Ramadan bukan sekadar soal menahan lapar dan dahaga. Di balik puasa yang dilakukan umat Muslim setiap tahunnya, ada pesan mendalam tentang kesholehan yang sejati. Pesan itu disampaikan langsung oleh Dr. H. Sidik, M.Ag., Dekan Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUAD) Universitas Islam Negeri Datokarama Palu saat memberikan tausiyah di malam ke-14 Ramadan, Selasa, 3 Maret 2026.
Acara digelar di Masjid Raya Baitul Khairaat dan dihadiri jemaah yang menjalani rutinitas ibadah Ramadan dengan penuh konsentrasi dan ketenangan. Dalam tausiyah bertajuk “Menakar Makna Kesholehan dalam Islam”, Dr. Sidik menyoroti bahwa kesholehan bukanlah hal yang bisa dinilai dari luar. Ia bukan sekadar soal rajin salat atau disiplin puasa.
Menurutnya, kesholehan yang utuh mencakup keseimbangan dua hal penting: hubungan vertikal dengan Allah (hablumminallah) dan hubungan horizontal dengan sesama manusia (hablumminannas). Ini bukan teori baru, tapi sering kali dilupakan di tengah kesibukan ritual yang kadang cenderung mekanistis.
Empat Aspek Kesholehan dalam Kehidupan Sehari-hari
Mendalami makna kesholehan berarti juga memahami bagaimana ia bisa diwujudkan dalam praktik nyata. Dr. Sidik menjelaskan bahwa ada empat aspek inti yang harus diperhatikan agar kesholehan itu tidak sekadar omong kosong.
1. Ibadah yang Dilandasi Khusyuk dan Ikhlas
Ibadah yang benar bukan yang paling banyak jumlahnya, tapi yang paling tulus niatannya. Salat lima waktu, puasa Ramadan, atau bahkan sedekah, semua akan sia-sia jika tidak didasari khusyuk dan ikhlas. Ini adalah fondasi utama dari hubungan seseorang dengan Sang Khalik.
2. Kesalehan Sosial yang Nyata
Seorang muslim yang shaleh tidak hanya peduli pada dirinya sendiri. Ia juga memiliki tanggung jawab terhadap sesama. Memberi makan orang lapar, membantu tetangga, atau sekadar tersenyum pada orang lain, adalah bentuk kesholehan yang tak kalah penting.
3. Menjaga Lisan dari Ucapan Buruk
Lisan yang liar bisa merusak semua kebaikan yang telah dilakukan. Meskipun seseorang rajin ibadah, jika lidahnya kerap menyakiti orang lain, maka nilai ibadahnya pun bisa jadi tercoreng. Karenanya, menjaga ucapan adalah salah satu cara konkret menjaga kesholehan.
4. Membersihkan Hati dari Sifat Terlarang
Hati yang dipenuhi sifat buruk seperti dengki, iri, sombong, atau riya, akan sulit menerima cahaya keimanan. Membersihkan hati dari sifat-sifat ini adalah langkah penting agar amalan diterima dan nilai ibadah meningkat.
Pentingnya Introspeksi Diri di Bulan Ramadan
Bulan suci ini bukan cuma soal puasa dan tarawih. Ramadan adalah waktu emas untuk introspeksi diri. Saat tubuh dipaksa menahan nafsu, saat pikiran lebih tenang, itulah momen tepat untuk mengevaluasi diri. Apakah selama ini sudah cukup baik dalam menjalin hubungan dengan Allah? Bagaimana dengan hubungan dengan sesama?
Dr. Sidik menekankan bahwa kesholehan bukan tujuan akhir, tapi proses yang terus-menerus dilakukan. Dan proses itu tidak akan pernah selesai jika tidak dimulai dari evaluasi diri yang jujur.
Kesholehan Harus Seimbang: Antara Ibadah dan Sosial
Salah satu poin penting yang disampaikan dalam tausiyah adalah bahwa kesholehan tidak bisa hanya fokus pada satu sisi. Ada yang namanya ekstrem religius tapi sosialnya mandul. Sebaliknya, ada juga yang aktif di masyarakat tapi jarang menyentuh Al-Qur’an. Yang benar adalah keseimbangan.
| Aspek | Deskripsi |
|---|---|
| Hablumminallah | Hubungan langsung dengan Allah SWT, diwujudkan lewat ibadah, doa, tilawah, dan dzikir. |
| Hablumminannas | Hubungan dengan manusia, diwujudkan lewat sikap ramah, tolong-menolong, dan kepedulian sosial. |
Tanpa keduanya, kesholehan akan terasa timpang. Ibarat motor, jika hanya satu roda yang berputar, maka motor itu tidak akan bisa melaju dengan stabil.
Tips Menyeimbangkan Kehidupan Spiritual dan Sosial
Bagi mereka yang ingin menjalani Ramadan dengan lebih bermakna, berikut beberapa tips sederhana yang bisa dicoba:
-
Tetapkan target harian
Misalnya, membaca 1 juz Qur’an dan melakukan satu kebaikan sosial tiap hari. -
Catat perkembangan diri
Bisa dalam bentuk jurnal ringkas untuk merefleksikan apa yang sudah dan belum dilakukan. -
Ikut kegiatan sosial
Seperti membantu di posko takjil, mengajar anak yatim, atau mengunjungi tetangga lanjut usia. -
Kontrol emosi dan ucapan
Latih diri untuk tidak mudah marah atau berkata kasar, terutama saat lapar karena puasa. -
Rajin introspeksi
Luangkan waktu di akhir hari untuk mengevaluasi apa yang sudah dilakukan dan mana yang perlu diperbaiki.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini bersumber dari tausiyah yang disampaikan oleh Dr. H. Sidik, M.Ag., pada malam ke-14 Ramadan 2026. Data dan konteks bisa berubah seiring waktu, terutama dalam interpretasi makna kesholehan yang bisa berbeda-beda tergantung konteks sosial dan individu. Artikel ini dimaksudkan sebagai dokumentasi dan inspirasi, bukan sebagai panduan mutlak dalam beribadah.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













