Harga minyak dunia kembali turun pada Rabu pagi, setelah sebelumnya sempat melonjak tajam akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Brent, sebagai acuan harga minyak global, tercatat berada di kisaran USD87,57 per barel, turun 0,26 persen dari penutupan sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penurunan ke level USD83,08 per barel.
Penurunan ini terjadi setelah Badan Energi Internasional (IEA) mengusulkan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarahnya. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap lonjakan harga yang dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Serangan udara yang intens oleh koalisi AS-Israel ke Iran pada Selasa lalu memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia.
Dampak Geopolitik terhadap Harga Minyak Mentah
Ketegangan di Timur Tengah selalu berdampak langsung pada harga minyak global. Pasalnya, kawasan ini menjadi salah satu pusat produksi dan distribusi minyak terbesar di dunia. Ketika situasi memanas, investor dan produsen langsung merespons dengan menaikkan harga sebagai antisipasi gangguan pasokan.
Iran dan negara-negara Teluk lainnya menyuplai sekitar 15 juta barel minyak per hari ke pasar global. Namun, dengan adanya konflik bersenjata, jalur pengiriman seperti Selat Hormuz menjadi rawan. Selat ini merupakan jalur kritis yang dilalui lebih dari 20% minyak dunia.
1. Lonjakan Harga Menjelang Pelepasan Cadangan
Pada Senin, harga minyak sempat melonjak hingga ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir, yakni USD119 per barel. Lonjakan ini terjadi karena investor khawatir akan terputusnya pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia. Pasar langsung merespons dengan harga tinggi sebagai bentuk antisipasi risiko.
2. Respons Badan Energi Internasional (IEA)
Untuk menstabilkan pasar, IEA mengumumkan rencana pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarahnya. Langkah ini bertujuan untuk menekan harga yang terlalu tinggi dan mengurangi tekanan pada ekonomi global yang masih berusaha pulih dari berbagai tekanan makroekonomi.
3. Peran Amerika Serikat dan Sekutu
Amerika Serikat dan negara-negara G7 lainnya turut serta dalam upaya stabilisasi harga minyak. AS bahkan mengirim pasukan untuk mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz jika diperlukan. Namun, Angkatan Laut AS menolak permintaan pengawalan dari sejumlah perusahaan pelayaran karena risiko serangan masih dianggap terlalu tinggi.
Perbandingan Harga Minyak Dunia
Berikut adalah perbandingan harga minyak mentah global sebelum dan sesudah lonjakan serta penurunan terbaru:
| Tanggal | Jenis Minyak | Harga (USD/barel) | Keterangan |
|---|---|---|---|
| 9 Maret 2026 | Brent | 88,50 | Stabil sebelum eskalasi |
| 11 Maret 2026 | Brent | 87,57 | Penurunan setelah pelepasan cadangan |
| 9 Maret 2026 | WTI | 84,20 | Stabil sebelum eskalasi |
| 11 Maret 2026 | WTI | 83,08 | Penurunan seiring Brent |
Faktor yang Mempengaruhi Harga Minyak Global
Harga minyak tidak hanya ditentukan oleh pasokan dan permintaan. Ada sejumlah faktor lain yang turut memengaruhi fluktuasinya, terutama dalam jangka pendek.
1. Ketidakpastian Geopolitik
Ketegangan antarnegara, seperti yang terjadi antara AS-Israel dan Iran, sering kali memicu lonjakan harga minyak. Investor langsung merespons dengan antisipasi gangguan pasokan, yang berdampak pada kenaikan harga secara global.
2. Kebijakan Cadangan Minyak
Pelepasan cadangan minyak darurat oleh negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan anggota IEA dapat menurunkan harga secara signifikan. Namun, efeknya biasanya bersifat jangka pendek jika tidak diikuti dengan peningkatan produksi jangka panjang.
3. Permintaan Global
Permintaan minyak yang tinggi dari negara-negara berkembang seperti China dan India juga dapat mendorong harga naik. Sebaliknya, perlambatan ekonomi global bisa menekan permintaan dan berujung pada penurunan harga.
Prediksi Harga Minyak ke Depan
Beberapa lembaga riset memperkirakan bahwa harga minyak bisa kembali naik jika ketegangan di Timur Tengah tidak kunjung mereda. Wood Mackenzie, misalnya, memperkirakan harga bisa mencapai USD150 per barel jika pasokan dari kawasan Teluk terganggu secara signifikan.
Namun, jika situasi membaik dan cadangan minyak berhasil menstabilkan pasar, harga bisa kembali ke kisaran USD80 hingga USD90 per barel dalam beberapa minggu ke depan.
Tips Memahami Fluktuasi Harga Minyak
Memahami dinamika harga minyak bisa membantu dalam pengambilan keputusan investasi atau perencanaan anggaran, terutama bagi pelaku industri yang bergantung pada energi.
1. Pantau Isu Geopolitik
Ketegangan antarnegara penghasil minyak besar bisa langsung memengaruhi harga. Pantau perkembangan di kawasan seperti Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara.
2. Cek Data Produksi dan Cadangan
Data produksi minyak dari OPEC dan non-OPEC serta laporan cadangan minyak darurat dari IEA bisa memberi gambaran arah harga ke depan.
3. Ikuti Kebijakan Makroekonomi Global
Kebijakan bank sentral seperti Federal Reserve atau ECB juga bisa memengaruhi harga minyak melalui dampaknya pada mata uang dan inflasi.
Harga minyak dunia memang sangat dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dengan memahami konteks di balik fluktuasinya, akan lebih mudah untuk mengantisipasi dampaknya terhadap ekonomi dan investasi.
Disclaimer: Data harga minyak dan kondisi geopolitik bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan kondisi terkini dan mungkin tidak mencerminkan situasi terbaru.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













