Pertamina kembali menunjukkan kemampuan manajemen krisisnya di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat di kawasan Timur Tengah. Melalui unit usaha Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP), perusahaan berhasil mengevakuasi 19 perwira dari dua lokasi berbeda, yaitu Basra, Irak dan Dubai, Uni Emirat Arab. Proses ini memakan waktu hingga dua minggu karena adanya pembatasan penerbangan di beberapa negara tetangga.
Langkah antisipatif ini diambil seiring eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, yang berpotensi memengaruhi keamanan personel lapangan. PIEP bekerja sama erat dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Luar Negeri RI dan sejumlah Kedutaan Besar Republik Indonesia di kawasan, untuk memastikan evakuasi berjalan aman dan terkoordinasi.
Evakuasi Personel: Respons Cepat di Tengah Ketidakpastian
Situasi geopolitik yang dinamis memaksa Pertamina untuk mengambil langkah darurat. Tidak hanya memantau perkembangan situasi secara real-time, perusahaan juga langsung mengaktifkan protokol keselamatan yang telah disiapkan sebelumnya. Koordinasi lintas divisi dan instansi menjadi kunci utama dalam menjaga keselamatan personel lapangan.
1. Aktivasi Emergency Response Team (ERT)
Segera setelah mendapat informasi terkait serangan AS-Israel terhadap Iran, Pertamina Irak Eksplorasi & Produksi (PIREP) langsung mengaktifkan Emergency Response Team (ERT). Tim ini bertugas memantau situasi secara intensif dan mengevaluasi potensi risiko terhadap operasional di lapangan.
2. Koordinasi Strategis dengan KBRI dan Kementerian Luar Negeri
PIREP tidak bekerja sendirian. Komunikasi intensif dilakukan dengan KBRI di Baghdad, Kuwait City, Riyadh, dan Abu Dhabi. Koordinasi ini dilakukan untuk memastikan informasi terbaru selalu didapat dan jalur evakuasi tetap aman.
3. Penyusunan Jalur Evakuasi Alternatif
Karena sejumlah bandara di Kuwait, Dubai, dan Doha ditutup, jalur darat menjadi pilihan utama. Personel dari Basra diberangkatkan menuju perbatasan Safwan, lalu melanjutkan perjalanan ke Kuwait, kemudian ke Dammam, Saudi Arabia. Dari sana, mereka terbang ke Jeddah dan akhirnya kembali ke Jakarta.
4. Penyampaian Informasi ke Keluarga
Selain fokus pada keselamatan personel, PIEP juga memastikan keluarga tetap mendapat informasi terkini. Hotline 24 jam disediakan untuk memberikan dukungan psikologis dan informasi kepada keluarga para perwira yang dievakuasi.
Profil Operasional Pertamina di Irak
Wilayah operasional Pertamina di Irak berada di Blok West Qurna-1 (WQ-1), salah satu ladang minyak raksasa di dunia. Lokasi ini berjarak sekitar 50 km barat laut Kota Basra dan dikelola oleh PIREP sejak 2013. Perusahaan mengelola blok ini melalui skema Technical Service Contract (TSC) hingga 2045.
Model Kontrak TSC vs PSC
Skema TSC yang digunakan di WQ-1 berbeda dengan Production Sharing Contract (PSC) yang umum diterapkan di Indonesia. Berikut perbandingan keduanya:
| Aspek | Technical Service Contract (TSC) | Production Sharing Contract (PSC) |
|---|---|---|
| Risiko | Ditanggung oleh pemerintah | Ditanggung oleh kontraktor |
| Pembayaran | Berdasarkan jasa teknis | Berdasarkan hasil produksi |
| Keuntungan | Biaya tetap, risiko rendah | Potensi keuntungan tinggi, risiko tinggi |
Skema TSC dipilih karena dinilai lebih stabil di tengah ketidakpastian geopolitik. Model ini memungkinkan Pertamina untuk fokus pada operasional tanpa terlalu terbebani risiko finansial yang tinggi.
Mitra Operasional di Blok WQ-1
Operasional di Blok WQ-1 tidak hanya melibatkan Pertamina. Ada beberapa mitra strategis yang turut serta, antara lain:
- Petrochina: Kontraktor utama saat ini
- Basra Oil Company: Mitra lokal dari Irak
- Itochu Corporation: Perusahaan Jepang yang memiliki saham
- OEC State Partner: Mitra dari Oman
Sebelumnya, ExxonMobil Iraq Limited juga menjadi kontraktor utama di blok ini sebelum mengalihkan peran kepada Petrochina.
Perlindungan Personel: Komitmen Jangka Panjang
Keselamatan personel bukan sekadar protokol darurat. Pertamina telah menanamkan budaya HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) sebagai bagian dari operasional sehari-hari. Setiap langkah di lapangan selalu mempertimbangkan aspek keselamatan, termasuk antisipasi terhadap risiko geopolitik.
Direktur Utama PIEP, Syamsu Yudha, menekankan bahwa perlindungan personel adalah prioritas utama. Selain itu, perusahaan juga terus memperbarui Business Continuity Plan (BCP) untuk memastikan operasional tetap berjalan meski dalam kondisi darurat.
Dampak Evakuasi terhadap Operasional
Meski personel dievakuasi, Pertamina memastikan operasional di lapangan tetap berjalan. Tim yang tersisa di lokasi dilengkapi dengan peralatan darurat dan protokol komunikasi yang terjaga. Selain itu, manajemen rantai pasok dan logistik tetap dijaga agar tidak terjadi gangguan produksi.
Evakuasi ini juga menjadi pembelajaran bagi perusahaan dalam menyusun strategi mitigasi risiko di masa depan. Evaluasi menyeluruh dilakukan untuk memperbaiki prosedur dan mempercepat waktu respons jika terjadi situasi serupa.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini bersifat terbuka dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Data dan jadwal evakuasi merupakan hasil rekonstruksi berdasarkan laporan resmi Pertamina dan instansi terkait per 13 Maret 2026.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.







