Bank of England kini berada di bawah tekanan besar. Lonjakan harga energi global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi mengacaukan rencana disinflasi yang sedang berjalan. Inflasi Inggris, yang sempat mulai mereda, kini terancam kembali menyentuh angka 3% menjelang akhir tahun 2026.
Pergerakan harga minyak mentah Brent yang mendekati USD95 per barel menjadi sorotan utama. Penutupan Selat Hormuz, jalur kritis distribusi minyak dan LNG global, dikhawatirkan bisa memicu kenaikan harga yang lebih tajam. Apalagi, kawasan itu menjadi titik rawan akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Dampak Geopolitik Terhadap Stabilitas Ekonomi Inggris
Lonjakan harga energi bukan fenomena baru. Namun, kali ini konteksnya berbeda. Alih-alih gas alam seperti pada krisis 2022, guncangan saat ini datang dari sektor minyak mentah dan jalur pengiriman maritim. Ini membawa risiko inflasi yang lebih luas, terutama pada sektor barang dan transportasi.
-
Peningkatan biaya impor energi
Inggris masih bergantung pada impor energi. Lonjakan harga minyak mentah secara otomatis menaikkan biaya produksi dan distribusi barang. Efek domino pun terjadi, termasuk pada tarif utilitas rumah tangga. -
Perlambatan pertumbuhan ekonomi
Saat harga naik, daya beli masyarakat tertekan. Permintaan konsumsi menurun, dan investasi ikut melambat. Hasilnya? Pertumbuhan ekonomi terhambat, sementara inflasi tetap tinggi — situasi yang dikenal sebagai stagflasi. -
Perubahan ekspektasi pasar
Investor mulai meragukan komitmen Bank of England untuk menurunkan suku bunga. Pasar swap kini memperkirakan bahwa suku bunga akan tetap tinggi lebih lama, bahkan hingga 2027.
Risiko Inflasi Mendekati 3 Persen
Deutsche Bank memperkirakan bahwa kenaikan harga minyak sebesar 10% bisa menaikkan inflasi inti Inggris antara 0,2 hingga 0,3 poin persentase dalam waktu enam hingga 12 bulan. Angka ini terdengar kecil, tapi dampaknya bisa signifikan, terutama jika tren kenaikan berkelanjut.
| Faktor | Dampak terhadap Inflasi |
|---|---|
| Lonjakan harga minyak | +0,2 – 0,3% dalam 6–12 bulan |
| Gangguan logistik maritim | Menaikkan biaya distribusi barang |
| Kenaikan tarif utilitas | Mendorong inflasi konsumen |
| Perlambatan ekonomi | Mengurangi daya beli masyarakat |
Inflasi yang tinggi dan pertumbuhan yang lesu adalah kombinasi berbahaya. Jika kondisi ini berlangsung lama, potensi kontraksi ekonomi bisa mencapai 0,4% pada tahun 2026, menurut proyeksi Deutsche Bank.
Tantangan Bank of England dalam Menyeimbangkan Kebijakan
Komite Kebijakan Moneter (MPC) BoE kini berada di posisi sulit. Di satu sisi, ekonomi Inggris masih rapuh. Di sisi lain, tekanan inflasi terus meningkat. Siklus pelonggaran yang direncanakan pun terancam harus ditunda.
-
Menahan diri dari pemotongan suku bunga
Biasanya, bank sentral menurunkan suku bunga untuk merangsang ekonomi. Namun, jika inflasi terus naik, langkah itu justru bisa memperburuk situasi. -
Mengantisipasi efek putaran kedua
Jika harga energi tetap tinggi, bisa memicu tuntutan upah yang lebih tinggi dari pekerja. Ini akan menciptakan lingkaran inflasi-upah yang sulit dihentikan. -
Menyesuaikan proyeksi pertumbuhan
BoE mungkin perlu merevisi estimasi pertumbuhan ekonomi ke bawah. Proyeksi yang realistis penting untuk menjaga kepercayaan pasar.
Pergerakan Mata Uang dan Sentimen Pasar
Sterling sempat menguat terhadap dolar AS, didorong oleh antisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat dari BoE. Namun, penguatan ini bisa bersifat sementara. Jika gangguan energi berlangsung lama, produksi industri bisa terganggu, dan nilai mata uang pun bisa kembali melemah.
-
GBP/USD menunjukkan ketahanan sementara
Pasangan mata uang ini belum menunjukkan tanda-tanda volatilitas ekstrem, tapi tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik. -
Indeks saham FTSE 100 tertekan
Investor cenderung menjual saham-saham sensitif terhadap risiko ekonomi. FTSE 100 turun 0,85% pada perdagangan Senin, menandakan adanya ketidakpastian pasar. -
Swap rate memberi sinyal ketidakpastian
Pasar mulai memperhitungkan kemungkinan suku bunga tetap tinggi. Ini mencerminkan ekspektasi bahwa BoE tidak akan cepat-cepat mengambil langkah pelonggaran.
Strategi Jangka Pendek untuk Menghadapi Ketidakpastian
Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, strategi adaptif menjadi kunci. Baik bagi pemerintah maupun pelaku pasar, penting untuk memiliki rencana respons cepat jika kondisi memburuk.
-
Memperkuat cadangan energi nasional
Cadangan minyak dan gas yang cukup bisa menjadi buffer jika pasokan internasional terganggu. -
Mendorong efisiensi energi di sektor industri
Program insentif untuk efisiensi energi bisa membantu mengurangi beban biaya produksi. -
Mengelola ekspektasi publik dan investor
Transparansi dari otoritas moneter dan fiskal penting untuk menjaga stabilitas pasar.
Kesimpulan
Ancaman inflasi akibat ketegangan di Timur Tengah bukan isu yang bisa disepelekan. Bank of England harus siap menghadapi skenario terburuk, termasuk stagflasi dan perlambatan ekonomi. Keputusan kebijakan ke depannya akan sangat menentukan arah ekonomi Inggris dalam beberapa bulan ke depan.
Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi tersedia hingga Maret 2026. Situasi geopolitik dan ekonomi bisa berubah sewaktu-waktu, sehingga angka dan prediksi bisa berbeda dari realitas aktual.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













