Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, memandang pentingnya kepemimpinan baru di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk segera membangun kembali kepercayaan pasar. Pasalnya, beberapa waktu lalu, pasar keuangan Tanah Air sempat mengalami tekanan cukup signifikan, terutama di sektor pasar modal. Harapan ini muncul menyusul penetapan pimpinan baru OJK yang telah melewati proses uji kepatutan dan kelayakan di DPR.
Menurut Josua, siapa pun yang nantinya memimpin OJK harus mampu bergerak cepat dan menunjukkan konsistensi dalam kebijakan. Kepemimpinan yang tegas dan transparan menjadi kunci agar pelaku pasar bisa kembali optimis terhadap regulasi dan arah kebijakan sektor jasa keuangan ke depan.
Harapan Pasar Terhadap Kepemimpinan Baru OJK
Kepercayaan pasar bukan hal yang bisa dibangun dalam semalam. Apalagi setelah beberapa waktu lalu, sektor keuangan menghadapi tantangan besar, terutama di pasar modal. Maka dari itu, penting bagi pimpinan baru OJK untuk langsung mengambil langkah strategis yang bisa memberi sinyal positif.
Josua menilai, kepemimpinan baru harus langsung fokus pada pekerjaan rumah yang mendesak. Ini bukan soal perubahan besar, tapi pembenahan yang cepat dan tepat sasaran agar pasar bisa kembali stabil dan kondusif.
1. Mempercepat Transformasi Pasar Modal
Salah satu PR besar yang harus segera dituntaskan adalah transformasi pasar modal. Ini mencakup berbagai aspek seperti transparansi kepemilikan saham, klasifikasi investor, hingga aturan free float. Pembenahan ini penting agar investor, baik domestik maupun asing, bisa melihat pasar modal Indonesia sebagai tempat yang teratur dan terpercaya.
2. Memperkuat Satgas Reformasi Integritas Pasar Modal
Langkah kedua adalah mempercepat pembentukan satuan tugas reformasi integritas pasar modal. Satgas ini diharapkan bisa menjadi garda depan dalam menjaga kredibilitas pasar, serta menangani berbagai praktik yang tidak sehat di bursa efek.
3. Memperkuat Pengawasan Perbankan
Di sektor perbankan, pengawasan tetap menjadi poin penting. Terutama di segmen BPR dan bank daerah yang dinilai masih rentan terhadap risiko. Fakta bahwa sejumlah BPR akhir-akhir ini dicabut izinnya menunjukkan bahwa pengawasan yang ketat dan berkelanjutan sangat diperlukan.
4. Memastikan Transmisi Penurunan Suku Bunga Berjalan Efektif
Salah satu perhatian Josua adalah bagaimana kebijakan penurunan suku bunga bisa benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas. Ini berkaitan dengan fungsi intermediasi bank yang harus berjalan optimal agar stimulus moneter bisa berdampak langsung ke lapangan.
5. Mengurangi Risiko Siber dan Melindungi Konsumen
Di era digital seperti sekarang, risiko siber menjadi ancaman nyata. OJK perlu memastikan bahwa industri jasa keuangan memiliki sistem keamanan yang kuat. Selain itu, perlindungan konsumen juga harus terus ditingkatkan agar masyarakat tidak menjadi korban praktik keuangan yang merugikan.
Penetapan Pimpinan Baru OJK
Sebelumnya, Komisi XI DPR RI telah menyetujui lima nama calon pimpinan OJK periode 2026–2031. Penetapan ini dilakukan melalui proses uji kepatutan dan kelayakan yang ketat. Friderica Widyasari Dewi ditunjuk sebagai Ketua OJK menggantikan Mahendra Siregar.
Friderica dinilai mampu menunjukkan kinerja baik selama menjabat sebagai Pejabat Sementara Ketua OJK. Meski dalam periode yang singkat, ia mampu merespons beberapa isu penting di sektor jasa keuangan, khususnya pasar modal.
Susunan Pimpinan OJK Terpilih
Berikut adalah susunan pimpinan OJK yang disetujui Komisi XI DPR RI:
- Ketua OJK: Friderica Widyasari Dewi
- Wakil Ketua OJK: Hernawan Bekti Sasongko
- Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon: Hasan Fawzi
- Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD): Adi Budiarso
- Kepala Eksekutif Edukasi dan Perlindungan Konsumen: Dicky Kartikoyono
Peran Strategis dalam Konsolidasi Industri
Selain itu, pimpinan baru juga dituntut untuk memastikan bahwa proses konsolidasi industri bisa berjalan tanpa mengganggu kepercayaan publik. Termasuk dalam hal penguatan modal minimum yang harus dilakukan secara bertahap dan tidak terburu-buru.
Tantangan di Depan
Menjadi pemimpin OJK saat ini bukan perkara mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari menjaga stabilitas sistem keuangan hingga memastikan pertumbuhan kredit yang sehat. Tapi dengan kepemimpinan yang tegas dan transparan, banyak hal bisa dibenahi dalam waktu singkat.
Menjaga Momentum Pemulihan
Pasar keuangan Indonesia punya potensi besar untuk pulih dan tumbuh lebih kuat. Tapi semua itu butuh sinergi antara regulator, pelaku industri, dan masyarakat. Kepemimpinan baru OJK bisa menjadi katalisator dalam proses ini.
Yang jelas, harapan besar tertuju pada sosok-sosok baru di tubuh OJK. Mereka tidak hanya dituntut untuk menjaga stabilitas, tapi juga membangun kepercayaan yang sempat goyah. Tantangan besar, tapi bukan tidak mungkin untuk diwujudkan.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat terkini sesuai dengan perkembangan hingga Maret 2026. Nama-nama dan keputusan pimpinan OJK masih dapat berubah tergantung hasil Rapat Paripurna DPR RI. Data dan pernyataan dalam artikel ini dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













