Pembukaan terbatas jalur pelayaran di Selat Hormuz membawa angin segar di tengah ketegangan geopolitik yang berkepanjangan. Meski begitu, akses yang diberikan oleh Iran tidak terbuka lebar untuk semua. Hanya negara tertentu yang mendapat lampu hijau untuk melintas, terutama yang dianggap memiliki hubungan baik atau netral dengan Teheran.
Langkah ini diambil Iran sebagai respons terhadap dinamika konflik regional yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan sejumlah negara Barat. Jalur Selat Hormuz, yang menjadi arteri utama perdagangan minyak global, sempat nyaris mati usai pembatasan ketat diberlakukan. Namun kini, sirkulasi kapal mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan kembali, meski masih sangat terbatas.
Negara-Negara yang Diizinkan Melintas
Iran tidak serta merta membuka akses pelayaran tanpa syarat. Negara-negara yang boleh melintas umumnya dipilih berdasarkan hubungan diplomatik dan tingkat kepercayaan terhadap rezim Teheran. Berikut daftar negara yang dikabarkan mendapat izin khusus untuk mengirimkan kapal melalui Selat Hormuz.
1. China
China menjadi salah satu negara utama yang masih aktif menggunakan jalur Selat Hormuz. Hubungan diplomatik yang erat antara Beijing dan Teheran memungkinkan kapal-kapal Tiongkok untuk terus beroperasi di kawasan, terutama untuk pengiriman minyak dan gas.
2. India
India juga masuk dalam daftar negara yang diizinkan melintas. Negara ini memiliki kebutuhan energi yang besar dan sebagian pasokannya masih bergantung pada impor dari Iran. Meski ada tekanan dari AS, New Delhi tampaknya memilih untuk tetap menjalin hubungan energi dengan Teheran.
3. Pakistan
Pakistan, sebagai tetangga Iran, juga mendapat perlakuan khusus. Hubungan bilateral yang stabil dan kebutuhan energi domestik membuat Islamabad tetap menggunakan jalur ini meski dengan kewaspadaan tinggi.
4. Turki
Turki turut mendapat lampu hijau dari otoritas Iran. Setidaknya satu kapal berbendera Turki dikabarkan berhasil melintas setelah mendapat izin khusus. Hal ini mencerminkan upaya Ankara untuk menjaga hubungan seimbang dengan Teheran di tengah tekanan Barat.
5. Yunani
Meski bukan negara dengan hubungan dekat, kapal milik operator Yunani juga sempat melintas. Kapal tersebut dikabarkan mengangkut minyak dari Iran ke India, dan berhasil mendapat izin dari pihak Iran. Ini menunjukkan bahwa akses tidak sepenuhnya tertutup bagi negara non-sekutu, selama memenuhi syarat tertentu.
Kriteria Akses dan Batasan yang Diberlakukan
Iran tidak memberikan akses pelayaran secara sembarangan. Ada sejumlah pertimbangan dan syarat yang harus dipenuhi sebelum kapal boleh melintas. Berikut beberapa kriteria utama yang digunakan oleh otoritas Iran dalam menentukan siapa yang boleh lewat.
1. Hubungan Diplomatik
Negara yang memiliki hubungan baik atau netral dengan Iran lebih diutamakan. Hubungan diplomatik yang harmonis menjadi faktor utama dalam pemberian izin.
2. Tujuan Pengiriman
Kapal yang mengangkut barang strategis, terutama energi seperti minyak dan gas, lebih mudah mendapat akses. Tujuan akhir pengiriman juga menjadi pertimbangan, terutama jika menuju negara yang bersahabat dengan Iran.
3. Status Kapal dan Bendera
Kapal yang terdaftar di bawah bendera negara netral atau sekutu lebih diutamakan. Kapal dengan bendera negara Barat umumnya dihindari atau dikenai pembatasan ketat.
Dampak pada Pasar Energi Global
Penurunan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz sejak konflik memuncak sempat membuat gejolak besar di pasar energi global. Jalur ini biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Ketika aktivitas berkurang lebih dari 95%, dampaknya langsung terasa.
Harga minyak global melonjak, mencatatkan kenaikan lebih dari 40% dibandingkan sebelum konflik. Lonjakan ini tidak hanya memengaruhi negara-negara pengimpor besar, tetapi juga berdampak pada biaya energi domestik di berbagai belahan dunia.
Iran sendiri menegaskan bahwa pembukaan terbatas ini bukan berarti normalisasi total. Jalur tetap terbuka, tapi hanya bagi pihak-pihak yang dianggap tidak bermusuhan.
Perbandingan Aktivitas Pelayaran Sebelum dan Sesudah Pembatasan
Berikut tabel yang menunjukkan perbandingan jumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz sebelum dan sesudah pemberlakuan pembatasan oleh Iran.
| Periode | Rata-rata Kapal/Hari | Keterangan |
|---|---|---|
| Sebelum Konflik (2022) | 210 kapal | Jalur aktif, akses terbuka |
| Saat Pembatasan Ketat (2023) | <10 kapal | Akses dibatasi, sebagian besar kapal menghindari kawasan |
| Setelah Pembukaan Terbatas (2024) | 30-50 kapal | Akses terbatas, hanya untuk negara tertentu |
Penutup
Pembukaan terbatas Selat Hormuz oleh Iran menunjukkan bahwa meski ketegangan masih tinggi, jalur strategis ini belum sepenuhnya ditutup. Negara-negara dengan hubungan baik atau kepentingan energi yang mendesak masih bisa melintas, meski harus melewati serangkaian syarat ketat.
Namun, situasi ini masih sangat dinamis. Kebijakan Iran bisa berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan konflik regional. Pasar energi global pun tetap waspada, karena setiap perubahan kecil di Selat Hormuz bisa berdampak besar pada harga minyak dan stabilitas perdagangan internasional.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi di lapangan. Data yang digunakan bersumber dari laporan media internasional dan intelijen maritim yang tersedia hingga April 2024.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.







