Upaya menekan angka stunting di Kota Palu terus digalakkan dengan serius. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah melalui Rembuk Stunting yang dipimpin langsung oleh Wakil Wali Kota Palu, Imelda Liliana Muhidin. Pertemuan ini digelar di Auditorium Kantor Wali Kota Palu pada Selasa, 10 Maret 2026, sebagai wujud komitmen pemerintah daerah dalam menangani masalah kesehatan yang berdampak pada kualitas generasi mendatang.
Hadir dalam kegiatan ini berbagai pihak penting yang terlibat dalam penanganan stunting. Di antaranya adalah Guru Besar Biokimia Gizi Universitas Tadulako, Kepala Balai Besar BPOM, perwakilan BPS Kota Palu, BKKBN, para kepala OPD, kepala puskesmas, dan stakeholder terkait lainnya. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa penurunan stunting membutuhkan sinergi lintas sektor dan komitmen bersama dari berbagai pihak.
Fokus Baru Penanganan Stunting: Masa Kehamilan
Rembuk Stunting kali ini membawa arah yang lebih spesifik. Wakil Wali Kota Palu menegaskan bahwa penanganan stunting harus dimulai sejak dini, khususnya pada masa kehamilan. Ini menjadi fokus utama agar intervensi yang dilakukan lebih efektif dan berkelanjutan.
Pendekatan ini diambil karena faktor gizi dan kesehatan ibu selama masa kehamilan sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan janin. Jika ibu hamil mendapat asupan gizi yang baik serta pelayanan kesehatan yang memadai, risiko terjadinya stunting pada bayi bisa ditekan sejak lahir.
1. Evaluasi Capaian Penurunan Stunting Tahun Sebelumnya
Sebelum menetapkan strategi baru, penting untuk melihat sejauh mana keberhasilan program yang telah dijalankan. Evaluasi ini mencakup data angka stunting di delapan kecamatan prioritas Kota Palu, serta kendala yang dihadapi di lapangan.
2. Penguatan Peran Camat dan Stakeholder Lokal
Delapan kecamatan di Kota Palu menjadi zona fokus penanganan stunting. Masing-masing camat diminta aktif memaparkan perkembangan program di wilayahnya. Hal ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi dan memastikan program berjalan sesuai target.
3. Penyuluhan Kesehatan untuk Ibu Hamil dan Calon Ibu Hamil
Langkah konkret lainnya adalah memperbanyak kegiatan penyuluhan kesehatan yang ditujukan bagi ibu hamil dan calon ibu hamil. Materi yang disampaikan mencakup pentingnya asupan gizi seimbang, imunisasi, serta pemeriksaan kehamilan secara rutin.
Strategi Jangka Panjang Menuju Generasi Bebas Stunting
Penanganan stunting bukan hanya soal angka. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa. Dengan fokus pada masa kehamilan, diharapkan tidak hanya angka stunting yang turun, tapi juga kualitas SDM di masa mendatang meningkat secara signifikan.
4. Peningkatan Akses Layanan Kesehatan Ibu dan Anak
Salah satu pilar utama dalam pencegahan stunting adalah akses layanan kesehatan yang mudah dan berkualitas. Pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan ketersediaan fasilitas kesehatan, khususnya di wilayah terpencil dan rawan stunting.
5. Kolaborasi dengan Institusi Pendidikan dan Penelitian
Universitas Tadulako, yang diwakili oleh Guru Besar Biokimia Gizi, menjadi mitra penting dalam memberikan masukan ilmiah dan pendampingan teknis. Kolaborasi ini diharapkan bisa memperkuat fondasi program dengan data dan metode yang terpercaya.
6. Pemanfaatan Data untuk Pengambilan Keputusan
Data dari BPS dan BPOM menjadi alat bantu penting dalam mengevaluasi efektivitas program. Dengan data yang akurat dan terkini, kebijakan yang diambil bisa lebih tepat sasaran dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Tantangan di Lapangan
Meski sudah banyak langkah yang diambil, masih ada sejumlah tantangan di lapangan. Beberapa wilayah masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia di puskesmas, minimnya edukasi gizi di kalangan masyarakat, serta rendahnya partisipasi ibu hamil dalam program kesehatan.
7. Peningkatan Literasi Gizi Masyarakat
Masyarakat perlu diberi pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya gizi seimbang sejak masa kehamilan. Edukasi ini bisa dilakukan melalui posyandu, media lokal, dan tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh.
8. Penguatan Peran Kader Kesehatan
Kader kesehatan di tingkat kelurahan dan kecamatan memiliki peran penting dalam mendekatkan layanan kesehatan ke masyarakat. Mereka perlu didukung dengan pelatihan rutin dan akses ke sumber informasi terbaru.
Komitmen Bersama Menuju Target Nasional
Melalui Rembuk Stunting ini, diharapkan terbangun komitmen yang lebih kuat dari seluruh pihak untuk menurunkan angka stunting. Target nasional untuk mencapai prevalensi stunting di bawah 14% pada tahun 2024 membutuhkan kerja keras dan kolaborasi yang sinergis.
9. Penyusunan Roadmap Jangka Menengah
Roadmap penanganan stunting disusun dengan melibatkan berbagai pihak. Roadmap ini mencakup target jangka pendek hingga menengah, serta indikator keberhasilan yang bisa dipantau secara berkala.
10. Monitoring dan Evaluasi Berkala
Untuk memastikan program berjalan efektif, monitoring dan evaluasi dilakukan setiap triwulan. Data yang dikumpulkan akan menjadi bahan evaluasi dan penyempurnaan program secara berkelanjutan.
Tabel Capaian dan Target Penurunan Stunting di Kota Palu
| Tahun | Prevalensi Stunting | Target Nasional | Target Kota Palu | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
| 2023 | 22,5% | 19% | 18% | Melewati target nasional |
| 2024 | 19,8% | 17% | 16% | Menuju target |
| 2025 | 17,2% | 15% | 14% | Target kota hampir tercapai |
| 2026 | 15,0% (estimasi) | 14% | 13% | Target kota tercapai |
Disclaimer: Data dalam tabel bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung pada pelaksanaan program dan kondisi lapangan.
Kesimpulan
Langkah-langkah yang diambil oleh Pemerintah Kota Palu melalui Rembuk Stunting menunjukkan komitmen serius dalam menurunkan angka stunting. Dengan fokus pada masa kehamilan dan kolaborasi lintas sektor, diharapkan Kota Palu bisa menjadi contoh dalam pencapaian target nasional. Namun, kesuksesan program ini sangat bergantung pada keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat serta dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.












