Nasib Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu kembali menjadi sorotan menjelang tahun 2027. Pasalnya, kebijakan penanggungan gaji yang selama ini diterapkan hanya bersifat sementara hingga akhir 2026. Banyak pihak mulai mempertanyakan kelanjutan skema pendanaan ini, terutama di tengah ketidakpastian anggaran daerah.
Kebijakan tersebut memang memberikan angin segar, terutama bagi ribuan tenaga pendidik honorer yang selama ini hidup dengan pendapatan di bawah standar. Namun, tanpa kepastian jangka panjang, kekhawatiran soal pemutusan pendanaan mulai mengemuka. Apalagi, tidak semua daerah mampu menyerap dan menindaklanjuti kebijakan dari pusat secara optimal.
Kondisi Terkini Gaji PPPK Paruh Waktu
Saat ini, gaji PPPK paruh waktu ditanggung langsung oleh pemerintah pusat melalui berbagai skema bantuan, termasuk dana Bantuan Operasional Sekolah Pusat (BOSP). Namun, penanggungan ini hanya berlaku hingga akhir 2026. Setelah itu, pemerintah daerah diharapkan bisa mengambil alih sepenuhnya. Sayangnya, tidak semua daerah siap dengan transisi ini.
1. Penetapan Gaji Masih di Bawah UMK
Banyak PPPK paruh waktu, khususnya di sektor pendidikan, masih menerima gaji yang jauh di bawah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK). Padahal, mereka menjalankan tugas yang sama dengan PPPK atau ASN penuh waktu. Kondisi ini memicu ketidakadilan dalam sistem penghasilan aparatur sipil negara.
2. Keterbatasan Anggaran Daerah
Pemerintah daerah masih menghitung-hitung kemampuan anggaran untuk menampung seluruh PPPK paruh waktu. Banyak daerah mengaku belum siap secara finansial untuk mengambil alih beban gaji ini secara penuh. Terlebih, dana BOSP yang selama ini menjadi penopang, akan berakhir pada Desember 2026.
3. Kurangnya Sosialisasi Kebijakan
Salah satu akar masalah yang sering disoroti adalah minimnya sosialisasi kebijakan dari pusat ke daerah. Banyak kepala sekolah dan pengelola pendidikan di tingkat bawah bahkan tidak mengetahui secara pasti skema penanggungan gaji yang berlaku. Ini membuat pelaksanaan kebijakan menjadi tidak maksimal.
Apa yang Terjadi pada 2027?
Tahun 2027 menjadi titik kritis bagi nasib PPPK paruh waktu. Tanpa kepastian anggaran dari pemerintah pusat, banyak daerah berpotensi mengurangi jumlah PPPK atau bahkan melakukan pemutusan kontrak. Ini adalah skenario yang sangat mungkin terjadi, terutama di daerah dengan kondisi keuangan yang rapuh.
1. Risiko Pemutusan Kontrak
Jika tidak ada kebijakan lanjutan dari pemerintah pusat, daerah berhak memutus kontrak PPPK paruh waktu. Ini akan berdampak langsung pada ribuan tenaga pendidik yang selama ini bergantung pada pendapatan ini untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
2. Penurunan Kualitas Pendidikan
Pemutusan kontrak atau pengurangan jam kerja PPPK paruh waktu bisa berdampak pada kualitas layanan pendidikan. Banyak sekolah yang saat ini mengandalkan tenaga ini untuk mengisi kekosongan guru atau tenaga kependidikan. Jika mereka pergi, beban kerja akan bergeser ke tenaga yang tersisa.
3. Kebijakan Daerah yang Tidak Seragam
Tanpa arahan yang jelas dari pusat, setiap daerah akan memiliki kebijakan berbeda. Ada yang tetap menampung PPPK paruh waktu, ada juga yang memilih mengurangi jumlah atau menghentikan kontrak. Ini menciptakan ketimpangan dalam perlakuan di antara daerah.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski situasi terlihat suram, masih ada ruang untuk harapan. Kebijakan penanggungan gaji sementara adalah langkah awal yang bisa menjadi fondasi kebijakan jangka panjang. Namun, diperlukan langkah konkret dari pemerintah pusat agar transisi ke 2027 berjalan mulus.
1. Evaluasi Kebijakan Bantuan
Pemerintah perlu mengevaluasi efektivitas skema bantuan seperti BOSP. Jika ternyata bantuan ini efektif menopang gaji PPPK paruh waktu, maka seharusnya ada mekanisme untuk diteruskan atau dialihkan ke bentuk anggaran rutin.
2. Penyusunan Anggaran Jangka Panjang
Pemerintah daerah perlu mulai menyusun anggaran jangka panjang yang mencakup penghasilan PPPK paruh waktu. Ini penting agar tidak terjadi pemutusan kontrak secara tiba-tiba dan memastikan kesejahteraan tenaga pendidik tetap terjaga.
3. Penguatan Koordinasi Vertikal
Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah perlu diperkuat. Sosialisasi kebijakan harus dilakukan secara masif dan menyeluruh, agar semua pihak memahami hak dan kewajiban terkait penanggungan gaji PPPK paruh waktu.
Perbandingan Skema Gaji PPPK Paruh Waktu
Berikut adalah perbandingan skema gaji PPPK paruh waktu sebelum dan setelah penanggungan dari pusat:
| Aspek | Sebelum Penanggungan (2024–2025) | Selama Penanggungan (2026) | Proyeksi 2027 |
|---|---|---|---|
| Sumber Gaji | Anggaran daerah | Bantuan pusat (BOSP, dll) | Anggaran daerah kembali |
| Besaran Gaji | Di bawah UMK | Mendekati UMK | Tidak pasti |
| Ketersediaan | Tidak merata | Relatif merata | Bergantung daerah |
| Kekhawatiran | Pemutusan kontrak | Ketergantungan bantuan | Pemutusan kontrak |
Tips untuk PPPK Paruh Waktu Menghadapi 2027
Bagi PPPK paruh waktu, penting untuk mempersiapkan diri menghadapi ketidakpastian di tahun depan. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan:
1. Pantau Kebijakan dari Pemerintah
Selalu ikuti perkembangan kebijakan dari Kementerian Dalam Negeri dan Kemendikbudristek. Informasi yang didapat bisa menjadi bekal untuk mengambil langkah strategis.
2. Bangun Jaringan dengan Rekan Sejawat
Komunikasi dengan rekan-rekan PPPK paruh waktu lainnya bisa memberikan informasi terkini dan saling mendukung dalam menghadapi perubahan.
3. Siapkan Alternatif Pendapatan
Jangan terlalu bergantung pada satu sumber pendapatan. Mulailah mempertimbangkan peluang tambahan, baik secara formal maupun informal.
4. Tingkatkan Kompetensi
Semakin banyak keterampilan yang dimiliki, semakin besar peluang untuk mendapatkan pekerjaan lain jika terjadi pemutusan kontrak.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan kondisi dan kebijakan yang berlaku hingga April 2026. Kebijakan pemerintah bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Data dan proyeksi yang disajikan bersifat estimasi dan belum menjadi keputusan resmi dari pemerintah. Pembaca disarankan untuk selalu mengacu pada sumber resmi untuk informasi terbaru.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













