Pasaran saham domestik masih berada dalam zona aman. Meski ada gejolak di Timur Tengah dan tekanan dari sentimen global, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai tidak ada indikasi kepanikan berlebihan dari pelaku pasar. Anggota Dewan Komisioner OJK, Hasan Fawzi, menyebut bahwa pergerakan saham belakangan ini lebih merupakan penyesuaian alami terhadap dinamika eksternal, bukan tanda-tanda krisis.
Investor asing pun masih terlihat aktif. Dalam periode 1 hingga 6 Maret 2026 saja, catatan OJK mencatat pembelian bersih sebesar Rp2,23 triliun. Jika dihitung hingga 10 Maret, angka itu bisa mencapai Rp3,3 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia masih menarik di mata investor global, meski tekanan dari luar terus terasa.
Stabilitas Pasar dan Kebijakan OJK
OJK tidak tinggal diam menghadapi fluktuasi pasar. Sejak era ketidakpastian akibat kebijakan perdagangan global hingga dampak pandemi, sejumlah langkah stabilisasi telah diterapkan. Tujuannya jelas: menjaga agar pasar tetap stabil dan terhindar dari volatilitas ekstrem.
Beberapa kebijakan yang masih aktif antara lain izin buyback saham tanpa perlu rapat umum pemegang saham, pelarangan short selling, serta mekanisme auto rejection yang bersifat asimetris. Semua ini dirancang agar pasar bisa lebih tahan terhadap goncangan eksternal.
Hasan Fawzi menegaskan bahwa hingga kini, kebijakan-kebijakan tersebut masih efektif. Belum ada kebutuhan untuk mengetat aturan lebih lanjut, meski OJK terus memantau perkembangan.
1. Izin Buyback Saham Tanpa RUPS
Salah satu instrumen yang digunakan adalah izin bagi emiten untuk melakukan pembelian kembali saham tanpa melalui RUPS. Ini memungkinkan perusahaan untuk cepat merespons ketidakstabilan pasar dan memberikan nilai tambah kepada pemegang saham.
2. Larangan Short Selling
Praktik short selling yang berpotensi memicu penurunan harga saham secara masif dilarang. Ini membantu menjaga agar tidak terjadi tekanan jual berlebihan yang bisa memicu panic selling.
3. Mekanisme Auto Rejection Asimetris
Mekanisme ini membatasi transaksi yang dianggap tidak wajar, terutama yang bisa memicu volatilitas tiba-tiba. Dengan sistem asimetris, hanya transaksi beli yang dibatasi, sementara penjualan tetap bisa berjalan normal.
Aktivitas Pasar Saham Tetap Tinggi
Selain catatan pembelian bersih investor asing, aktivitas perdagangan harian juga menunjukkan kondisi pasar yang masih sehat. Rata-rata nilai transaksi harian di pasar saham domestik sempat mendekati Rp30 triliun per 6 Maret 2026. Angka ini naik 65,31 persen secara year to date.
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Pembelian bersih investor asing (1-6 Maret 2026) | Rp2,23 triliun |
| Estimasi pembelian bersih hingga 10 Maret 2026 | Rp3,3 triliun |
| Rata-rata transaksi harian (per 6 Maret 2026) | Rp30 triliun |
| Pertumbuhan transaksi harian (ytd) | 65,31% |
Data ini menunjukkan bahwa meski ada volatilitas, minat terhadap pasar modal Indonesia tetap tinggi. Investor lokal maupun asing masih aktif bertransaksi, dan likuiditas pasar terjaga dengan baik.
Perlukah Kebijakan Tambahan?
OJK saat ini belum merasa perlu mengetat kebijakan. Namun, Hasan Fawzi menyebut bahwa tim pengawas terus memantau situasi. Jika tekanan dari luar semakin besar, OJK siap mengambil langkah antisipatif.
“Kebijakan yang sudah ada masih cukup efektif. Tapi kami tetap waspada. Jika diperlukan, kami bisa saja mempertimbangkan kebijakan tambahan,” ujar Hasan.
Faktor yang Terus Dipantau
Beberapa faktor menjadi fokus pengawasan OJK, antara lain:
- Eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah
- Kebijakan perdagangan global, terutama dari Amerika Serikat
- Sentimen investor terhadap pasar Asia Tenggara
- Pergerakan indeks harga saham secara harian
Indikator Pasar yang Stabil
Meski ada tekanan, beberapa indikator menunjukkan bahwa pasar masih dalam kondisi terkendali:
- Nilai transaksi harian tetap tinggi
- Pembelian bersih investor asing masih positif
- Tidak ada lonjakan penarikan dana secara masif
- Indeks harga saham belum menyentuh batas kritis
Penutup
Pasaran saham domestik saat ini masih menunjukkan tanda-tanda stabilitas meski ada tekanan dari luar. OJK terus memantau dan siap mengambil langkah jika diperlukan, namun untuk saat ini, kebijakan yang ada sudah cukup menopang pasar.
Investor pun masih menunjukkan minat, terbukti dari nilai transaksi yang tinggi dan pembelian bersih asing yang terus tercatat. Semua ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia tetap menjadi pilihan yang menarik, meski di tengah ketidakpastian global.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan pasar dan kebijakan yang berlaku.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













