Penyaluran kredit sektor konstruksi oleh Bank Central Asia (BCA) mencatat pencapaian penting di akhir tahun 2025. Jumlah kredit yang disalurkan untuk sektor ini mencapai Rp 43,7 triliun, naik 11,9% secara tahunan dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan komitmen BCA dalam mendukung pertumbuhan ekonomi melalui sektor konstruksi yang dinilai memiliki potensi besar.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Heryn, menyatakan bahwa bank tetap menjaga prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit. Pendekatan ini dilakukan agar ekspansi kredit tetap sehat dan seimbang dengan likuiditas yang ada. BCA juga memperhatikan dinamika makroekonomi domestik maupun global agar risiko kredit tetap terkendali.
Pertumbuhan Kredit Konstruksi di Tengah Dinamika Ekonomi
Peningkatan kredit konstruksi BCA tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang mendorong penyaluran kredit ini, termasuk adanya proyek-proyek infrastruktur besar yang digulirkan pemerintah serta permintaan dari pelaku usaha konstruksi yang mulai pulih pasca-pandemi.
Selain itu, data dari Bank Indonesia per Januari 2026 menunjukkan bahwa kredit konstruksi untuk tujuan investasi naik 38% secara tahunan. Sementara itu, kredit modal kerja (KMK) di sektor konstruksi juga tumbuh 32,8% (yoy). Ini menunjukkan bahwa sektor ini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang kuat.
1. Penyaluran Kredit Investasi Konstruksi
Kredit investasi merupakan salah satu pilar utama dalam pertumbuhan sektor konstruksi. Di tahun 2025, BCA mencatat peningkatan signifikan dalam penyaluran kredit investasi ini. Hal ini didukung oleh proyek-proyek infrastruktur besar yang menjadi prioritas nasional seperti jalan tol, bandara, dan hunian komersial.
2. Kredit Modal Kerja (KMK) untuk Sektor Konstruksi
Selain investasi, kredit modal kerja juga menjadi andalan bagi pelaku usaha konstruksi untuk menjalankan operasional harian. Peningkatan KMK sebesar 32,8% menunjukkan bahwa aktivitas bisnis di sektor ini kembali menggeliat.
3. Peningkatan Sejak November 2025
Sebelum November 2025, kredit konstruksi sempat mengalami stagnasi bahkan kontraksi. Namun sejak November, terjadi lonjakan yang cukup signifikan. Ini bisa jadi dipicu oleh mulai bergairahnya proyek-proyek pemerintah serta meningkatnya kepercayaan pelaku usaha.
Perbandingan Kredit Konstruksi BCA dengan Bank Lain
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut adalah perbandingan kredit konstruksi BCA dengan beberapa bank besar lainnya di tahun 2025:
| Bank | Kredit Konstruksi (2025) | Pertumbuhan (YoY) |
|---|---|---|
| BCA | Rp 43,7 Triliun | 11,9% |
| BTN | Rp 381,03 Triliun | 10,5% |
| BPD Bali | Rp 15 Triliun | 12,3% |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai laporan resmi masing-masing bank.
Faktor Pendorong Kenaikan Kredit Konstruksi
Beberapa faktor mendukung peningkatan kredit konstruksi di tahun 2025. Pertama, adanya dorongan dari pemerintah dalam pembangunan infrastruktur nasional. Kedua, kondisi makroekonomi yang mulai stabil memberikan kepercayaan lebih bagi pelaku usaha untuk mengajukan kredit.
1. Proyek Infrastruktur Pemerintah
Proyek-proyek infrastruktur seperti jalan tol, bandara, dan hunian komersial menjadi motor penggerak utama. BCA mendukung proyek-proyek ini melalui penyaluran kredit yang cepat dan efisien.
2. Kebijakan Moneter yang Mendukung
Bank Indonesia juga memberikan dukungan melalui kebijakan moneter yang ramah terhadap sektor riil. Ini membuka peluang lebih besar bagi bank untuk menyalurkan kredit secara lebih luas.
3. Permintaan dari Pelaku Usaha
Permintaan dari pelaku usaha konstruksi yang mulai pulih pasca-pandemi juga menjadi faktor penting. Semakin banyak proyek yang digarap, semakin besar kebutuhan akan kredit.
Strategi BCA dalam Menyalurkan Kredit Konstruksi
BCA tidak sembarangan dalam menyalurkan kredit. Ada beberapa strategi yang diterapkan agar penyaluran kredit tetap sehat dan berkelanjutan.
1. Pendekatan Prudent dalam Penyaluran Kredit
BCA menerapkan pendekatan yang hati-hati dalam menyalurkan kredit. Ini dilakukan untuk meminimalkan risiko macet dan menjaga keseimbangan antara likuiditas dengan ekspansi kredit.
2. Analisis Risiko yang Ketat
Setiap pengajuan kredit dikaji secara ketat, terutama dalam hal kapasitas pelaku usaha dan prospek proyek yang akan dibiayai. Ini memastikan bahwa kredit yang disalurkan memiliki potensi pengembalian yang baik.
3. Kolaborasi dengan Pemerintah dan Swasta
BCA juga menjalin kolaborasi dengan pemerintah dan pelaku usaha swasta untuk memastikan proyek-proyek yang didanai memiliki dampak ekonomi yang luas.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski pertumbuhan kredit konstruksi terlihat positif, ada beberapa tantangan yang masih dihadapi. Salah satunya adalah ketidakpastian ekonomi global yang bisa memengaruhi likuiditas dan risiko kredit.
Selain itu, kenaikan suku bunga acuan BI juga bisa memengaruhi daya beli pelaku usaha. Namun, BCA tetap optimis bisa menghadapi tantangan ini dengan strategi yang tepat dan pendekatan yang prudent.
Proyeksi Kredit Konstruksi di Tahun 2026
BCA memperkirakan kredit konstruksi akan terus tumbuh di tahun 2026. Bank ini akan terus mendukung sektor ini dengan menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan pengelolaan risiko.
1. Ekspansi Kredit yang Sehat
BCA akan terus menyalurkan kredit secara sehat dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan risiko yang ada. Ini memastikan bahwa kredit yang disalurkan memberikan dampak positif bagi ekonomi nasional.
2. Dukungan untuk Proyek Strategis
Bank akan terus mendukung proyek-proyek strategis nasional, terutama yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
3. Penguatan Teknologi dalam Layanan Kredit
BCA juga terus mengembangkan teknologi dalam layanan kreditnya. Ini memungkinkan proses pengajuan dan penyaluran kredit menjadi lebih cepat dan efisien.
Kesimpulan
Pencapaian kredit konstruksi BCA sebesar Rp 43,7 triliun di tahun 2025 merupakan cerminan dari komitmen bank dalam mendukung sektor riil. Dengan pendekatan yang prudent dan strategi yang matang, BCA berhasil menjaga pertumbuhan kredit tetap positif meski di tengah dinamika ekonomi yang kompleks.
Disclaimer: Data dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan laporan resmi dari BCA dan Bank Indonesia.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













