebut hasil DLSS 5 seperti “filter airbrush berlebihan”. Sementara Jeff Talbot, seorang concept artist, menyebutnya sebagai “filter AI sampah” yang seharusnya tidak menjadi arah masa depan game.
Perbandingan Visual: Sebelum dan Sesudah DLSS 5
Untuk melihat lebih jelas dampak dari DLSS 5, berikut perbandingan visual antara game yang menggunakan dan tidak menggunakan teknologi ini:
| Elemen Visual | Tanpa DLSS 5 | Dengan DLSS 5 |
|---|---|---|
| Detail Tekstur | Jelas dan tajam | Terlihat “diproses” |
| Lighting | Natural dan sesuai art direction | Terlalu halus dan kontras |
| Shadow | Konsisten dan dalam | Tampak “dipaksakan” |
| Wajah Karakter | Ekspresif dan detail | Terlihat “plastik” |
Catatan: Hasil visual bisa berbeda tergantung pada implementasi developer dan versi driver NVIDIA yang digunakan.
Apa Kata Gamer dan Media?
Respons dari komunitas gamer juga tidak kalah keras. Banyak yang merasa bahwa DLSS 5 justru mengurangi pengalaman visual daripada meningkatkannya. Terutama pada game-game dengan art direction yang kuat, seperti Assassin’s Creed Shadows atau Resident Evil Requiem.
Beberapa media teknologi juga ikut mengomentari fenomena ini. Mereka menyebut bahwa NVIDIA mungkin terlalu tergesa-gesa dalam mengimplementasikan AI ke dalam proses rendering, tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap estetika visual.
Kapan dan Bagaimana DLSS 5 Bisa Digunakan?
1. Persyaratan Sistem
Untuk menggunakan DLSS 5, pengguna membutuhkan GPU NVIDIA seri RTX 50 atau yang lebih baru. Driver terbaru juga harus terinstal untuk mendukung fitur frame generation.
2. Game yang Mendukung
Saat ini, beberapa game besar sudah mulai mengadopsi DLSS 5, termasuk:
- Assassin’s Creed Shadows (dirilis 2026)
- Resident Evil Requiem
- Cyberpunk 2077 (update mendatang)
3. Cara Mengaktifkan DLSS 5
- Pastikan GPU dan driver terbaru sudah terpasang.
- Buka pengaturan grafis dalam game.
- Aktifkan DLSS 5 di opsi rendering.
- Pilih mode kualitas atau performa sesuai kebutuhan.
Apakah DLSS 5 Masih Layak Digunakan?
Meski kontroversial, DLSS 5 tetap memiliki nilai manfaat, terutama untuk gamer yang mengutamakan performa daripada visual. Teknologi ini bisa meningkatkan frame rate hingga 2x lipat pada resolusi 4K, tanpa beban berat pada GPU.
Namun, bagi yang peduli pada arah artistik dan estetika visual, mungkin lebih baik menunggu update atau versi yang lebih matang dari teknologi ini. Bisa juga memilih menggunakan DLSS versi sebelumnya yang lebih stabil secara visual.
Penutup: Menuju Keseimbangan antara Performa dan Estetika
DLSS 5 adalah langkah berani dari NVIDIA dalam menghadirkan AI ke proses rendering. Tapi, implementasi yang terburu-buru justru memicu kritik karena mengorbankan kualitas visual demi performa. Untuk ke depannya, dibutuhkan kolaborasi lebih erat antara NVIDIA dan developer game agar teknologi ini bisa memberikan hasil yang seimbang.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat umum dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada update teknologi dan kebijakan NVIDIA.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













